31
Oct
11

Baru Muncul, Bau: Dijauhi dan Didekati

Here the story begins…

Saya berangkat dari rumah ke kampus dengan sepupu saya naik motor. Sebagai penumpang yang tidak memiliki andil apa-apa dalam proses perpindahan ke tempat tujuan, saya biasa melihat ‘pemandangan’ di kiri dan kanan jalan untuk mengisi waktu 5-10 menit perjalanan sampai akhirnya tiba di kampus UI.

Biasanya saya melihat pemandangan yang sama setiap harinya, sampai kira-kira sebulan kemarin saya lihat ada sesuatu yang baru menghiasi lingkungan dari sekitar rumah saya (Perumahan Beji Permai-red) sampai kampus UI. Pertama kali saya dan sepupu saya lewat lahan kosong yang dipenuhi rumput liar itu, sekumpulan bapak-bapak sedang mempersiapkan potongan bambu sebagai material utama ‘sesuatu’ yang akan dibangun. Kali kedua saya lewat ‘bangunan’ itu sudah jadi. Sampai akhirnya, kalau diperhatikan dan dihitung-hitung, sepanjang perjalanan saya berangkat dari rumah ke kampus (dan memang biasanya di sepanjang/pinggir jalanan) ada lebih dari 5 ‘bangunan’ baru yang sudah tegak berdiri.

Sebentar lagi Hari Raya Idul Adha. ‘Bangunan’ baru berbentuk kandang-kandang hewan yang dibuat secara sederhana dan fungsional ini (hanya ada kandang dan tempat duduk/beristirahat penjaga kandang) pastinya sudah menghiasi sepanjang jalanan-jalanan lain, tidak hanya sepanjang jalanan rumah saya-jalan tanah baru-jalan kukel-kampus UI. Banyaknya kandang-kandang yang dibangun dengan hampir serentak ini pastinya memberi pengaruh yang besar untuk lingkungannya dan manusia yang ada disekitarnya. Kalau untuk saya pribadi, munculnya kandang-kandang sapi, kambing dan hewan ternak lain ini (sebut saja kandang-sapi-dkk) memberi pengaruh awal yaitu menjadi reminder bahwa salah satu hari besar umat muslim akan tiba. Reminder yang baik untuk saya-yang-karena-rutinitas kegiatan sehari-hari suka lupa waktu (lupa tanggal dan lupa waktu penting maupun hari-hari besar :()

Namun munculnya kandang-sapi-dkk ini ternyata memberi pengaruh yang berbeda pada teman saya. Tidak seperti biasanya, Jum’at kemarin saya nebeng teman saya yang juga kuliah di UI, naik motor. Di perjalanan berangkat itu kami melewati jalanan yang biasa saya lewati dengan sepupu saya, saya kaget dia mendadak mengeluarkan suara:
“Eefhhh” (sambil tangannya menutup hidung)
Kepala saya maju “Kenapa, Ven?”
“Bau” (dia menggas motor lebih dibanding sebelumnya)

Itu adalah kandang pertama yang kami lewati. Tuing. Terpikir oleh saya mengamati perilakunya terhadap kandang-kandang berikutnya yang akan kami lewati. Lumayan, saya belum dapat sesuatu yang bisa saya tulis untuk postingan blog Architecture & Everyday😀

Dan dia berkali-kali melakukan hal yang sama. Menutup hidung, menggas lebih. Menutup hidung, menggas lebih. Menutup hidung, menggas lebih. (Hal ini hanya ia lakukan ketika melewati kandang-sapi-dkk tentu saja :D). Berbeda dengan sepupu saya, perilakunya terhadap keberadaan kandang tersebut tidak seperti ini. Setelah saya pikir-pikir, sepertinya karena: pertama, kecepatan motor yang dikendarai sepupu saya lumayan-selalu- tinggi sehingga tidak ada kesempatan untuknya-dan-saya yang dibonceng untuk mencium aroma kandang-sapi-dkk. Yang kedua: walaupun saya tidak memiliki bukti ilmiah akan hal ini, berdasarkan pengalaman, biasanya perempuan yang lebih sensitif terhadap aroma-aroma tidak sedap dan bertindak langsung dalam menanggapinya seperti menutup hidung atau menjauh dari sumber aroma😀. Saya juga cenderung seperti itu ketika melewati kandang-sapi-dkk dengan berjalan kaki, saya akan mempercepat langkah kaki saya untuk segera menjauh hingga sampai di zona aman-tidak ada bau sapi dkk.

Tentu saja perilaku menjauh dari kandang-sapi-dkk ini merupakan perilaku sampingan dari orang-orang yang tidak memiliki kepentingan terhadap kandang-sapi-dkk ini. Sedangkan bagi para penjual yang berjaga di kandang-sapi-dkk serta para pembeli dan-calon-pembeli yang membeli dan-akan-membeli yang berniat menunaikan kewajiban mereka, mereka akan mendekati kandang-sapi-dkk (saya tidak akan membahas lebih lanjut bagaimana perilaku mereka disini, apakah sebenarnya ingin menjauh atau tidak :D)

Seperti itulah, kandang-sapi-dkk yang baru muncul dan kontrak dibangun dan terbangunnya kurang lebih 1 bulan ini telah memberikan pengaruh (dalam hal-yang-saya-bahas ini:bau) sehingga membuat perilaku yang berbeda-beda terhadapnya: dijauhi dan didekati.


0 Responses to “Baru Muncul, Bau: Dijauhi dan Didekati”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: