01
Nov
11

“Duduk” dan “Kursi”?

Duduk, merupakan satu kata kerja yang sering kita dengar dan lakukan namun kadang kita tidak pernah tahu bagaimana definisi duduk yang sebenarnya. Pada pembahasan kali ini saya ingin membahas tentang berbagai macam posisi duduk seseorang dan mencoba mendefinisikan posisi-posisi duduk tersebut apakah bisa dikategorikan sebagai posisi duduk yang selama ini kita ketahui ataukah akan muncul definisi duduk yang baru dari posisi-posisi tersebut?
Dari definisi yang saya dapat dari wikipedia duduk adalah adalah posisi istirahat didukung oleh bokong atau paha di mana badan lebih atau kurang tegak. Kurang lebih posisi duduk yang terdefinisi dari definisi diatas adalah sebagai berikut:
Image and video hosting by TinyPic
Dari posisi diatas maka kita bisa memunculkan ide sebuah furniture yaitu yang sering kita sebut sebagai kursi, namun bagaimana dengan posisi-posisi yang masih kita sebut “duduk” yang dibawah ini:
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic
Apakah posisi-posisi diatas masih dikategorikan sebagai duduk? Sedangkan furniture apa yang mampu mengakomodasi posisi-posisi tubuh diatas? Karena dapat kita lihat bahwa subjek yang menggunakan kursi diatas tidak menggunakan kursi dengan fungsi atau tujuan desain dari kursinya. Ataukah definisi kursi sendiri itu tidak mampu mengakomodasi posisi-posisi duduk yang selama ini kita lihat yang sebenarnya tidak cocok untuk disebut “duduk”?


3 Responses to ““Duduk” dan “Kursi”?”


  1. November 2, 2011 at 5:53 pm

    sebenarnya saya sendiri juga tidak tahu sampai seberapa jauh sebuah posisi yang masih bisa dikatakan sebagai duduk, namun jika dilihat dari gambar-gambar contoh yang diberikan bukannya itu masih bisa dikatakan sebagai duduk? karena awalaupun badan tidak terlalu tegak, setidaknya dia masih lebih tegak dibandingkan sudut paha atau bokong seperti yang dikatakan dalam definisi, selain itu di foto yang sebelah kanan atas, menurut saya sudah bukan lagi duduk walaupun berada di atas kursi.
    Kursi sendiri memang dibuat untuk duduk namun, kursi itu sendiri mampu dimanfaatkan berbeda oleh tiap-tiap orang, seperti berdiri di atasnya dll, saya sendiri sering menggunakan kursi sebagai tatakan laptop saya.
    Selain itu, bukannya lesehan itu termasuk duduk yang bukan di kursi.
    Menurut saya untuk masalah furnitur sendiri, tiap orang berbeda-beda keinginannya, tergantung dari prioritas dan badannya sendiri, namun tentu saja, tidak mungkin dibuat satu persatu per orang, sehingga terjadi sebuah generalisasi tentang kursi. kita tidak bisa mengharapkan 1 kursi yang diproduksi masal dan bisa memenuhi kebutuhan semua orang yang ada. Dari sinilah muncul berbagai tipe kursi dlam kemiringan yang berbeda-beda, bahan yang berbeda-beda yang bisa menjadi pilihan masing-masing orang sesuai dengan kebiasaan dan kesenangan masing-masing orang

  2. November 2, 2011 at 11:07 pm

    wah saya jadi ingat nasib kursi-kursi di studio PA5. beberapa di antaranya sudah tidak berfungsi baik lagi–roda yang terletak di bawah sebagai kaki sudah patah. penggunanya terlalu memforsir. atau digunakan tidak sesuai dengan fungsinya, seperti dijadikan tempat tidur (3kursi disusun dan seseorang tidur di atasnya), posisi duduk ‘malas’, pengguna yang ingin pindah tempat hanya tinggal menyeretnya dan ia akan bergerak dengan rodanya, hingga terkadang kursi itu dijadikan sebagai kendaraan untuk balapan bagi beberapa penguna. terkait hal-hal ini, mungkin banyak kebiasaan dan kondisi fisik seseorang yang akan menentukan sikap duduk bagaimana yang akan ia lakukan. mungkin berwujud sebuah kebutuhan, namun mungkin juga hanya sikap ‘usil’ belaka. terkait furnitur, mari kita lestarikan dan kita biarkan ia (baca:furnitur) waktu yang lebih lama untuk berbakti kepada penggunanya dengan cara memperlakukannya dengan lebih layak🙂

  3. November 6, 2011 at 8:33 pm

    Saya teringat dengan materi “affordances” dalam psikologi arsitektur. Affordances sendiri berusaha untuk menyatakan bahwa sebuah benda memiliki potensi lain tergantung persepsi pengguna akan benda tersebut. Sehingga semua tempat mungkin saja menjadi tempat duduk tergantung dengan kondisi, situasi, pengguna objek, dan faktor lainnya.

    Contoh sederhana saja, hari ini saya baru saja duduk di railing yang digunakan sebagai pembatas di halte busway dan bukan tempat duduk tentunya. Yang terlintas dipikiran saya pada saat itu adalah:
    “Hari ini panas. Saya lelah berdiri dan bosan menunggu. Saya butuh duduk.”
    Dan saat itu railing tersebut menawarkan permukaan yang dapat diduduki. Jadi saya duduk meski railing tersebut bukan tempat duduk.

    Menjawab tempat duduk itu seperti apa dapat dikaitkan dengan environmental probabilism, di mana lingkungan menawarkan probabilita jika dengan pengaturan tertentu maka ada perilaku yang sering muncul. Jika dalam mendesain kita mengerti akan esensi dari duduk sendiri kita bisa saja mempunya probabilita yang tinggi bagi pengguna untuk duduk di tempat yang kita desain. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari penyimpangan yang dapat terjadi seperti illustrasi saya di atas.

    Menurut saya tempat duduk itu sendiri tidak terbatas dari sebuah kursi, atau permukaan yang disanggah dengan empat kaki. Mungkin kita harus memfenomenologikan kata “duduk” itu sendiri😀


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: