01
Nov
11

Jarak Vertikal

saya baru menempati rumah yang saya tinggali sekarang ini selama satu tahun. rumah yang sebelumnya mempunyai luas tanah yang lebih dibandingkan dengan rumah yang sekarang. hal ini membuat rumah yang sekarang saya tinggali dimaksimalkan secara vertikal ke atas sedangkan rumah sebelumnya hanya satu lantai. dimana ruang keluarga, ruang tidur orang tua, dapur, dan ruang-ruang lainnya yang mendukung kegiatan orang tua selama dirumah berada di lantai satu. dan untuk lantai dua, hanya terdapat ruang-ruang tidur anak dan ruang nonton untuk anak-anaknya.

di rumah yang baru ini, saya menyadari ada beberapa kegiatan yang sudah tidak saya lakukan lagi secara rutin seperti yang saya lakukan di rumah sebelumnya. misalnya seperti  berbincang-bincang sembari nonton bersama orang tua dimana kegiatan seperti ini merupakan kegiatan selingan sebelum mengerjakan tugas yang bersifat refreshing.

untuk mendapatkan esensi kegiatan selingan tersebut saya hanya melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kamar, di kamar, dan di kamar seperti membaca buku, bermain internet, atau menonton tv/dvd yang ruangnya sudah disediakan di lantai dua. saya berbincang dengan kedua orang tua saya hanya ketika waktu makan malam yang dimana makan malam bersama ini pun tidak rutin terjadi dikarenakan rasa lapar yang tidak berbarengan.

jarak vertikal ini secara tidak langsung merubah kebiasaan-kebiasaan yang bersifat mengakrabkan dalam satu keluarga menjadi berkurang. segala keperluan anak (kecuali makan) yang sudah di lengkapi di lantai dua membuat anak kurang berinteraksi dengan lantai satu. keadaan usia yang semakin bertambah pun menjadi alasan bagi orang tua untuk lebih cepat lelah apabila menaiki tangga ke lantai dua.

jarak vertikal, meskipun secara fisik merupakan jarak yang dekat, namun secara psikologis mengubah/membuat perilaku-perilaku penghuni antar lantai menjadi lebih jauh. namun tentunya hal ini dapat di solusikan dengan peletakan fungsi ruang berdasarkan studi alur penghuni rumah dengan baik sehingga tidak mengubah kegiatan yang bersifat mengakrabkan keluarga penghuni.


1 Response to “Jarak Vertikal”


  1. November 2, 2011 at 8:43 am

    Saya juga merasakan bahwa jarak vertikal mempengaruhi kurangnya interaksi anggota keluarga di rumah saya. Apalagi yang terjadi di rumah saya adalah area orang tua terletak di lantai satu bagian depan dan area anak – anak terletak di lantai dua bagian belakang sehingga intensitas untuk bertemu sangat jarang. Satu – satu nya area interaksi di rumah saya adalah area makan dan secara otomatis makan merupakan kegiatan sakral yang dilakukan bersama walaupun hanya seminggu sekali. Ada salah satu solusi untuk mengurangi jarak vertikal yaitu penggunaan mezanin di dalam rumah. Sehingga penghuni area atas dapat tetap terhubung dengan penghuni area bawah, sehingga interaksi anggota keluarga tetap terjaga


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: