01
Nov
11

Kerja dan Makan


Rumah yang saya tempati sekarang awalnya dibeli untuk disewakan sebagai kantor kecil karena letaknya yang strategis dan untuk meningkatkan efektivitas banyak ruang yang diubah. Seperti contohnya, garasi di rumah ini ditutup dan dijadikan ruang meeting, lengkap dengan meja rapat yang panjang. Namun, ketika keluarga saya harus kembali menempati rumah ini sebagai tempat tinggal, ruang rapat itu berubah fungsi menjadi ruang makan.

Idealnya, ruang ini menjadi sebuah ruang yang penting bagi saya, orang tua dan kedua adik saya. Di ruang inilah seharusnya kami makan bersama dan mengobrol mengenai aktivitas hari ini. Namun karena kegiatan masing-masing, anggota keluarga kami tidak lagi sempat untuk makan di rumah. Waktu makan malam dimana seharusnya seluruh anggota keluarga dapat berkumpul, tidak lagi menjadi spesial karena tidak ada dari kami yang makan malam.

Hingga suatu waktu saya mendapat tugas gambar di kertas A2, dan meja yang muat untuk kertas A2 itu hanya meja makan ‘sementara’ saya, yang merupakan bekas meja rapat. Akhirnya saya menggunakan meja itu untuk menyelesaikan tugas dan saya rapikan kembali seperti semula. Namun karena kebutuhan untuk mengerjakan tugas, tumpukan kertas tugas akhirnya saya biarkan saja di meja makan. Lagipula meja sebesar itu (kurang lebih 320 x 120 cm) tidak akan penuh jika hanya digunakan untuk menaruh masakan yang juga jarang tersentuh. Lama kelamaan area yang saya gunakan untuk menggambar dan menyimpan peralatan kerja saya semakin besar, hampir mencapai setengah meja makan. Piring-piring dan gelas-gelas yang tadinya disusun rapi untuk tiap orang di meja makan kini bertumpuk di atas meja di sudut ruangan. Makanan ringan yang tadinya selalu siap disantap di atas meja makan akhirnya disimpan di meja dapur. Lama-lama tanpa saya sadari, ruang makan itu telah menjadi ruang kerja saya, seiring dengan berpindahnya komputer, buku-buku, dan peralatan kerja secara tetap dari kamar ke ruang makan. Ayah saya juga seringkali memeriksa pekerjaannya di meja makan.

Kegiatan makan (yang juga sebenarnya jarang dilakukan di rumah) akhirnya berpindah ke ruang televisi. Hal ini membuat ruang makan yang seharusnya penuh dengan makanan menjadi penuh dengan kertas dan pensil, ruang televisi yang seharusnya bersih dan nyaman menjadi agak kotor dengan remah makanan yang seringkali jatuh ke lantai. Lantas apakah itu berarti kami telah merusak ‘ideal’ dari suatu rumah tinggal? Jika domesticity berarti memenuhi kebutuhan kami, apakah ‘ideal’ itu tetap menjadi sesuatu yang ideal?


0 Responses to “Kerja dan Makan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: