01
Nov
11

“ruangku” semakin sempit

biasanya pagi-pagi, barang yang pertama kali dilirik adalah laptop yang tergeletak ditumpukan kertas, alat tulis, pakaian, dan aksesoris mahasiswa arsitektur lainnya. Kesempatan pagi sebelum waktunya berangkat digunakan buat mengejar, menambah, membuat tugas untuk beberapa minggu ini. akibatnya, aktivitas lainnya yang seharusnya dikerjakan wajar saat pagi hari serba deadline. nyiapin pakaian, mandi, bahkan ga sempat sarapan dan tegur sapa orang rumah. sesampainya di studio, laptop juga selalu nomor satu di hati. kebutuhan akan laptop ini karena menjadi media sangat penting bagi proses pengerjaan tugas kuliah. selain itu, akses internet gratis di kampus menjadi faktor alasan ini ga bisa di ganggu gugat.

Dalam keseharian sekarang ini, sangat wajar jika kita menerima pesan berisikan ajakan untuk menambah teman di situs jejaring/media sosial, membagi pin blackberry, memberikan informasi ke teman untuk melihat statusnya di situs pertemanan, atau mendapatkan berita (gosip) menjadi hal yang cepat untuk diakses dengan langsung online. Semakin mudah dunia, komunikasi, berita mancanegara, bahkan sesi curahan hati menjadi lumrah untuk diketahui oleh banyak orang. internet, selain untuk membantu dalam pengerjaan tugas, bisa memberikan efek “senang” karena segerombol aktivitas monoton yang tiap hari kita lakukan. dengan nge-klik tombol laptop, bisa pakai modem bisa juga internet gratisan kampus, sudah deh kita terbuai dalam dunia maya. kadang silih berganti antara ngerjain tugas dan ngerjain “senang-senang” di satu media saja, laptop (etc. komputer). mungkin tanpa kita sadari, seharian ini kita lebih banyak menggunakan waktu dengan egois.  dan tanpa kita sadari juga kita sudah kecanduan laptop, kecanduan online, walaupun takarannya masih dibilang sewajarnya tetapi dilakukan berkali-kali. beberapa skenario tadi menjadi gambaran, hidup kita terikat dengan benda mati.

saya sendiri kadang lebih memilih untuk ketemu teman yang tidak jauh jaraknya dengan chatting. padahal bisa kok, ketemuan sekadar bersalaman, liat mukanya secara langsung, dengar suaranya, sampai menikmati jalan-jalan sama-sama. atau kesempatan buat ngobrol sama ayah dan ibu yang semakin jarang, karena saya lebih memilih berdiam di dalam kamar, menyalakan laptop, ngerjain tugas, dan asyik online. atau ketika sama teman kuliah, masih saja asik sendiri di depan laptop, bertegur pun ada waktunya, waktu makan siang, waktu solat, selebihnya cuma cengar-cengir. dan ini dilakukan hampir tiap hari, bahkan waktu ahad-minggu pun ga ada bedanya. dari kondisi inilah, saya merasa “ruang diri” menjadi semakin sempit. bahkan tidak berkembang karena dilakukan lebih banyak untuk diri sendiri.


2 Responses to ““ruangku” semakin sempit”


  1. November 2, 2011 at 8:50 am

    mungkin tidak bisa dikatakan ruang diri semakin sempit juga. kalau menurut saya dengan adanya perkembangan teknologi, justru mendekatkan “yang jauh” walau memang tidak menutup kemungkinan juga “menjauhkan yang dekat.”
    anda melihat ruang tersebut sempit karena anda menganggap ruang lebih nyata, sedangkan dalam aspek imaginer, ruang juga bisa terbentuk dari interaksi jarak jauh yang anda lakukan.
    ketika anda chatting, ada interaksi di sana, yang walaupun anda tidak bertemu langsung. Justru dengan chatting, anda dapat melewati batasan-batasan di mana anda bisa berhubungan dengan orang lain di mana saja.

  2. November 2, 2011 at 10:53 pm

    saya setuju dengan pendapat adlina. Kemajuan teknologi telah memunculkan banyak sekali kesempatan bagi kita untuk dapat berhubungan dengan dunia luar. Bagi saya hal ini bukan berarti ruang diri kita menjadi semakin sempit. Justru dengan adanya media-media tersebut kita dapat memperluas hubungan kita dengan banyak orang, bahkan dengan orang yang tinggal nun jauh disana. Bahkan terkadang ada orang yang merasa lebih leluasa jika menuangkan segala sesuatunya melalui media-media tersebut. Ada orang yang lebih terbuka jika berbicara melalui chatting ketimbang bertemu langsung. Atau ada pula yang lebih senang mengekspresikan buah pikirnya ke dalam tulisan di blog atau notes pada jejaring sosial ketimbang mereka menceritakan langsung kepada orang lain.Mungkin “sempit” yang anda maksud lebih kepada terbatasinya diri anda dalam berinteraksi secara langsung dengan orang lain namun bukan berarti ruang diri anda menjadi sempit, begitu menurut saya 😀


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: