01
Nov
11

Tidur dimanapun

Pada umumnya, manusia membutuhkan tidur 8 jam dalam sehari. Untuk tidur, seringnya kita memerlukan tempat yang tenang, kasur yang empuk dan luas, memakai bantal, guling, selimut bahkan boneka. Kondisi ruang juga dipersiapkan, seperti menghidupkan AC agar dingin ataupun dari segi pencahayaannya dengan mematikan lampu atau memakai lampu tidur yang redup. Tidur merupakan kegiatan yang biasa, tetapi efek yang di dapat sangatlah luar biasa. Bila kita mendapat tidur yang berkualitas, maka kita akan bangun dengan keadaan fit.

Hanya saja, tidak semua orang dapat menikmati tidur sebagaimana normalnya. Untuk kali ini, saya akan membahas efek kurang tidur akibat tuntutan tugas sebagai mahasiswa arsitektur. Dalam project, kita dituntut untuk banyak berfikir dan membuat. Searching an information, survey, exploration, searching an idea, make a programme, dan lainnya. Di tambah mata kuliah lain dan aktivitas di luar kuliah, banyak mahasiswa yang kekurangan tidur.

Kekurangan tidur akan mengganggu efek psikologis seseorang. Bila sudah sangat kurang tidur, maka orang haus untuk tidur. Orang tersebut dapat saja tertidur atau tidur dimana pun apalagi kondisi disekelilingnya mendukung walaupun bukanlah keadaan tidur yang ideal.

.sering tidur di dalam kelas, dalam keadaan duduk. Seringnya keadaan di kelas sangat mendukung. Posisi kepala dapat disesuaikan agar lebih nyaman, disenderin di kursi atau meja. Ada juga yang cukup  ekstrim dengan keadaan kepala tegak tanpa bersender.

.tidur sambil berdiri, seperti berada di kereta atau bikun. Dalam perjalanan tidak ada hal yang dilakukan. Ngantuk lalu tidur walau dalam kondisi berdiri. Bila ada pegangan, maka akan membantu proses tidur dimana kepala bisa bersenderan ke tangan yang menggantung. Hal ini cukup berbahaya karena orang tersebut dapat jatuh.

.tertidur di depan laptop. Mata sudah capek, tapi ada deadline sehingga memaksakan diri untuk berkerja.

.tidur di lantai. Posisi tidur yang paling enak adalah merebahkan badan. Di kursi terasa sempit dan mengganjal. Lantailah yang paling tepat walaupun kotor.

.tertidur sambil menulis. Saat menulis paper atau logbook, tiba-tiba tertidur. Begitu bangun tinta pulpen kita sudah menembus kertas sampai berlembar-lembar

.tertidur saat mengerjakan maket. Tertidur seperti ini lebih berbahaya lagi. Bisa saja gerakan kita merusak maket ataupun mengenai benda tajam (cutter, gunting, tusuk sate,dll). Ada juga mahasiswa tertidur sambil memegang cutter.

.tertidur saat rapat, khususnya bila materi rapat kurang menarik.

.tertidur sambil makan. Sankin ngantuknya, makanan dibiarkan di meja dan kita tertidur di sebelahnya.

.tertidur di motor. Saya sempat memgalami hal ini dalam waktu beberapa menit. Angin yang terasa di motor menambah rasa kantuk.

Yah, ketiduran itu cukup berbahaya. Sebaiknya mengorganisir waktu lebih baik agar waktu tidur cukup. Bila sudah benar-benar ngantuk, menghentikan kegiatan untuk tidur. Kalaupun mau berpergian, tidur dahulu. Karena lingkungan di dekitar kita mendukung susasana untuk teridur. Atau lebih mempersiapkan diri sebelum tertidur ^_^


2 Responses to “Tidur dimanapun”


  1. November 2, 2011 at 10:54 am

    Memang saya sendiri juga merasakan seperti anda bilang rasa ngantuk seperti bisa datang kapan saja dan dimana saja, bahkan dalam lingkungan apa saja.
    Bahkan dari beberapa orang yang dulunya tidak bisa tertidur kalau bukan di kasur, mulai bisa tertidur di kelas.
    Selain itu, saya menemukan kalau rusaknya waktu tidur saya bisa berkepanjangan bahkan sampai pada saat liburan 3 bulan kemarin, efeknya masih terasa padahal sudah jarang begadang, dimana saya menjadi sering tidak ngantuk saat malam hari, tapi di siang hari saya menjadi mudah ngantuk, bahkan ada satu masa dimana saya terus ngantuk sepanjang hari dari pagi sampai malam.
    Bisa dikatakan efek dari kebiasaan begadang ini cukup mempengaruhi rasa ngantuk saya menjadi lebih sering. Tapi mungkin hal seperti ini subjektif pada setiap orang

  2. 2 joejoesensei
    November 2, 2011 at 11:11 am

    Fenomena tidur dimanapun ini memang terkadang terlihat negatif, namun saya sendiri menjadi saksi teman saya yang dapat memanfaatkan waktu untuk tidur dengan baik yaitu dengan tidur di saat ia sempat. kemampuan seperti ini tentunya sangat bermanfaat apabila ia sedang kepepet deadline atau berada di luar kota. Sedangkan saya mengenal orang yang apabila tidur haruslah di ranjang ia sendiri dan dengan pintu terkunci. Terkadang fenomena ini menunjukkan kepribadian dan aktivitas yang seseorang alami. Orang yang tidur harus dengan pintu terkunci menandakan ia orang yang sedikit paranoid. Orang yang mudah tidur dimana saja mungkin sibuk atau ia orang yang mudah percaya. Ada juga orang yang tidur harus ditemani karena ia takut ditinggal sendirian.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: