01
Nov
11

Tradisi yang Bertahan atau Tradisi yang Berubah Palsu

Ada sedikit kekecewaan yang saya rasakan pada ekskursi Alor tahun ini, bukan karena jarak jauh yang harus ditempuh, namun terungkapnya praktek baru yang menyangkut pelestarian budaya dan tradisi. Takpala, adalah satu desa di Alor dimana desa tersebut adalah salah satu desa yang masih bertahan dari modernisasi yang juga merajalela di Alor. Rumah yang masih tradisional, tanpa listrik, dan masih menjunjung tinggi kearifan lokalnya dalam segala aspek kehidupannya.

Hal tersebut seketika menjadi abu-abu ketika segerombolan orang bule atau para wisatawan dengan guidenya berdatangan, para ibu-ibu yang sedang santai berjualan dengan memakai setelan kaos dan celana katun tersebut seketika menjadi terburu-buru berganti kostum menjadi kain, pakaian tradisional mereka, memakai gelang-gelang kuningan pada kakinya, turun ke gerbang desa untuk menyambut mereka dengan tari-tarian lengkap dengan semua perlengkapan dan lakon untuk “upacara” penyambutan.

Lalu mereka semua berkumpul di area pementasan, kebanyakan para ibu, ada juga kepala adat, dan pemimpin tarian yang mengumandangkan sajak-sajak, pesan dalam tari. Mereka mulai membentuk lingkaran dengan tangan yang satu merangkul yang lain, berputar, bernyanyi dengan lantang, lalu gerakan yang lambat semakin lama semakin cepat, berputar, melompat lalu berhenti.
Lego-lego. Ya lego-lego adalah sebuah tarian asli adat suku-suku di alor, biasanya dilakukan jika ada upacara-upacara adat, masa tanam, masa panen, pernikahan, kematian dan lain-lain. Tarian ini seolah telah kehilangan maknanya. Itu yang saya rasakan, kekecewaan, bagaimana mereka bisa seolah-olah “menjual” tradisi hanya demi kepuasan bule-bule yang melihatnya, dan juga si guide yang sudah seperti men-setting semua ini. Belum lagi kekecewaan itu terjawab, ada satu fakta lagi yang saya ketahui. Ternyata yang benar-benar tinggal di desa tersebut hanya sekitar 2-3 keluarga saja, sisanya pada sore hari mulai turun ke desa dibawahnya, hal tersebut dikarenakan tidak adanya listrik yang tersedia disitu, lagi-lagi saya melihat sebuah kepalsuan.

Semua upacara penyambutan dengan lego-lego tersebut, naik ke desa atas Takpala dan kemudian turun lagi ke desa bawah pada sore hari, atau sebuah keluarga turun ke desa bawah hanya untuk men-charge handphonenya, semua hal tersebut terjadi setiap harinya, keseharian yang menurut saya tidak asli, penuh settingan, dan tradisi menjadi sebuah alat demi mendapatkan uang. Semua tradisi, kebudayaan yang terlihat masih asli dan dipertahankan ternyata telah bergeser.

Fenomena ini mungkin tidak hanya terhadi di desa Takpala saja, mungkin terjadi juga di desa adat lainnya. Desa adat menjadi desa “adat” komersil, sebuah settingan sosial, apakah ini hal yang benar atau salah, saya juga tidak tahu.


0 Responses to “Tradisi yang Bertahan atau Tradisi yang Berubah Palsu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: