01
Nov
11

you can enter this only if you have the same clothes with us?

sewaktu saya SMA, saya bersekolah di sebuah sekolah negri, yang pengaruh Islam nya kuat di lingkungan sekolah. setiap hari jumat seragamnya adalah seragam melayu lengan panjang dan bawahan panjang, dimana bagi yang beragama Islam, cewek harus mengenakan jilbab, dan cowok mengenakan kopiah. saya, sebagai seorang non muslim, tidak mengenakan jilbab. memakai pakaian panjang dan jilbab/kopiah, tidak hanya berlaku ketika hari jumat saja, namun juga selama bulan puasa.

setiap hari sebelum pelajaran di mulai, diadakan tadarus selama 15 menit. ketika tadarus dilakukan, para cewek yang sehari-harinya tidak memakai jilbab, menggunakan mukena untuk menutupi auratnya. lagi-lagi, sebagai non muslim saya tidak memakainya dan tidak melakukan tadarus. jadi, akan langsung terlihat bedanya mana yang akan tadarus dan mana yang tidak. selama kegiatan tadarus berlangsung, sebenarnya saya diperkenankan tetap berada di dalam kelas, ataupun mengikuti doa pagi bersama yang diadakan komunitas kristiani di sekolah saya. terus terang, masa-masa SMA merupakan masa dimana sedang ‘bandel-bandelnya’ dan saya sangat malas mengikuti doa bersama. namun, untuk tetap berada di dalam, terus terang saya merasa aneh sendiri, dan akhirnya memutuskan keluar dan duduk di sekitar koridor. padahal yang membedakan hanya cara berpakaian.

setiap hari jumat, diadakan ceramah agama bagi siswa siswi beragama Islam di lapangan sekolah, dan ada siraman rohani bagi non muslim di salah satu kelas. guru-guru akan merazia sekolah dan menangkap anak-anak yang tidak mengikuti ceramah/siraman rohani dan menggiring ke tempat ceramah/ siraman rohani diadakan sehingga para siswa mau tidak mau bergabung dengan acara tersebut, sehingga secara logika tidak mungkin kabur dari acara tersebut.

namun ternyata, saya mendapati, adanya aturan berseragam dimana aturan tersebut menjadi penjelas mana siswa muslim yang akan mengikuti ceramah dan mana non muslim yang akan mengikuti siraman rohani dan menentukan tempat di mana seharusnya siswa tersebut berada saat jumat pagi, malah menjadi cara untuk ‘kabur’ tanpa ketahuan. mengapa?

saya tidak tahu apakah ada yang pernah melakukan hal ini atau tidak, tetapi saya pernah (oke, sebenarnya ini memalukan). karena ingin kabur dari siraman rohani, namun bersembunyi bukanlah ide yang tepat karena adanya razia, setiap hari jumat saya selalu membawa pashmina (sejenis selendang panjang) yang akan saya sampirkan ke kepala kalau-kalau saya malas ikut siraman rohani. menyampirkan pashmina tersebut di atas kepala, walau tidak menutupi rambut dan leher saya secara sempurna, namun berada di kerumunan orang akan menyamarkan hal tersebut. memang, saya cuma bisa kabur ke area ceramah. namun bagi anak SMA, hal tersebut sudah cukup, apalagi toh di tempat ceramah banyak teman yang bisa diajak ngobrol diam-diam.

well, saya berpendapat sebuah tempat bisa di defenisikan fungsinya atau dibuat ketat pengaturannya dengan mengandalkan pakaian, yang dapat menyaring siapa saja yang boleh masuk. namun justru menjadi cara menyeleksi yang lemah, karena pakaian adalah hal yang gampang untuk ditiru. saya jadi teringat film Sex and The CIty 2, dimana Carry dan teman-temannya dapat kabur dari kejaran polisi (atau pedagan, saya lupa) di Dubai dengan cara memakai abaya dan cadar, sehingga tidak ada yang dapat mengenali mereka karena semua wanita mengenakan abaya dan cadar.

 


2 Responses to “you can enter this only if you have the same clothes with us?”


  1. November 5, 2011 at 6:55 pm

    Artikel ini mengingatkan saya pada film Kandahar, mengenai pembatasan diri bukan hanya dapat dijelaskan dengan ruang tapi dari penampilan dan cara berpakaian itu bisa membentuk batasan imaginer terhadap lingkungan disekitar kita. Film dokumenter tersebut merupakan karya produser Iran yang menceritakan tentang kehidupan wanita Afghanistan yang menggunakan Burka (jubah wanita Afghanistan yang menutupi seluruh tubuh) pada kehidupan keseharian mereka.

    Satu scene dalam film tersebut menceritakan tentang perjalanan jurnalis asal Kanada yang geraknya tidak bebas dalam negara yang sempat terisolasi dari kehidupan dunia luar, dalam cerita itu ia merasa dilecehkan dengan masyarakat Afghan karena ‘keterbukaan’ rambutnya karena tidak ditutupi oleh sebuah benda yang menurut persepsi sebagian orang adalah aurat. Hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan karena ia merasa tidak diterima dilingkungannya karena cara berpakaiannya. Lalu ia mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungannya untuk menggunakan Burka namun ternyata hal itu menimbulkan ketidaknyamanan yang lain karena pakaian tersebut menyulitkan ia untuk berkomunikasi dan tidak nyaman untuk dipakai di daerah beriklim padang gurun. Saat keadaan ini si pelakon cerita tersebut harus memilih ketidaknyaman mana yang harus dia pilih untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Apakah rasa nyaman di lingkungan itu timbul pada saat kita berada di dalam ketidaknyamanan burka tadi? atau apakah rasa ketidaknyamanan dalam lingkungan tadi timbul ketika kita merasa nyaman dengan pakaian kita?

    Scene menarik lainya menceritakan tentang saat wanita tersebut sakit dan harus diperiksa kesehatannya dalam ruang medis yang dilakukan oleh seorang dokter berlawanan gender (sesuai dengan hukum yang dianut oleh masyarakat Afghan wanita dan laki-laki yang tidak mempunyai ikatan pernikahan tidak boleh berada dalam satu ruangan tanpa orang ketiga). untuk mensiasati hal tersebut ruang dokter dan wanita kanada ini dibatasi oleh kain yang digantung ke plafon yang mana sebenarnya ruangan itu masih dalam satu ruang dan bisa melihat satu sama lain secara samar. Untuk memeriksa kesehatannya wanita ini membuka mulutnya lewat lubang yang terdapat di kain itu sehingga dokter tersebut masih bisa memeriksa dan menerangi mulutnya denga senter untuk melihat apa gejala penyakitnya. setelah pemeriksaan selesei lubang yang terdapat dikain itu ditutup kembali agar wanita tersebut tidak dapat terlihat dan dilanjutkan mengenai wawancara tentang gangguan penyakitnya. Walaupun proses pemeriksaan tersebut menimbulkan kecangungan bagi jurnalis tersebut karena hal yang ia lihat pada hari itu tentu sangat beda dengan apa yang ia lihat jika ia diperiksa di ruangan dokter yang berada di negara asalnya. Hal ini membuktikan bahwa ruangan tersebut beradaptasi dengan siapa dan apa kesehariannya, tentu akan beda lagi saat melihat ruangan dokter pada daerah yang memiliki kultur dan persepsi yang lain.

    Meskipun tiap orang mempunyai perbedaan pandangan akan nilai yang mereka pilih namun dengan apa yang melekat pada tubuh kita dapat mensamarkan persepsi orang tentang siapa kita sebenarnya.

  2. November 8, 2011 at 9:30 pm

    selain hal yang sudah dijabarkan di post maupun comment terhadap post ini, pakaian juga membentuk batasan tidak terlihat bagi beberapa komunitas atau ruang, seperti dalam restaurant fine dine atau acara formal lain, orang yang berpakaian celana pendek dan kaos akan tercap ‘not belong here’ semahal apapun pakaian mereka. Sebaliknya berada di pasar yang becek dan orang-orang di dalamnya memakai baju senyaman mungkin untuk antisipasi keringat, lumpur becekan atau segala cipratan dari pasar bagian daging atau ikan-ikanan, orang berpakaian dress satin pendek tanpa lengan juga akan tercap ‘not belong here’ senyaman apapun pakaian itu bagi pemakainya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: