02
Nov
11

Detail Keseharian dalam Film Fiksi

Akhir-akhir ini saya senang menonton sebuah film seri barat yang berjudul supernatural. Film ini adalah film fiksi yang mengisahkan tentang kehidupan kakak beradik, Dean dan Sam yang pekerjaan sehari-harinya adalah seorang hunter yang memburu hal-hal supranatural seperti kasus poltergeist, demon, vampir, ghost, dan sejenisnya. Alur ceritanya rapi dan seru. Namun, di balik ceritanya itu sendiri, hal yang menarik saya adalah kedetailan film itu terhadap kebiasaan kecil sehari-hari dari pemeran di film itu bahkan dari segi ruang dan baju yang dikenakan oleh pemain di film itu. Menurut saya, detail-detail itulah yang bisa membuat sebuah film menjadi real dan tokoh tersebut benar-benar ada di kehidupan kita, padahal dari segi cerita film ini sudah jelas merupakan sebuah cerita fiksi.

Yang pertama kali saya sadari adalah dari segi baju yang dikenakan, seperti pada pada season pertama, dimana salah satu pemeran utamanya yang bernama Dean menggunakan jaket yang agak kebesaran, mungkin di satu sisi kita berpikir, “kok bisa sh, seorang aktor maw pake baju yang gak fit buat dia padahal kan jadi gak enak dilihat?” Tapi jika kita telusuri lagi ternyata memang jaket itu merupakan jaket keturunan dari ayahnya. Ini sebuah detail yang sebenarnya gak semua orang memperhatikannya, namun produsernya itu pun sadar, dan menampilkan sebuah kehidupan yang realistis di sini

Lebih dalam lagi adalah cara berbicara dan bahasa yang digunakan oleh masing-masing tokoh sangat disesuaikan dengan kepribadian yang dimiliki. Tanpa melihat adegan, kita bisa membedakan siapa yang sedang berbicara, bukan dari suaranya melainkan cara berbicaranya. Contoh,salah satu tokoh memiliki sifat yang keras dan tidak terlalu memperhatikan perasaan orang ditunjukkan dengan cara berbicaranya yang santai, namun terang-terangan dan apa adanya tanpa peduli hal itu akan menyakitkan orang lain atau tidak, padahal kalau kita mengenal aktor aslinya, orang tersebut pemalu dan cara berbicaranya berbeda dengan apa yang dilihat di film, sedangkan ada lagi yang emosional sehingga cara berbicaranya agak meledak-ledak dan setengah berteriak. Ini adalah salah satu yang memuat saya mulai berpikir bahwa bukan hanya dialog atau interaksi dia dengan orang lain yang bisa memberikan ide tentang karakteristik tokoh ini, sehingga, karakteristik dan personality dari tokoh-tokohnya pun menjadi menonjol dan berbeda satu sama lain seperti yang bisa kita temukan dalam kehidupan kita.

Selain itu dari segi rumah-rumah atau kamar-kamar yang ditinggali hunter pasti bisa kita temukan salt, holy water, dan simbol-simbol lain untuk menangkal demon atau makhluk-makhluk yang ada, bahkan hal-hal ini bisa ditemukan di rumah hunter yang sudah pensiun dan bertekad tidak mau berurusan dengan makhluk-makhluk tersebut. Bahkan ada salah satu dari mereka, yang cukup senior membuat sebuah panic room di rumahnya, yang merupakan ruang yang berisi pertahanan terakhir dia saat dia diserang. Walaupun sudah tidak mau berurusan dengan makhluk seperti itu, orang yang pernah menjadi hunter tentunya sudah tidak bisa lagi memungkiri keberadaan makhluk di sekitar mereka sehingga secara alam bawah sadar mereka, mereka tetap ingin mempertahankan diri mereka dan keluarga mereka, sehingga mereka sudah pasti tidak bisa membuang senjata mereka atau menghentikan kebiasaan mereka saat menjadi hunter. Hal ini menyinggung sifat dasar setiap manusia tentang mencari rasa aman dan mempertahankan diri.

Selain itu, ada satu hal lagi yang saya perhatikan cukup unik dari film ini, yaitu tentang apa yang disebut home oleh mereka. Sebagai seorang hunter yang aktif bekerja, mereka tidak memiliki tempat tinggal, mereka terus berpergian dari satu kota ke kota lain dengan menggunakan sebuah mobil impala. Mobil inilah yang tanpa mereka sadari adalah sebuah home untuk mereka. Kemanapun mereka pergi, mobil yang hanya berisi sedikit persediaan makanan, beberapa baju, dan senjata mereka inilah yang menemani mereka. Mereka bahkan tumbuh dan bertambah besar di dalam mobil ini. Untuk menguatkan kesan impalanya ini sendiri, produser dari film ini, sengaja menambahkan coretan kenakalan anak kecil yang di buat oleh kakak beradik ini saat mereka masih kecil, dan yang menjadi lebih istimewa adalah di dalam ceritanya sendiri, Dean, yang memiliki sifat family oriented menyadari betapa istimewanya coretan-coretan tersebut, karena walaupun mobil ini sering hancur, mobil ini tetap diperbaiki dia, tanpa memperbaiki coretan atau goresan mereka itu karena kenangan keluarga mereka sangat penting untuk Dean. Salah satu yang poduser ini lakukan untuk menonjolkan impala ini sendiri adalah dari kalimat pembuka setiap film. Biasanya film dibuka dengan episode sebelumnya, atau previous story tapi oleh produser nya ini sendiri, membuka film dengan tulisan “The Road so Far” yang menunjukkan kehidupan mereka di mobil itu

Yang dipentingkan di film ini bukanlah sebuah image seperti yang ingin ditampilkan di film itu, melainkan apa, dan kenapa sesuatu ada, atau bagaimana tindakan selanjutnya orang ini mengingat situasi dan karakteristik dari pemeran ini. Hal ini lah yang menonjolkan sisi kenyataan dari sebuah film fiksi. Keseharian dari film ini lah yang membuat sebuah film berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bahkan jika kita membandingkan dengan film yang berbasis dalam kehidupan sehari-hari contoh ekstrim nya seperti sinetron Indonesia, keseharian dari seseorang malah menjadi hilang, dan sering kali hanya untuk menampilkan sebuah image tokoh sebagai artis bukan tokoh tersebut. Contoh yang paling dasar seperti ada adegan tidur namun artis tersebut masih menggunakan make up. Padahal film-film seperti itu yang berbicara tentang kenyataan,  harusnya bisa lebih dalam dalam mengolah kebiasaan kecil atau menciptakan karakter dan kebiasaan untuk seorang tokoh. Justru film yang harusnya nyata malah terasa bohong namun, film fiksi yang harusnya tidak nyata malah membuat kita percaya bahwa tokoh-tokoh itu hidup. Contoh menariknya seperti ini, sewaktu film yang berbasis kenyataan itu ada orang yang meninggal lalu tiba-tiba hidup lagi, kita bisa dengan mudahnya berpikir dan berkata “namanya juga film”, sedangkan saat menonton film supernatural, atau film lain yang sejenisnya, yang pertama kali kita pikirkan adalah ” koq bisa?” lalu kita akan mencari-cari alasan kenapa dia bisa hidup lagi, karena pada titik ini kita sudah menjadi terlibat dalam film ini seberapapun film ini menampilkan hal yang tidak mungkin. Film supernatural ini sebenarnya merupakan sebuah contoh film yang memperhatikan detail seperti itu, masih banyak lagi film-film lain yang melakukan hal yang sama karena dengan detail ini mereka bisa membuat menjadi nyata sesuatu yang fiksi bagi penontonnya.


2 Responses to “Detail Keseharian dalam Film Fiksi”


  1. 1 joejoesensei
    November 3, 2011 at 1:13 pm

    Saya sendiri menonton film yang anda maksud di sini dan saya setuju dengan detail keseharian yang muncul secara rapi dalam film ini. Detail-detail seperti ini justru membuat film semakin menarik dan penonton pun secara tidak langsung membuat penonton ingin menelusuri film tersebut lebih lanjut untuk mengetahui secara jelas asal usul dan sejarahnya. Seringkali detail ini memang ditinggal kan oleh sinetron indonesia dimana beberapa kali saya menemukan adegan yang hanya berselang beberapa detik namun si pelaku sudah menggunakan baju atau model rambut yang berbeda. Ini kelihatan sekali pergantian scene nya.
    Yang menurut saya menarik dari film supernatural selain detail dan cerita serta aktornya, adalah karakterisasinya seperti yang anda bicarakan mengena cara bicara. Saya sendiri mengalami saya bisa mengenali siapa yang berbicara hanya dari nada dan aksen. Saya pribadi menyukai karakter yang sulit ditebak sehingga bisa saya kuak sendiri misterinya. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, semua orang pasti memiliki detail yang berbeda. Dari cara berpakaian, cara berjalan, cara bicara, dan lainnya. Detail seperti ini memang seringkali kita lewatkan.

  2. November 8, 2011 at 9:01 pm

    dalam produksi film skala besar memang ada crew yang bekerja khusus untuk detail seperti ini, ada yang khusus memegang set syuting dan ada yang khusus memegang aktornya. Seperti dalam film epic harry potter atau lord of the ring misalnya, crew kostum yang bertugas terlebih dahulu melakukan penelitian jauh sbelum syuting dimulai mengenai hal detail seperti ini, mulai dari aksesoris yang mungkin digunakan oleh karakter a atau karakter b, jenis pedang yang ‘sedang tren’ dimasa tersebut, bahkan koreografi untuk perang menggunakan pedang atau tongkat sihir. Dalam produksi Harry potter terdapat inventaris barang dalam set yang di cek setiap selesai satu take untuk menjaga kekonsistensian antar takes. Karena benar apa yang di jelaskan dalam post ini, detail tersebut yang membuat film tersebut menjadi film yang terlihat nyata bagi penontonnya. Terlebih film yang mengekspose kedetailan itu menjadi kunci ceritanya sperti CSI atau lie to me dan sejenisnya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: