02
Nov
11

mereka yang di ujung

Bhinneka Tunggal Ika, masihkah semboyan ini tertanam di pribadi kita sebagai masyarakat Indonesia? Pertanyaan ini muncul ketika saya sedang sarapan di kantek kemarin pagi. Disana saya memperhatikan keadaan sekitar dari meja yang saya duduki di area kantek dalam.

Karena sedang dalam minggu UTS, terlihat setiap meja yang ditempati terdiri dari sekelompok orang, tiga atau lebih. Ada yang belajar berkelompok, berdiskusi tentang ujiannya, bekerja di depan laptop, atau hanya sekedar sarapan dan ngobrol dengan teman-temannya. Saat itu saya melihat di ujung kantek, dekat dengan ruang BEM, ada seorang mahasiswa yang duduk sendirian. Melihat dari jauh, sepertinya ia berasal dari daerah timur Indonesia. Hal yang membuat saya bingung adalah sebetulnya kantek belum ramai saat itu, masih banyak meja yang kosong di area dalam, namun mahasiswa itu memilih untuk duduk di ujung sana.

Selama kurang lebih satu jam, dia hanya duduk saja sendirian, tidak berkomunikasi dengan siapa-siapa, dan posisi kepalanya cenderung menunduk. Padahal di meja lain orang-orang ramai dan terlihat akrab. Rasanya tidak mungkin juga kalau di antara mereka tidak ada yang satu departemen, atau setidaknya kenal dengan mahasiswa tadi. Apa iya dia tidak punya teman di teknik? Kemudian saya jadi ingat di kesempatan lain ada juga mahasiswa yang kelihatannya dari timur Indonesia memang makan sendirian di kantek luar, di bagian terluarnya yang dekat dengan danau. Padahal lagi-lagi saat itu rasanya kantek belum terlalu ramai orang. Seakan-akan keberadaan mereka memiliki pengaruh terhadap konfigurasi tempat duduk di kantek. Menurut seorang teman dari fakultas lain, mereka jadi sering terpinggirkan karena saat diajak berbicara seringkali tidak nyambung. Entah masalah cara komunikasi yang sulit dimengerti atau topik pembicaraan yang jadi tidak menarik satu sama lain. Apakah mereka menciptakan “batasan” itu, atau sebetulnya kita yang memberi batas terhadap mereka? Meminggirkan mereka dari pergaulan sehari-hari, membuatnya seakan-akan menjadi minoritas, padahal mereka adalah bagian dari kita, sama-sama mahasiswa teknik.

Apakah karena masalah perbedaan budaya? Pengaruh letak geografis? Atau alasan komunikasi? Jadi sebetulnya sudahkah kita bertoleransi dan menghargai keberagaman?


2 Responses to “mereka yang di ujung”


  1. November 2, 2011 at 8:46 am

    Bhineka Tunggal Ika, semboyan yang semakin lama semakin hilang keberadaannya. Perbedaan memang terkadang seakan-akan seperti sebuah batasan antara dua hal atau lebih tapi menurut saya ada atau tidaknya batasan tersebut ditentukan oleh hal-hal atau unsur-unsur yang ada di dalam perbedaan itu sendiri.

    Artikel yang berjudul “mereka yang diujung” ini menurut saya sudah cukup menggambarkan tentang batasan yang tercipta karena sebuah perbedaan. Namun apakah hal itu harus terjadi sampai di area yang memiliki tingkat interaksi yang cukup tinggi seperti di Kantek UI?

    Jika ditinjau dari kasus ini, batasan yang tercipta dari sebuah perbedaan, sebenarnya ditentukan oleh orang-orang yang menciptakan perbedaan itu sendiri. Jika saja teman-teman dari orang yang “terpinggirkan” tersebut benar-benar sadar dan tidak menganggapnya sebagai “sesuatu” yang berbeda dari mereka, batasan itu tidak akan ada. Sangat amat disayangkan sekali hal tersebut terjadi di area seperti ini.

    Menurut saya perbedaan dan keberagaman bukanlah hal yang malah menjadi pemisah, karena sebenarnya jika keberagaman dan perbedaan tersebut disatukan akan membentuk sebuah harmoni dan komposisi kehidupan yang indah.

  2. November 2, 2011 at 9:34 pm

    Bisa jadi karena ia merasa ‘berbeda’ (kalau seperti ini, berarti ia yang memberi batasan terhadap sekitarnya) atau sebenarnya memang tidak ada yang benar-benar ia kenal disitu, walaupun satu departemen mungkin berbeda angkatan. Menurut saya, ‘perbedaan’ itu tidak hanya dari letak geografis atau budaya karena sebenarnya semua orang dengan orang lainnya pasti ‘berbeda’. dan sejalan dengan semakin tidak adanya batasan satu dengan yang lain, perbedaan itu pun semakin tidak menjadi ‘batasan’ (bukan berarti batasannya hilang) ~~seperti bermain kata dengan perbedaan dan batasanšŸ˜€


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: