02
Nov
11

Psikologi dan Warna

Warna dan Psikologi

Sebagai seorang mahasiswa arsitek pastilah kita selalu berurusan dengan warna. Fakta tentang warna ternyata memiliki keunikan-keunikan sendiri terhadap pengaruh psikologis manusia. Seperti yang kita ketahui, warna terdiri dari warna-warna primer (merah, biru, kuning), warna sekunder dan warna campuran yang semakin variatif. Beberapa warna ternyata memiliki efek psikologis yang cukup kuat terhadap manusia.

–          Merah : Warna merah seringkali diartikan sebagai sebuah warna yang berani, penuh semangat, agresif dan menarik perhatian. Sehari-hari, warna ini mudah ditemukan misalnya di baju, bis, tiang, dinding dan lainnya. Namun sedikit yang mengetahui bahwa warna merah juga merupakan warna yang dapat menggugah selera makan. Apabila ditinjau kembali, beberapa restoran makan terkenal menggunakan warna merah untuk hal ini. Misalnya: KFC, Pizza Hut dan lainnya. Bahkan dietician sendiri menyarankan warna biru untuk orang yang ingin menurunkan berat.

–          Kuning : Warna kuning merupakan warna yang dianggap netral namun percaya diri, membangkitkan semangat, dan akrab. Warna kuning ini ternyata seringkali dianggap warna yang mencerminkan kurangnya penemuan sikap namun disisi lain warna ini juga mampu menambah semangat. Warna kuning seringkali dipakai di area toilet untuk menambah efek kesegaran. Namun sedikit orang yang mengetahui bahwa perpaduan warna antara kuning dan merah yaitu oranye, merupakan warna yang sering disebut sebagai warna kesehatan dimana warna ini sering hadir di buah-buahan seperti jeruk dan papaya.

–          Biru : Warna biru seringkali dianggap sebagai warna yang menenangkan dan damai. Namun ternyata warna biru seringkali disebut warna yang menurunkan gairah atau semangat. Selain itu, warna biru disebut juga dengan warna persetujuan dimana orang lebih mudah menurut apabila melihat warna ini. Terlampau banyak warna biru dapat menyebabkan efek yang terasa dingin dan kehilangan ambisi. Warna ini sering digunakan untuk ruang-ruang dimana aktivitas yang lebih tidak dibutuhkan, seperti ruang meditasi dan kamar tidur.

–          Hijau : Warna hijau merupakan cerminan utama dari kesehatan dan keseimbangan yang biasa berhubungan dengan alam. Warna hijau seringkali dianggap warna perdamaian. Warna ini bagus digunakan untuk ruang-ruang yang mencerminkan etnis dan alam dimana warna ini seringkali disambungkan dengan elemen kayu contohnya saung di tengah pepohonan, atau di kebun kecil.

–          Hitam : Warna hitam memiliki kesan yang teguh, angkuh dan tegas namun juga memiliki kesan yang suram dan hampa. Namun tanpa diketahui, warna hitam merupakan lambing dari elemen air karena ketenangannya. Warna hitam merupakan warna yang sering disalah pahami karena seringkali disambungkan dengan kesuraman seperti di kuburan atau gua gelap. Namun warna ini bagus untuk member kesan ketenangan dan kedalaman seperti di aksen-aksen rumah. Sekarang, warna ini sudah lebih leluasa digunakan dalam beberapa aspek rumah.

–          Putih : Warna putih merupakan warna yang dianggap suci, jujur dan malaikat. Namun warna ini memiliki konotasi berbeda di tempat lain. Di jepang, warna kematian bukanlah warna hitam tetapi warna putih. Warna putih seringkali memberikan kesan yang lebih steril dan bersih. Oleh karena itu kebanyakan rumah sakit menggunakan warna ini. Penggunaan warna putih ini seringkali digunakan hingga untuk rumah sakit jiwa. Namun penggunaan warna ini ternyata kurang membantu memulihkan kejiwaan orang di rumah sakit jiwa itu karena penggunaan satu warna ini saja dapat menyebabkan kekosongan psikis si pasien tersebut.

Pada akhirnya penilaian mengenai warna selalu berpindah tangan kepada subjeknya sendiri walaupun mungkin dengan alasan yang kurang tepat. Saya sendiri pernah melihat sebuah kamar mandi yang di cat hitam dan juga sebuah rumah sakit dengan cat merah. Saya sendiri menjadikan warna hitam, putih dan merah sebagai kesukaan saya. Warna apa yang akan Anda pilih?

http://www.kuncirumah.com/article-a-tips/50-mengenal-efek-psikologi-warna.html

http://cafedemira.multiply.com/journal/item/260/Cafe_Info_Pengaruh_warna_dalam_Interior_Rumah

-Annisa-


1 Response to “Psikologi dan Warna”


  1. November 13, 2011 at 11:00 pm

    Warna memang tidak ada batasnya saya juga tidak memiliki pilihan warna favorit yang tetap karena biasanya tergantung mood dan kebutuhan (apakah ini menandakan saya plin plan?? hahaha).
    Walaupun tidak sesuai dengan pembahasan utama anda, sebenarnya saya agak tertarik dengan pembahasan warna putih yang dibahas anda. Saya sering merasa kondisi rumah sakit terutama rumah sakit jiwa di masa lalu (saat ini sepertinya banyak rumah sakit yang telah meninggalkan kebiasaan putih berlebihan) malah membuat depresi seorang pasien, Dari dinding, langit-langit dan perabotan semuanya putih. Karena inilah saya mulai mempertanyakan apakah memang putih tersebut yang membangkitkan perasaan depresi, kehampaan pada diri pasien atau warna putih itu sudah identik dengan rumah sakit yang mengakibatkan orang sebenarnya takut pada rumah sakit yang disimbolkan dalam ruangan serba putih tersebut?


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: