02
Nov
11

rumah ruang transit ?

Keluarga saya memiliki rumah di Bekasi. Sekitar 6 tahun yang lalu kami selalu menjalani kehidupan disana. Dari pagi hari saya berangkat kesekolah kemudian kedua orang tua saya berangkat kekantor. Dirumah tinggal seorang pembantu yang membersihkan rumah atau memasak. Siang harinya saya sudah sampai dirumah kembali untuk beristirahat dan makan siang. Pembantu menyiapkan makanan didapur. Tidak lama kemudian ayah pulang dari kantor dan minum kopi diruang tengah. Sekitar malam harinya ibu pulang dari kantor dan kami bersama makan malam. Inilah kehidupan sehari-hari dirumah saya selama 6 tahun yang lalu.

Sekarang ayah bekerja dan tinggal di Yogyakarta hanya pulang 2 bulan sekali. Dirumah juga tidak ada pembantu lagi. Saat masuk kuliah saya mulai nge-kos di depok. Saya pun hanya berada dirumah diakhir pekan  dan rumah hanya menjadi ruang untuk beristirahat di akhir pekan saja. Hanya ibu yang berada dirumah pada setiap harinya. Ia pun berangkat dipagi hari dan pulang pada malam hari. Jadi singkatnya rumah menjadi tempat yang jarang ditempati oleh kami sekeluarga. Sehari-hari rumah menjadi kosong kecuali akhir pekan. Saya bersama ayah pun seperti memiliki rumah yang baru yaitu saya lebih sering berada dikosan dan ayah saya yang menepati rumah di Yogyakarta. Jam kuliah pun terhitung panjang dan saya lebih sering berada di luar kosan.

Rumah yang sebelumnya merupakan ruang dimana tempat bernaung dan berkumpul bersama anggota keluarga sekarang hanya menjadi ruang untuk transit. Keseharian lebih banyak dilakukan diluar rumah. Hal ini akibat dari tuntutan kehidupan sehingga terdesak untuk menjalani aktivitas diluar rumah. Luar rumah menjadi ruang yang lebih sering ditempati. Waktu telah berjalan bersamaan dengan aktivitas yang kita lakukan diluar. Ruang-ruang yang kita tempati makin banyak. Ruang berkembang menjadi semakin luas sehingga arsitektur yang kita sebut sebagai “rumah” tidak menjadi satu-satunya tempat untuk tinggal namun arsitektur juga menjadi tujuan atau tempat kita beraktivitas diluar rumah.

Hal ini yang sering terjadi pada mereka yang tinggal di pinggiran kota dan menjalani kehidupan seperti bekerja dikota seperti Jakarta. Rumah telah menjadi ruang untuk pulang sejenak dan kehidupan sesungguhnya berada di kota tempat mereka beraktivitas agar tetap bertahan hidup. “Kita telah lama menjadi penghuni waktu sementara rumah telah menjelma menjadi sekadar ruang transit” dikutip dari buku Arsitektur yang Lain oleh Avianti Armand.


0 Responses to “rumah ruang transit ?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: