02
Nov
11

SEPEDA… hobi, trend, komunitas, keseharian?

Beberapa tahun terakhir pengguna sepeda semakin meningkat. Penggunaannya pun dilatarbelakangi tujuan yang berbeda-beda. Ada yang bersepeda karena memang hobi, untuk berolah raga, berkontribusi menjaga lingkungan, atau memang sekadar untuk bergaya karena sepeda saat ini memang sedang nge-trend.

Faktor yang membuat pengguna sepeda saat ini semakin marak bermula dari adanya gerakan “bike to work” yang dipelopori oleh para pecinta lingkungan. Kalau dipikir kendaraan apa yang tidak menghasilkan pencemaran lingkungan namun dapat digunakan secara pribadi. Bersepeda adalah jawabannya yang paling sesuai. Atau masih mau mencoba alternatif lain? Berkuda harus memelihara kuda terlebih dahulu dan sulit apabila memarkir seekor kuda. Naik skateboard atau sepatu roda memiliki nilai kecelakaan yang lebih tinggi dan juga lebih lambat untuk mencapai tujuan.

Pemerintah daerah juga membantu maraknya pengguna sepeda dengan adanya pemberlakuan “car free day” (CFD) atau hari bebas kendaraan bermotor. Penerapan  car free day sudah diterapkan secara rutin di beberapa kota antara lain DKI Jakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya. Sebagian masyarakat menjadi memiliki rutinitas baru yaitu CFD-an tiap minggu baik sendiri, bersama keluarga, atau dengan teman-teman. CFD juga memiliki keseruan tersendiri selain sebagai ajang olah raga, kita dapat melihat padatnya jalan yang dibanjiri sepeda, para pengendara yang berpenampilan nyentrik, sepeda-sepeda yang unik, atau komunitas sepeda yang tengah mengaktualisasi diri.

Komunitas sepeda saat ini semakin berkembang. Terbentuknya kelompok ini  didasari karena kesamaan hobi dengan sepeda yang sejenis serta kesamaan regional sehingga memudahkan mereka untuk berkumpul. Bila komunitas pesepeda kita klasifikasikan terdapat 6 jenis kelompok yang berbeda, yaitu:

1. Sepeda fixie

Sepeda yang menarik karena warnanya yang umumnya mencolok dan sistem pengendalian khusus yaitu dengan sistem doltrap / fixed gear, jadi roda berputar searah dengan kayuhan pedal, apabila dikayuh ke depan sepeda berjalan maju, apabila dikayuh ke belakang sepeda berjalan mundur, sehingga sepeda fixie biasanya tidak menggunakan rem lagi.

2. Roadbike atau sepeda balap

Sepeda yang biasa digunakan untuk berjalan di rute yang datar dan beraspal. Kecepatan dan akselerasi adalah elemen penting yang diperhatikan untuk sepeda ini.

3. Mountain bike (MTB) / sepeda gunung

Sepeda yang biasa digunakan untuk lintas alam dan tahan dengan keadaan yang cukup ekstrim, sehingga kekuatan sepeda ini biasanya 3 kali lebih kuat dari roadbike. Selain itu sistem rem dan penggunaan gigi sangat diperhatikan demi keamanan penggunaan sepeda ini apabila di medannya.

4. BMX (Bike Motor Cross)

Sepeda ini digunakan untuk melakukan trik dan atraksi. Umumnya ukuran sepeda menggunakan roda berukuran 20” dan jog yang rendah untuk memudahkan atraksi dengan sepeda. Sebagian pengguna yang memang hobi dengan trik BMX tidak menggunakan rem pada sepedanya, namun tidak disarankan apabila difungsikan sebagai alat mobilisasi.

5. Lowrider bike atau custom bike

Sepeda ini cenderung diperhatikan estetikanya, sehingga bentuk-bentuknya sendiri tidak didasari dari fungsi. Dinamakan low rider karena umumnya sepeda ini menggunakan jog yang rendah. Awal mula berkembangnya sepeda lowrider dimulai tahun1960 di Amerika di mana pada saat itu lowride car sedang trend dikalangan pemuda kelas atas, sehingga kalangan kelas menengah tidak mau kalah dengan memodifikasi sepedanya menjadi lowride.

6. Sepeda onthel

Disebut juga sepeda unta, kebo, atau pit pancal. Sepeda ini merupakan sepeda yang umum digunakan pada zaman Belanda karena sepeda jenis-jenis lain belum masuk ke Indonesia. Namun eksistensi sepeda ini tetap ada hingga sekarang walaupun jumlahnya jauh sedikit. Ciri khas sepeda ini ada pada ukurannya yang tinggi (ukuran roda 26”) dan cat yang digunakan umumnya berwarna hitam atau cokelat tua.

Latar belakang seseorang dalam menggunakan sepeda memang berbeda-beda, baik karena kebutuhan, hobi, trend, komunitas, namun kesemuanya itu sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Kalau kamu bagaimana?

referensi: wikipedia.org, sepedaku.com


2 Responses to “SEPEDA… hobi, trend, komunitas, keseharian?”


  1. November 22, 2011 at 11:08 pm

    Sangat setuju dengan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi. Seharusnya pemerintah harus lebih menggencarkan lagi program agar masyarakat semakin tertarik menggunakan sepeda dan mulai meninggalkan kendaraan bermotor. Terutama di Jakarta, kota-kota di Indonesia seakan sudah menjadi kota otomobil. jalan-jalan pun dibuat untuk memfasilitasi kepentingan mobil motor, bukannya pejalan kaki atau sepeda. Maka mari menggencarkan pemakaian kendaraan bebas motor.

  2. 2 mijohanes
    December 5, 2011 at 7:07 pm

    menarik bagaimana sebuah trend bisa terbentuk, yang kemudian dapat menjadi trigger. Sepeda sebagai trend merupakan salah satu dampak positif dari trend. Bagaimana sebuat trend dapat terjadi? hal ini dapat menjadi cara untuk mempromosikan hidup positif dalam keseharian.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: