02
Nov
11

Siapa pembantu, yang membantu, dan yang dibantu?

Keseharian ini mulai terjadi sejak saya tinggal bersama keluarga kedua ayah saya. Saya yang awalnya hanya tinggal bertiga dengan saudara kandung kini harus tinggal bersama ibu tiri beserta anak – anaknya yang berjumlah tiga pula. Bahkan kini bertambah 1 lagi tepat pada tanggal 1-11-11.

Sejak kami tinggal bersama, setiap orang pada awalnya punya kehidupan masing-masing. Saya sebagai anak bawaan pun enggan untuk melakukan hal semaunya. Saya membereskan kamar sendiri, menyuci baju sendiri, serta membereskan piring gelas sendiri setelah makan. Semua saudara kandung saya pun seperti itu. Memenuhi kebutuhan serba sendiri karena tidak ingin merepotkan ibu tiri yang notabene juga harus mengurus anaknya sendiri. Kecuali untuk makanan, kami semua mendapat makanan yang sama setiap hari, tidak dibedakan siapa kandung siapa tiri.

Menariknya, ibu baru saya ini melakukan semua serba sendiri. Ketika kami (saudara kandung) hendak membantu, dia seperti tidak ingin dibantu, seakan mengatakan “ini pekerjaan saya, biar saya kerjakan”. Kami pun tidak jadi membantu dan malah jadi berleha – leha karena sudah tidak ada yang dapat dikerjakan lagi.

Hal yang terjadi setiap hari memang seperti itu. Sang ibu melakukan semua serba sendiri tanpa ingin dibantu siapapun. Begitu pula ketika ia hamil anak keempat. Semua dikerjakan sendiri. Padahal ketika kami ingin membantu, dia tetap mengerjakan segala sesuatu sendirian. Pergi belanja, menyuci baju, membayar tagihan listrik dan air, keluar kota mengurus rumah kontrakan, dan lain – lain.

Kami sebagai anak tiri bagi dia seakan tidak punya peran di rumah. Bahkan lantai atas sebagai tempat saya dan kakak kandung saya tidur, tidak terjamah olehnya. Wilayah kekuasaannya di bawah, wilayah kekuasaan kami di atas. Meski begitu, baju saya yang saya tinggal di bawah kerap dia cuci walau saya sudah bilang biar saya sendiri menyuci.

Ketika sang ibu hamil tua, kami menyarankan untuk menyewa pembantu namun ia tidak mau. Ia bilang nanti tidak ada hal yang bisa ia kerjakan. Tapi di belakang kami dia kerap mengomel kalau kami tidak ikut serta membantu. Loh, padahal dia sendiri yang tidak ingin dibantu.

Akhirnya kami sering berinisiatif untuk membantunya diam-diam, seperti menyuci piring serta mengepel lantai. Namun lucunya, setiap kami hendak melakukannya, bak cuci piring yang semalem penuh kini sudah kosong. Lantai yang semalam terasa kasar kini sudah halus. Saya yang setiap hari bangun jam 4 pagi untuk siap-siap kuliah, iseng untuk turun ke lantai bawah dan ternyata sang ibu sedang bekerja sendirian. Hmmm, kok terasa seperti yang dijelaskan dalam kuliah tentang domestic space.

Hingga sekarang pun saya masih bingung harus berperan sebagai apa di rumah, terlebih lagi sang ibu baru melahirkan, tepat di minggu saya UTS, hha… (curcol)

Dari segala kejadian ini saya berpikir, apakah ini yang disebut kehidupan sehari – hari dalam berkeluarga? Bukankah setiap anggota harusnya punya peran dan diberi kesempatan untuk berperan? Apakah perbedaan darah menjadi penyebabnya?

Jadi sebenarnya siapa yang membantu dan dibantu dan yang membuat dirinya terlihat seperti pembantu (sekaligus bos)?


0 Responses to “Siapa pembantu, yang membantu, dan yang dibantu?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: