06
Nov
11

TYPES OF TRAIN PASSENGERS

Moda transportasi massal yang beroperasi di kota besar seperti DKI Jakarta dan sekitarnya bermacam jenisnya,walaupun masih terbatas pada jalur darat saja mengingat keterbatasan teknologi dan ekonomi peradaban kini. Berangkat dari keterbatasan itu bukan berarti menjadi penghalang keragaman transportasi. Mulai dari beroda dua hingga ratusan, berpenumpang minimal hingga maksimal, ternaungi atau tidak, sistem pembayaran jasa yang teratur atau tidak, kecepatan tinggi salip-menyalip dan yang kerap bertengger di pinggir jalan hingga memancing emosi penumpangnya. Semua itu ada.Semua itu memiliki tipe dan kondisinya masing-masing sebagai penyesuaian terhadap jalur operasinya, target penumpang, sistem operasi, dan faktor personal dari subyektif, kemauan, dan kemampuan ‘sopir’ tiap unit moda transportasi tersebut terhadap kebutuhannya mencari nafkah, kepatuhan terhadap sistem dan kesehariannya.

Keseharian penulis sebagai mahasiswa dan tuntutan jarak serta waktu memutuskan untuk menjatuhkan pilihan pada opsi moda transportasi Kereta Rangkaian Listrik (KRL) yang beroperasi Jakarta – Bogor. Cukup menghabiskan waktu tiga kali lebih cepat dari angkutan massal lainnya yang juga membutuhkan tiga kali transit atau pergantian angkutan.Selama perjalanan dalam KRL, penulis menemukan keseharian yang unik untuk disimak. Sebagai alternatif transportasi, KRL mengangkut ribuan orang tiap harinya baik itu yang membayar tiket maupun tidak, dan ribuan macam kepribadian pula yang membutuhkan akses cepat, santai, atau nyaman hingga berkeluh kesah atas pelayanan KRL. Andai boleh dikelompokkan, penulis melihat ada beberapa kesamaan dilihat dari aktivitas dan reaksinya terhadap spatial, waktu yang dihabiskan, dan kesempatan yang dimanfaatkan di sela dua variabel sebelumnya.

null
CHATTER; mengobrol, mengoceh, berwacana, dan apapun itu adalah interaksi yang dapat dilakukan oleh minimal dua orang atau lebih. Jenis ini biasanya dilakukan secara berdekatan karena memang dibutuhkan jarak intim untuk mengobrol di tempat umum. Perbedaan aktivitas yang dilakukan jenis ini dapat dinilai dari volume suara dan gerakan yang dilakukan. Semakin keras suara yang dikeluarkan dan gerakannya berlebihan, maka semakin mengganggu pula kenyamanan penumpang lainnya. Tunggu dulu. Apakah hanya dapat dilakukan oleh dua orang saja? Bagaimana kalau sendiri? Kasus ini ditemukan pada orang yang menelpon via telepon genggam. Orang-orang tertentu merasa suara di dalam kereta cukup keras hingga ia harus mengeluarkan suara yang keras juga atau memang ada keinginan ‘menunjukkan’ kalau dia punya telepon genggam. Apapun itu, penulis nilai sebagai gangguan individu terhadap publik. Berbanding terbalik dengan yang asik dengan telepon genggamnya yang bersifat messaging.aktivitas ini cenderung tidak mengganggu sekitarnya.

MUSIC-ORIENTED; pasang ear-phone atau head-phone, colok kabelnya ke music player, lalu asik sendiri. Berikut gambaran umum menjadi pribadi yang satu ini. Tidak dibutuhkan beramai- ramai orang untuk melakukannya seperti sebelumnya. Dapat dipastikan jenis ini dilakukan hanya oleh seorang diri tapi tersebar di pelosok KRL. Penulis menilai aktivitas ini semacam memutus hubungan dengan spatial di sekitarnya secara audio, mengingat fokus pendengarannya saat itu tertuju pada yang didengarnya dari music player tersebut. Ketidakacuhan dan ketidakpekaan terhadap sekitar menjadi penyakit yang timbul dari aktivitas ini. Bukan berarti cara yang salah. Ada kalanya menjadi cara yang tepat ketika seperti contohnya tidak mau diganggu dengan keelokan suara pedangdut atau pengamen KRL yang sangat mengganggu atau sekedar ingin menyamankan diri dari kondisi yang terjepit, bahkan ingin memastikan kalau gadget anda tidak tercopet, ini salah satu caranya.

SLEEPER; tidur juga menjadi pilihan aktivitas yang sering ditemui di KRL. Syarat utama dapat melakukan ini tentu saja mendapat tempat duduk. Dengan begitu, orang dapat bersandar dan melepaskan beban tubuhnya hingga merasa santai. Cara ini sebenarnya juga menutup kepekaan diri dari orang di sekitarnya. Bagaimana kalau ada penumpang yang harus diprioritaskan untuk duduk seperti lansia, cacat, atau ibu hamil sedangkan semua penumpang KRL tidur semua? Ya sesungguhnya bukan salah subyek yang melakukan aktivitas ini kalau memang dia tidak memiliki waktu beristirahat di tempat dan waktu yang semestinya. Seperti contohnya: mahasiswa arsitektur.

WALKING VENDORS: Pedagang berjalan, pengamen, pengemis, penyapu lorong kereta, dan lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan satu –persatu. Apakah mereka penumpang? Apakah mereka membeli tiket? Apakah aktivitasnya sesuai dengan ruangnya? Apakah tidak ada yang menertibkannya? Jawabannya tentu saja sudah jelas tidak. Kendati demikian, kegiatan itu dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Tingkat kemiskinan di Negara Indonesia sebagai Negara berkembang yang masih tinggi menjadi motor utama masih beredarnya aktivitas ini. Salah siapa? Di sini penulis rasa tidak perlu ada tuduhan di sini. Memang beberapa kali oknum-oknum ini terjaring razia yang dilakukan petugas KRL, tetapi tidak ada kelanjutan yang lebih baik pada realitanya.

UNSEEN SNATCHER; copet atau maling. Adalah penumpang gelap yang paling perlu diwaspadai oleh penumpang lainnya. Biasanya aktivitas ini pun tak dilakukan sendiri, melainkan oleh beberapa orang dan terorganisir dengan rencana yang apik. Maka dari itu,keberadaannya kerap tidak disadari oleh penumpang lainnya. Aktivitasnya beroperasi tidak hanya di kereta yang sesak tetapi juga kereta yang sangat sepi, KRL yang berangkat paling pagi hingga KRL malam yang terakhir,mulai dari yang berdandan preman hingga kemeja kantoran. Sangat random dan lihai bak bunglon yang pandai menyamar di antara lingkungannya. Namun bukan berarti peristiwa yang diinginkan tak mungkin untuk dihindari. Selain waspada, memilih tempat pun ada siasatnya yang jauh lebih aman yaitu di tengah-tengah gerbong alias menjauhkan diri dari pintu. Pencopet sudah tentu bekerja dengan cepat, bekerja dengan cepat tentu dibutuhkan gerakan yang cepat. Gerakan yang cepat dapat terbantu dengan ukuran spatial yang leluasa dan mudah dijangkau. Secara analitik, pencopet akan beroperasi di dekat pintu yang memudahkannya untuk kabur.
null
Tidak hanya aktivitas di atas yang terdapat di KRL. Ada kegiatan lainnya seperti membaca bahkan mengerjakan tugas, akan tetapi lazimnya haltersebut tidak dilakukan dominan sepanjang perjalanan. Berdasarkan keseharian penulis di atas, dapat disimpulkan untuk menjadi penumpang yang manapun dan bagaimanapun terserah dan tergantung pada pribadi masing-masing. Asalkan tetap mematuhi aturan sebelum dan selama perjalanan KRL, tidak mengganggu kenyamanan penumpang lain, serta tetap waspada dan tanggap terhadap lingkungan di sekitar personal space.


2 Responses to “TYPES OF TRAIN PASSENGERS”


  1. December 26, 2011 at 11:45 pm

    Menurut tulisan Anda, saya termasuk di kategori chatter, sleeper, dan music oriented, sebagaimana pengguna jasa kereta ekonomi pada umumnya. Saya menjadi salah satu dari pelaku aktivitas itu berdasarkan kondisi diri, waktu, tempat dan posisi saya berada, serta keadaan sekitar saya. Di saat lelah, saya memilih menjadi music oriented passenger sambil memperhatikan kondisi sekitar. Di saat bersama teman, saya menjadi chatter. Namun, menurut saya tempat dan posisi saya berada yang paling menentukan aktivitas yang saya lakukan. Seperti yang Anda tulis, bagian dekat pintu kereta merupakan bagian yang tak aman, sehingga saya tidak berani melakukan kegiatan yang berhubungan dengan handphone dan alat elektonik lainnya. Antara duduk dan berdiri pun cukup menimbulkan perbedaan dengan aktivitas yang saya lakukan. Dengan posisi yang nyaman seperti duduk, membaca, mendengarkan musik, dan mengirim pesan via sms cenderung akan saya lakukan. Posisi yang masih terbilang cukup nyaman seperti bersandar juga masih mengakomodasi kegiatan-kegiatan itu.

  2. December 29, 2011 at 9:01 pm

    Mungkin agak sedikit menyimpang dari tema ini tapi sewaktu saya membaca artikel ini, saya ingat dengan kuliah everyday beberapa hari lalu mengenai perkembangan dunia maya.
    Ada 1 lagi kebiasaan yang saya rasa cukup dominan dilakukan oleh sekelompok orang tertentu, *biasanya remaja yang sudah terbiasa dengan teknologi, yaitu memainkan hp di dalam kereta
    Saya sering melihat beberapa orang yang tanpa ragu-ragu mengeluarkan handphone mereka di dalam kereta, bukan hanya untuk menelpon, ataupun mendengarkan lagu, melainkan hanya untuk mengecek sms, bbm, memainkan permainan di hp, ataupun browsing internet *kegiatan-kegiatan memegang hp dalam waktu yang lama*.
    Mungkin saat ini, perkembangan dunia maya telah membuka kesempatan orang untuk berkomunikasi dimanapun mereka berada, dan orang-orang pun memanfaatkannya di sela-sela mereka menunggu.
    Sehingga fenomena ini pun bisa kita temukan dalam transportasi umum, salah satunya adalah kereta.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: