11
Nov
11

Mau meniru atau apapun, lakukan dengan benar

Film korea bisa dibilang sedang sangat membooming di Indonesia. Dari segala suku bangsa, gender dan umur, semuanya tergila-gila dengan film korea. Saya sendiri pun salah satu penggemar film korea, mungkin bukan penggemar berat. Namun saya lebih memillih menonton film Korea dibandingkan dengan film-film lain, terutama film Indonesia. Begitu saja dengan orang tua saya, sejak memasang TV kabel, mereka lebih cenderung memilih film luar. Bahkan ayah saya cukup hafal dengan jadwal tayang film korea di TV kabel tersebut.

Sebetulnya, apa yang menyebabkan hal tersebut menjadi lebih disukai oleh orang? Wajah kah? Musik kah? atau mungkin dari segi cerita atau kemasan? Saya secara pribadi menganggap semua faktor tersebut, baik dari segi aktor, soundtrack, cerita, pengambilan gambar, sampai skenario. Mau dilihat dari segi manapun menurut saya kualitas film luar (dalam hal ini film korea) memang jauh lebih baik dibandingkan film Indonesia.

Jika saya menonton film Korea, saya bisa saja ikut terbawa emosi dari film tersebut, saat sedang sedih, saya jadi ikut sedih hingga menangis, saat sedang lucu, dapat membuat saya tertawa sampai terpingkal-pingkal, saat sedang menyebalkan, saya jadi ikut emosi dengan si tokoh jahat, membuat saya ikut geregetan dengan si tokoh utama. Namun,  jika saya menonton film Indonesia, terutama yang sekarang-sekarang ini, hanya satu rasa yang saya rasakan, yakni marah. Marah yang saya rasakan disini entah karena merasa jijik, terganggu atau bahkan malu dengan film Indonesia sendiri. Saya pernah menonton suatu adegan film (sinetron) Indonesia, dimana menurut saya baik dari segi akting, pengambilan gambar ataupun ceritanya amatlah sangat buruk sehingga saya tidak kuat untuk menonton satu scene itu saja sampai selesai. Begitu saya merekakan ulang satu cuplikan adegan yang bahkan belum selesai saya tonton tersebut pada teman saya, mereka tertawa miris akan hal tersebut. Dan ternyata mereka pun merasakan hal yang sama akan film-film di Indonesia sehingga mereka melarikan diri ke film-film luar lainnya. setelah pembicaraan tersebut bahkan jika kami menyinggung film Indonesia, yang keluar dari mulut kami hanyalah cacian yang tak kunjung habisnya.

Lebih parahnya lagi, film-film di Indonesia mencapai suatu titik dimana bisa dibilang meniru atau menjiplak film luar tersebut, entah Korea, entah tTaiwan ataupun Amerika. bahkan bukan hanya film saja yang ditiru, acara TV lainnya seperti reality show pun ditiru. Sebenarnya mengapa hal ini bisa terjadi? memang mungkin para produser melihat tren yang sedang ada dimasyarakat sehingga mereka membuat film-film tersebut dibat menjadi setipe semua. Namun sebetulnya mana yang lebih dulu? Orang-orang menonton film Korea sehingga film-film di Indonesia menjadi seperti film Korea? Atau kualitas film Indonesia yang menjadi buruk dulu maka orang-orang melarikan diri film-film korea?

Sebetulnya, dibalik semua pertanyaan-pertanyaan tersebut yang paling membuat saya (bisa dibilang) kesal adalah ketidakkonsistenan dan ‘keseratus persenan’ orang Indonesia dalam melakukan sesuatu. Mereka melakukannya dengan setengah-setengah, seperti tidak niat. Sebetulnya jika memang dilakukan dengan sungguh-sungguh bahkan yang palsupun bisa menjadi lebih bagus daripada yang original bukan?

PS: Hal ini bukan berarti saya mendukung plagiarisme loh. Namun jika memang ingin meniru, lakukanlah dengan benar


0 Responses to “Mau meniru atau apapun, lakukan dengan benar”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: