14
Dec
11

menjajah dan terjajah

Dalam sebuah keluarga biasanya terdapat bapak, ibu, dan anak-anaknya, dimana mereka tinggal dalam satu rumah. Dalam rumah sayapun seperti itu, saya tinggal bersama ibu saya, dan kedua kakak saya, tapi kakak saya yang perempuan sekarang sudah pindah rumah, karena dia sudah menikah, sehingga saya sekarang tinggal bersama ibu dan kakak laki-laki saya.

Dulu sebelum kakak saya yang perempuan pindah rumah, dari kami 3 bersaudara hanya dialah yang mempunyai kamar sendiri, dimana saya dan kakak saya berbagi satu kamar. Sebagai anak laki-laki, kami memang mempunyai kebiasaan untuk meninggalkan kamar kami dalam keadaan jorok dan kotor. Pada waktu itu saya masih SMA dan kakak saya sudah bekerja, sehingga dari segi pemakaian kamar, waktu itu sayalah yang paling banyak menggunakan kamar kami, karena saya pulang lebih cepat dari kakak saya, dimana pada waktu itu saya pulang setiap jam 3 dari sekolah, dan kakak saya pulang jam 8 malam dari kerjanya. Tapi dalam kamar kami, lebih banyak terdapat barang-barang kakak saya daripada saya, karena kakak saya adalah seorang kolektor mainan, dan karena dia sudah bekerja, setiap kali dia mendapat gaji, hal pertama yang dia akan beli adalah mainan baru untuk ditambahkan ke koleksinya. Pada awalnya memang tidak apa-apa, tapi seiring dengan berjalannya waktu, semakin lama koleksi mainan kakak saya semakin bertambah, sehingga akhirnya kamar kami pun dipenuhi oleh mainan kakak saya, dari mulai bagian atas lemari baju, sampai ke kolong bawah tempat tidur kami.

Pada saat saya mulai kuliah di arsitektur, saya menjadi jarang tidur di kamar dan lebih sering tidur di luar kamar, karena saya tidak ingin mengganggu tidur kakak saya pada saat saya begadang. Hal ini menyebabkan tempat tidur saya di kamar menjadi tidak terpakai dan kosong. Karena kakak saya tetap terus menambah koleksi mainannya, lama kelamaan kakak saya kehabisan tempat untuk menaruh koleksi mainannya,dan karena dia tidak mau menaruh koleksinya di gudang, akhirnya dia terpaksa memuatkan koleksinya dalam kamar. Karena saya pada waktu itu sudah jarang tidur dalam kamar, sehingga sedikit demi sedikit dia mulai menaruh koleksi mainannya di tempat tidur saya. Pada saat masih sedikit mainan yang ditaruh di tempat tidur saya, saya suka memindahkan koleksi mainannya ke lantai, kalau saya sedang ingin tidur di tempat tidur saya, tapi karena koleksi mainannya terus bertambah akhirnya lama kelamaan saya juga semakin malas untuk memindahkan mainannya ke bawah, dan lebih memilih untuk tidur di luar kamar. Lama kelamaan tempat tidur sayapun menjadi penuh dengan koleksi mainan kakak saya, dan sayapun sejak saat itu sudah tidak tidur di kamar lagi.

Hal ini tetap berjalan terus sampai akhirnya kakak perempuan saya pindah rumah karena menikah, dan saya mendapatkan kamar saya sendiri. Sangat lucu apabila saya mengingat-ingat hal ini, karena sebagai 2 orang yang berbagi satu kamar, kami seharusnya bisa secara seimbang menjadikan kamar itu milik kami berdua, tapi dengan seiring berjalannya waktu, kamar itu bukan menjadi kamar kami, tapi lebih menjadi kamar kakak saya dimana saya menaruh barang-barang saya, dan kadang tidur di situ.


3 Responses to “menjajah dan terjajah”


  1. December 27, 2011 at 12:25 am

    Menurut saya penjajahan itu bisa terjadi karena faktor usia. Saudara yang berusia jauh lebih tua dari Anda cenderung dapat melakukan hal itu karena ia sudah ‘dewasa’, di usia produktif di mana ia dianggap sudah dapat melakukan segala sesuatu tanpa bimbingan. Kemungkinan lainnya adalah faktor ketidakacuhan terhadap kondisi tersebut. Menurut saya ketidakacuhan itu mungkin timbul dari penggunaan ‘strata’ dalam keluarga ataupun dari terpenuhinya syarat-syarat kenyamanan, yaitu ‘asal saya dapat tidur’, atau ‘asal tidak mengganggu’. Yang manapun penyebabnya, saya setuju dengan pendapat Anda bahwa seharusnya membagi kamar dilakukan secara seimbang sesuai dengan kebutuhan utama masing-masing pengguna kamar.

  2. December 28, 2011 at 11:26 pm

    Hal serupa juga saya alami. Karena hampir seminggu berada di kos, tempat tidur di rumah “nganggur” sehingga digunakan oleh adik sebagai tempat belajar karena masih sekolah. Terkadang saat sudah pulang ke rumah pun masih banyak buku-buku, bekas hapusan dan alat tulis yang tertinggal di atasnya. Awalnya saya juga menyingkirkannya sendiri, tapi karena tidak mengkomunikasikan keberatan tersebut, adik saya menganggap tindakannya tidak mengganggu, sehingga hal ini menjadi kebiasaannya. Sampai bada akhirnya saya mengajukan keberatan dan setelah itu, setiap saya kembali ke rumah saya bisa langsung memakai kasur saya sendiri tanpa repot-repot. Bagi saya memang tidak ada salahnya menggunakan tempat orang yang tidak terpakai untuk kegiatan pribadi tapi jangan sampai ada ketidakseimbangan sehingga ada salah satu yang dikorbankan.

  3. January 11, 2012 at 6:04 pm

    Memang apabila dilihat dari kasus saya, penyebab yang paling mungkin memicu terjadinya kasus ini adalah adanya pemikiran “yang dewasa yang lebih berkuasa” di keluarga saya. Terutama karena kakak saya laki-laki, sehingga sering kali ego sang kakak (dimana dia pasti lebih tua) akan memicu tindakannya yang menginginkan sesuatu yang lebih, dalam soal ini area kamar. Hal ini juga didukung oleh tindakan saya sendiri yang tidak menunjukkan suatu kepemilikan/ “sense of belonging” terhadap area kamar saya, sehingga akhirnya bagian kamar saya tidak menjadi seperti milik saya,dan kakak saya pun (yang dipengaruhi oleh egonya) langsung mengambil area kamar saya untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam soal pembagian area kamar, terutama antara kakak dan adik, memang dibutuhkan konsiderasi dan kerjasama dari kedua belah pihak, istilah sehari-harinya adalah “ngalah”. Karena mereka tinggal dalam 1 area kamar yang sama, biasanya sang kakak maupun sang adik harus bisa saling “mengalah” satu dengan yang lainnya, sehingga tercipta suatu keseimbangan yang sesuai dalam pembagian ruang, dan masing-masing area kamar pun mempunyai suatu “sense of belonging” milik masing-masing, sehingga kepemilikan area kamar akan menjadi jelas. Jadi, kita tidak boleh terlalu mementingkan ego kita sehingga merebut area milik orang lain, tapi kita juga tidak boleh terlalu “mengalah” sehingga bisa dijajah


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: