14
Dec
11

Urban Informality

Pada postingan ini saya mencoba untuk membahas urban informality dan kaitannya dengan everyday. Tulisan ini sebagian besar berasal dari tulisan saya yang pernah saya tulis untuk kepentingan lain, tapi saya merasa cukup menarik membahas urban informality dan kaitannya dengan everyday, karena fenomena ini berlangsung dan sering kita temui di kehidupan sehari-hari kita.
Saya mencoba membahasnya melalui film yang ada kaitannya dengan informality sendiri. Film ini sama sekali tidak membahas mengenai informality di Indonesia, tapi mengambil contoh kasus di Filipina, yang menurut saya secara tidak langsung juga menceritakan plot yang serupa dengan apa yang ada di negara kita. On Borrowed Land, film dokumenter yang diproduksi pada tahun 1990 ini, bercerita tentang kehidupan sosial masyarakat kumuh Filipina, tepatnya yang menempati daerah reklamasi di pinggiran pantai Manila. Kehadiran masyarakat ini adalah bentuk nyata dari keinginan masyarakat dari penjuru negara untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kota.


Semenjak jatuhnya rezim otoriter berkuasa Ferdinand Marcos pada tahun 1986 melalui gerakan people power, pemerintah Filipina mulai berbenah. Pada masa kepemimpinan presiden Corazon Aquino, sektor demokrasi dan penanggulangan kemiskinan menjadi perhatian utama. Akan tetapi kebijakan-kebijakan yang dilahirkan pemerintah tidak memenuhi ekpektasi dari masyarakat yang menginginkan lebih setelah bergantinya kekuatan pemerintah ketangan rakyat.

Kurang efektifnya kebijakan pemerintah menyebabkan banyak masyakat dari daerah lain mengadu nasib di kota untuk kehidupan yang lebih baik. Tidak tersedianya lapangan kerja menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan dan menjamurnya shanty (gubuk-gubuk) yang menampung orang-orang miskin kota di pinggiran pantai Manila.

Film ini menggambarkan ketidakcocokan antara kebijakan pemerintah dengan keinginan masyarakat. Pemerintah ingin menciptakan kota manila yang bersih dan jauh dari citra miskin, sementara masyarakat ingin hidup sejahtera. Kebijakan pemerintah melahirkan definisi bahwa shanty-shanty yang ada merupakan pemukiman ilegal, dan harus ada pembersihan untuk itu. Sementara masyarakatnya sendiri menilai bahwa pemerintah seharusnya bekerja berdasarkan aspirasi rakyat dan tanah-tanah reklamasi dan pemukiman di atasnya adalah pemukiman legal dan merupakan hak society.

Pendapat saya, hubungan tidak sejalan antara masyarakat dan pemerintah adalah efek samping dari liberalisasi yang pada saat itu gencar terjadi di negara-negara berkembang. Ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi aspirasi rakyat menghasilkan usaha-usaha masyarakat sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka dari sumber apapun. Sehingga tidak dapat dihindari apabila terciptanya pemukiman-pemukiman kumuh dengan biaya sewa murah yang menjawab masalah masyakat tadi. Tidak saja pemukiman mereka yang dianggap ilegal bahkan sebagian melakukan pekerjaan ilegal seperti menjadi pengemis, pemulung, dst.

Kaitannya dengan informality, segala keterbatasan dan kekurangan yang masyarakat kumuh ini hadapi juga menghadirkan sektor informal di dalam masyarakat. Salah satu contoh efek liberalisasi dapat dilihat dikehidupan sehari-hari. Banyak didalam masyarakat kita yang bekerja di sektor formal, PNS misalnya, yang tetap memanfaatkan sektor informal untuk menutupi kekurangan penghasilan dari sektor formal, seperti berjualan, menawarkan jasa, menjadi promotor bisnis orang lain dengan upah tertentu, dan banyak model lainnya. Hal seperti ini juga terlihat di sepanjang film ini.

Urban Informality sendiri menurut saya tidak dapat dimaknai dengan sudut pandang bahwa informality dalam konteks pembahasan ini diartikan sebagai deviasi dari formality, karena formality sendiri sebenarnya justru berangkat dari informality. Contohnya dalam sudut pandang ekonomi, perbedaan antara sektor formal dan informal berada pada kaitannya dengan pajak, suatu pekerjaan disebut formal ketika hasil dari pekerjaan tersebut patuh dalam hal pembayaran pajak, surat-suratan dan ketentuan-ketentuan lain yang berasal dari negara. Sektor-sektor diluar itu, bagi negara digolongkan pada sektor informal. Akan tetapi menurut saya, sektor-sektor pekerjaan yang digolongkan sebagai sektor formal justru dulunya merupakan sektor informal, tentu saja sebelum “deformalkan” oleh pemerintah.
Dalam konteks urban, saya melihat ada juga fenomena seperti ini. Penggolongan bangunan ilegal dan legal, yang jika ditarik kasusnya dari sudut pandang informality seperti di atas, justru menjadi rancu. Salah satu contohnya seperti yang pernah disampaikan Pak Yandi di kelas mengenai aturan legal bangunan-bangunan di bantaran sungai. Peraturan mengenai batas sempadan sungai di Indonesia yang dianggap legal atau dari sudut pandang saya di atas masuk ke golongan formal, seolah-olah mendeviasikan bangunan-bangunan yang menempel dengan bantaran sungai sebagai sesuatu yang informal atau dalam kasus ini ilegal. Akan tetapi kalau dilihat dari sudut pandang sejarah, kota-kota di indonesia kebanyakan justru tubuh dan berkembang dari tepian-tepian sungai, beberapa malah berkumpul di muara-muara sungai. Jadi yang menjadi pertanyaan adalah, mana yang sebenarnya legal dan mana yang ilegal? Formal atau informal? Atau pertanyaannya malah menyerempet siapa mengganggu siapa?.

Kasus seperti di atas banyak dapat kita temui di kehidupan sehari-hari, misalkan saja pedagang kaki lima, yang dianggap mengganggu tapi malah sebenarnya kita dalam kultur dan kehidupan sehari-hari membutuhkan kehadiran mereka. Atau dari contoh kasus sektor ekonomi informal tadi misalnya, kondisi masyarakat kita, baik kemampuan ekonomi dan sosial memungkinkan menjamurnya spekulan atau black market. Jika yang membedakannya hanyalah masalah pungutan pajak, selama yang memungut pajak masih mengantongkan pungutannya, menurut saya sah-sah saja belanja di black market, lho?

 


1 Response to “Urban Informality”


  1. December 25, 2011 at 8:46 pm

    saya setuju dengan anda bahwa terdapat kultur yang membuat informal dan formal tidaklah menjadi sesuatu yang penting.Pandangan sekilas informal selalu dikatakan mengganggu tetapi justru hal inilah yang menjadi bagian dari society. Kultur disini merupakan pembelajaran sejak dulu dan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya dalam mendesain perlu dilihat lagi bagaimanana lingkungan sekitarnya terbentuk sejak lama hingga kita benar-benar mengetahui apa yang harusnya muncul menjadi desain ditempat itu.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: