20
Dec
11

Berartinya Jalan Raya bagi Kehidupan Kami di Tanah Papua

Jalan raya menurut http://ms.wikipedia.org/wiki/Jalan_raya ialah jalan besar atau main road yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan yang lain. Ini jika kita lihat secara fisik, jalan raya menjadi akses manusia dan makhluk hidup lain, kendaraan bermotor, dan lain-lain untuk bisa berpindah.
Berbeda dengan pengalaman saya dan 16 orang mahasiswa UI lainnya ketika mengikuti program Kuliah Kerja Nyata Tahun 2011 ke Wasior, Papua. Disini kami melihat jalan raya tidak hanya sebagai akses perpindahan, tapi juga memiliki arti yang lebih.

Di jalan raya kami melihat tradisi


Jika biasanya jalan raya digunakan oleh kendaraan, kali ini semua orang menggunakan jalan raya untuk merayakan tradisinya. Saat itu Hari Ulang Tahun Bhayangkara, ini pertama kalinya saya melihat ramai-ramai orang berbaris di sisi-sisi jalan, menunggu kedatangan puluhan kelompok tarian Yospan yang sedang berlomba menampilkan tarian terbaik. Yospan adalah tari pergaulan atau persahabatan para muda-mudi yang merupakan penggabungan dari dua tarian rakyat di Papua, yaitu Yosim dan Pancar. Tari Yospan ini memiliki dua regu pemain yaitu Regu Musisi dan Penari. Tiap kelompok tarian yang berlomba terdiri dari kelompok penari di bagian depan (mereka harus bergerak sepanjang jalan) diiringi para musisi yang menggunakan mobil, gerobak dorong, ataupun manusia yang memainkan alat musik (bayangkan musik ini harus diulang berkali-kali dari start sampai finish)

Di jalan raya kami mencari-cari dan menemukan secercah harapan


Secercah harapan adalah sebutan ‘sinyal’ yang dibuat oleh kami untuk kami agar kami tidak terlihat terlalu sibuk memikirkan ‘handphone’ sedangkan ada program kegiatan yang harus kami lakukan. Kami tidak dapat memungkiri teknologi menjadi sesuatu yang kami butuhkan disini, untuk mengetahui dan memberi kabar sanak saudara ataupun teman-teman di pulau Jawa. Dan kami hanya menemukan secercah harapan ini di jalan raya. Mencari secercah harapan sudah seperti minum obat dalam sehari atau mandi dalam sehari, dua sampai tiga kali sehari. Jika malas berjalan ke jalan raya, kami menitipkan ‘secercah harapan’ itu kepada teman (menitipkan handphone, beruntung jika ada 1-2 pesan masuk :D)

Di jalan raya kami mencuci, mereka mandi


Ketika jalan raya berubah menjadi sungai karena bencana banjir bandang di wasior tahun 2010 lalu telah membuat jalur sungai hancur dan tidak normal, banyak aliran sungai menjadi menyebar ke segala arah (tidak sesuai jalur sungai lagi) bahkan hingga melintasi jalan raya. Akhirnya di jalan raya inilah tempat mandi, cuci, kakus. Sungai memang masih menjadi tempat kedua selain kamar mandi umum di barak hunian sementara untuk MCK. Alasannya adalah mudah menggunakan air, karena air sangat dekat. Dengan Kalau menggunakan air di kamar mandi barak pengungsian, harus mengantri, lama menunggu. Kalau di sungai -atau di jalan raya yang menjadi aliran air sungai- kami tinggal gosok-gosok pakai sabun (yang mencuci baju, peralatan makan ataupun yang mandi) lalu bilas langsung dengan air sungai yang mengalir, rendam sebentar, angkat, langsung ‘bersih’.


0 Responses to “Berartinya Jalan Raya bagi Kehidupan Kami di Tanah Papua”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: