02
Jan
12

kereta ekonomi

Siapa yang tidak tahu dengan moda transportasi darat yang memiliki kapasitas terbesar, ya, kereta api.  Kehidupan saya sangat melekat dengan sistem transportasi tersesak di Indonesia yang satu ini. Karena setiap hari saya menggunakannya untuk mencapai kampus dengan rute Bogor-Jakarta Kota. Tak banyak orang yang tidak mengeluhkan keadaannya diwaktu pagi maupun di sore hari terutama mereka yang berada di kereta yang menuju arah Jakarta, waktu terpadat kereta karena waktu tersebut merupakan jamnya orang pergi ke kerja dan pulang kerja.  Waktu tersebutlah dimana saya bisa menjumpai 300 orang dalam 1 gerbong wanita, atau jika saya sedang tidak beruntung karena tertinggal kereta commuter saya harus rela berbaur dengan sekitar 500 orang dalam 1 gerbong kereta ekonomi. Betapa ironisnya keadaan tersebut, jika saya melihat tulisan yang tertera di dalam gerbong bahwa kapasitas penumpang yang seharusnya adalah 150 orang.

Penghapusan kereta Pakuan Express yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu telah membuat orang-orang yang biasanya menaiki kereta tersebut kini beralih ke kereta commuter, sehingga mereka yang biasanya bisa duduk dengan nyaman tanpa perlu berdesakan di dalam kereta express kini harus terbiasa dengan keadaan penuh kereta. Bagi yang biasa menaiki kereta Ekonomi AC maupun Ekonomi hal ini mungkin sudah merupakan hal biasa. Sering sekali saya membandingkan keadaan antara kereta Commuter dan kereta Ekonomi. Pada kereta Commuter, gerbong yang sering saya naiki adalah gerbong wanita. Keadaan digerbong ini bisa dikatakan lebih baik dibandingkan dengan gerbong lainnya pada kereta yang sama. Di area ini saya merasa lebih aman karena isinya adalah wanita semua dan ada petugas yang selalu berjaga di dalam gerbong.

Beberapa saat pandangan saya tertuju pada sebuah poster yang terpampang di dalam gerbong kereta commuter, “when 400.000 peoples commute everyday …” tulisan tersebut mengartikan bahwa pada saatnya nanti kereta ekonomi akan digantikan dengan commuter. Itu artinya, kita tidak akan pernah lagi melihat orang-orang berjualan di dalam kereta, tidak lagi menemukan komunitas tertentu yang berkumpul saling berceloteh di dalam gerbong kereta. Padahal bagi saya, suatu keunikan ketika menaiki kereta ekonomi adalah melihat adanya pasar berjalan  dimana kita akan melihat suatu interaksi antara pedagang dan penumpang kereta, sesekali ada saja ulah para pedagang yang membuat kita sedikit tertawa karena ulahnya dalam menawarkan dagangan kepada penumpang kereta. Atau sekedar mendengar ocehan-ocehan komunitas tertentu yang mungkin kadangkala membuat kita ingin teriak untuk menghentikan mereka.

Keadaan  kereta ekonomi yang penuh sesak itu sudah melekat dengan kehidupan sejumlah orang yang memafaatkan alat transportasi tersebut setiap harinya  sebagai salah satu cara agar mereka dapat sampai ke tempat tujuan mereka. Untuk yang setiap hari menggunakan kereta mungkin akan timbul suatu kebiasaan seperti, kereta pukul berapa yang mereka naiki, atau gerbong berapa yang nanti akan mereka masuki. Seperti saya contohnya, jika ada mata kuliah yang masuk pukul 08.00 maka saya biasanya menaiki kereta pukul 06.40 di gerbong ke 2 atau ke 3 dari depan, memang agak kepagian ketika sampai di kampus, namun, kereta itu menurut saya sedikit lebih ‘lengang’ dibandingkan dengan kereta pukul 07.05. Atau jika saya sedang malas untuk berangkat pagi saya biasanya memilih kereta pukul 07.35 ke arah tanah abang. Bagi mereka yang biasa menggunakan kereta pasti jadi lebih tau jam-jam berapa kereta itu padat dan lengang. Karena kebiasaan tersebut kadang kita sering bertemu dengan orang yang sama di dalam gerbong dan waktu yang sama. Sehingga lama-kelamaan mereka yang terbiasa bertemu bisa jadi akrab. Dan akhirnya bisa membentuk suatu kominitas di dalamya. Beberapa komunitas yang saya temui di dalam kereta juga terbentuk karena mereka saling bertemu setiap hari di dalam kereta walaupun tempat kerja mereka berlainan satu dengan yang lain. Dan kadang mereka juga berbaur dengan para pedagang yang tertahan tidak bisa jalan karena penuhnya kereta.

Keadaan seperti itu tentu tidak saya temui jika saya menaiki commuter  line terutama di gerbong wanita yang biasa saya naiki. Walaupun aman dan nyaman namun suasana terasa lebih kaku. Hampir semua yang ada di dalamnya asik sibuk dengan hp masing-masing. Orang yang saling ngobrolpun adalah mereka-mereka yang memiliki hubungan dekat seperti pertemanan, keluarga. Jarang sekali mereka-mereka yang kebetulan bertemu ngobrol bersama-sama, ditambah lagi dengan tidak adanya pedagang membuat kereta kian terasa sepi.

Di sini saya mencoba mengangkat bahwa kereta ekonomi yang biasanya memiliki imej buruk karena penuh sesaknya, namun ia memiliki suatu keunikan tersendiri yang tidak dapat terasa jika berada di kereta AC.


2 Responses to “kereta ekonomi”


  1. January 3, 2012 at 2:50 pm

    “Beberapa saat pandangan saya tertuju pada sebuah poster yang terpampang di dalam gerbong kereta commuter, “when 400.000 peoples commute everyday …” tulisan tersebut mengartikan bahwa pada saatnya nanti kereta ekonomi akan digantikan dengan commuter. ”

    Bedakan antara commute, commuter dan commuter line.

    Para penumpang kereta ekonomi ya juga commuter.

  2. January 5, 2012 at 12:17 am

    terima kasih atas koreksinya, kata commuter yang ada dalam kalimat “pada saatnya nanti kereta ekonomi akan digantikan dengan commuter” sebenarnya bukan mengacu kepada commuter sebagai orang melainkan kereta commuter line.Mungkin ini karena kebiasaan saya menyebut kereta commuter line menjadi commuter saja agar penyebutannya menjadi lebih singkat, sehingga tanpa sadar jika ditulis akan menimbulkan makna yang sangat berbeda.

    oh ya, kalimat “when 400.000 peoples commute everyday …” sebenarnya ada lanjutannya namun saya tidak ingat dan saya lupa mengoreksinya sebelum diposting. hehe, maaf… Jadi, dari poster yang berisikan kalimat tersebut menjelaskan bahwa di tahun 2011 ini jumlah penumpang kereta jabotabek perharinya adalah 400.000 orang dan jumlah ini akan mengalami peningkatan menjadi 1,2 juta penumpang perharinya di tahun 2019. Dan hal tersebut menyatakan bahwa pada saatnya nanti kereta ekonomi akan digantikan dengan kereta commuter line. Karena di tahun 2011 saja sudah ada pengurangan kereta ekonomi dan digantikan dengan kereta commuter line.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: