02
Jan
12

Ugly?

Saya mencoba meracik kata “ugly” dan membuat sesuatu yang (mungkin) ugly.

Alat & bahan:

1. Sediakan majalah fashion atau apa pun yang jika dibaca terlihat menarik atau selalu dianggap bagus (beautiful, attractive, dll)
2. Gunting
3. Lem
4. Alas, apapun boleh kali ini menggunakan kertas

Cara pembuatan:

Percobaan 1

1. Cari gambar yang paling menarik atau pun cantik, semakin menarik dan beautiful semakin bagus
2. Potong-potong gambar tersebut secara acak, tergantung keinginan atau kemana gunting memotong. Semakin random semakin baik.
3. Reka ulang atau konstruksikan gambar tersebut. Anggap saja sedang bermain puzzle dan gambar-gambar tersebut adalah kepingan yang secara acak diletakkan. Mungkin dapat menggunakan aturan tertentu sebagai acuan, misalnya ingin membentuk sebuah wajah atau tubuh manusia secara utuh. Atau letakkan secara acak juga tidak masalah.
4. Tempel sesuai dengan keinginan. Tujuannya untuk menciptakan order dan disorder dengan kolase dari gambar-gambar yang beautiful.

Percobaan 2

1. Ambil sebuah paragraf yang menarik, bagus, penuh dengan kata-kata indah. Jika bisa terdapat kata-kata seperti art, beautiful, dan kata indah yang mengandung makna memuji lainnya.
2. Potong per kalimat, kemudian potong kembali per kata dari kalimat-kalimat yang sudah dipotong sebelumnya.
3. Masukkan semua potongan ke dalam kantong plastik, kocok sesuai selera.
4. Ambil potongan kata satu per satu. Jangan melihat kalimat apa yang diambil biarkan saja, kali ini tidak perlu menggunakan aturan tertentu, tidak perlu membentuk sebuah kalimat yang masuk akal. Jangan mencoba untuk mengerti apa yang sedang dibuat, terus menempel dan letakkan sesuai dengan selera.
Kali ini saya meletakkan dalam satu barisan, seperti membentuk ulang sebuah paragraf tidak jelas. Kembali membuat kolase tidak jelas namun kali ini dari kata-kata.
5. Selamat, anda baru saja membuat sebuah puisi dadaist. Sebuah karya “baru” yang tidak masuk akal, atau di luar akal karena saya dan anda tidak mungkin mengerti apa yang telah saya buat.


Voila.. sebuah karya yang aneh dan (mungkin) ugly.

Sebenarnya inti dari semua ini apa?

Sederhana saja, saya hanya ingin membuat sebuah disorder dari order. Order dalam hal ini sesuatu yang kita terima dengan apa adanya, sesuatu yang indah yang kita nikmati setiap hari. Saya mengambil objek dari majalah berdasarkan pemikiran bahwa “ini adalah yang diinginkan semua orang”, “ini yang dianggap indah makanya masuk majalah”, “ini yang laku untuk dijual dan bisa menjadi konsumsi masyarakat” pemikiran bahwa apa yang ada di media adalah segala sesuatu yang menarik. Order tidak hanya dari bentuk wajah, namun otak kita yang juga di-order untuk mencari beauty  seperti yang sering kita lihat.

Dalam percobaan pertama, saya mencoba untuk memotong secara acak. Sebuah cara untuk mengacaukan yang beautiful; order yang ada didalamnya saya coba untuk hancurkan. Setengah hidung, satu mata saja, setengah muka, setengah mulut, terserah. Kemudian saya mencoba menyusun semua dalam order yang telah ada sebelumnya. Entah cantik atau tidak, tapi sangat mengerikan jika ada manusia berwajah seperti ini.
Namun dalam percobaan ini juga saya tidak sepenuhnya menciptakan disorder. Saya masih berpatokkan kepada otak yang berpikir untuk mencari gambar, merunut pola, menyocokkan dengan gambar yang sebelumnya. Belum bisa lepas dari kesadaran dan program dalam diri untuk tetap berusaha menciptakan yang beautiful.

Karena itu saya berlanjut ke percobaan kedua. Percobaan kali ini menggunakan kalimat atau huruf, mencoba membatasi kemampuan otak untuk mengendalikan diri dalam pengambilan keputusan (keputusan yang dimaksud: bagaimana otak berusaha untuk membuat semua dapat dicerna dan dimengerti, dapat dibaca). Kembali melakukan penghancuran order  yang ada. Memotong kalimat hingga kata. Memasukkannya dalam plastik adalah untuk mengacak di luar keinginan kita, membiarkan nasib (jika benar ada) yang menentukan. Kemudian mengambil tanpa melihat dan menempelkan ulang membentuk sebuah paragraf. Menghancurkan namun mengembalikan ke bentuk seperti semula. Tetap sebuah paragraf, isinya yang berbeda.

Dalam percobaan kedua, memang kata-kata yang dihasilkan tidak masuk akal. Semuanya tidak dapat dimengerti begitu saja, tidak heran saya juga tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Kali ini saya benar-benar membiarkan semuanya berjalan tanpa campur tangan otak, tanpa adanya aturan untuk mencapai order yang sudah ada di belakang kepala saya. Memberikan kebebasan terhadap isi paragraf untuk menjadi apa saja. Saya sedang bereksperimen dengan bumbu dadaism dalam karya kali ini.

Apakah ini ugly?

Terserah, saya tinggalkan pertanyaan ini untuk siapapun yang membaca dan menjawabnya😀

Daftar Pustaka
“Dada.” Wikipedia. 20 Des. 2011. Web. 1 Jan. 2012.


2 Responses to “Ugly?”


  1. January 12, 2012 at 12:34 am

    mm..dilihat dari proses yang anda lakukan, saya menyimpulkan bahwa, si ulgy hanya mungkin terjadi jika kita melakukan sesuatu ‘beyond our control’ benar kan? bisakah itu diartikan bahwa sebenarnya ugly itu tidak dapat DIciptakan tapi dapat TERcipta dengan tidak sengaja..begitu?

  2. January 16, 2012 at 12:19 am

    Ide awal dari benda ini adalah pernyataan bahwa Ugly = disorder.
    Sebenarnya saya sedang mencoba untuk membuat keduanya, sesuatu yang disengaja (sesuai dengan yang kita inginkan) dan yang tidak atau benar-benar membiarkan sesuatu itu terjadi secara acak.

    Tentang bisa atau tidaknya sebuah Ugly itu tercipta atau dicipta, saya tidak pernah berkesimpulan seperti itu. Ini hanya serangkaian percobaan untuk mencari Ugly itu sendiri dan hasil akhirnya menunjukkan bahwa disorder dan order itu akan tetap ada selama kita menjadi manusia.

    Order dalam artian kita akan mencari sebuah bentuk dasar, mengkategorikan, menilai, membandingkan dengan hal yang telah kita lihat sebelumnya.
    Disorder sesuatu yang mengganggu, (mungkin) Ugly, tidak beraturan, berada di luar dari yang kita lihat, menyalahi aturan tertentu.
    Yang keduanya dilakukan secara sadar dengan merujuk ke diri sendiri sebagai titik tolak penilaian.

    Untuk masalah apakah itu Ugly atau tidak, menurut saya itu kembali ke penilaian masing-masing.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: