04
Jan
12

studioku sayang, studioku malang

A : “ih bener ya kayak gudang” ( sambil menunjuk ke EC lantai 4 )
B : “oh iya ya”
(lokasi EC lantai 6 )

wah ternyata itulah pendapat orang-orang mengenai studio EC lantai 4, mungkin itu pula pendapat orang orang melihat studio lainnya, namun karena studio EC lantai 4 sangat terbuka jadi sangat terlihat bagaimana keadaan didalamnya.

studio adalah tempat bagi saya dan mahasiswa arsitektur lainnya untuk bekerja, berkreasi ataupun melakukan hal lainnya yang pada akhirnya akan menghasilkan sebuah karya yang tentu merupakan hasil kerja keras selama ini.
pada awal memulai semester baru, studio kami adalah tempat yang bersih, nyaman dan terlihat seperti tempat untuk kuliah. Namun lama-kelamaan mengikuti proses perkuliahan, mulailah hal-hal terjadi. Bahan maket, kertas-kertas, maket eksplorasi, display mulai bertebaran tidak hanya diatas meja namun juga dilantai. Biasanya pun tidak hanya di meja sendiri, tapi bisa sampai ke meja tetangga dan bahkan tiba tiba bisa dimeja kelompok lain.

studio tidak hanya menjadi tempat untuk kuliah saja, namun studio sudah dianggap ‘rumah’ sendiri bagi orang-orang didalamnya. Makan, bermain, shalat, terkadang kami pun sampai menginap distudio ketika sudah mendekati hari-hari presentasi akhir. Oleh karena itu, studi harus kami buat senyaman mungkin. Dosen pun mengatakan demikian, buatlah studio menjadi rumah kalian, bawa aja barang barang yang bisa membuatnya nyaman.

Dan barang-barang yang ada dilantai ataupun meja itu bukanlah sesuatu yang membuat tidak nyaman. Namun itulah proses kami merancang sesuatu, dari mengeksplorasi barang-barang disekitar kami. Barang barang yang sering dianggap orang sebagai sampah atau sesuatu yang sebaiknya sudah dibuang.

Studio itu adalah ruang kuliah, ruang bekerja, ruang makan, ruang interaksi, ruang istirahat, ruang penyimpanan. Ruang penyimpanan segala proses kegiatan kami disana.

mungkin buat orang disana, barang barang ataupun studio ini merupakan tempat yang kotor dan penuh sampah..
namun bagi kami, inilah harta kami tempat kami berproses dan menghasilkan segala karya yang tentu akan membuat orang-orang tercengang melihatnya.

[ sampah di studio EC lantai 4 ]

ya… studioku sayang, studioku malang

(sumber gambar : Siti Rahma,


3 Responses to “studioku sayang, studioku malang”


  1. January 7, 2012 at 8:47 pm

    Saya setuju dengan ini.. Mungkin untuk orang yang tidak tahu apa2 menganggap studio kita jorok, kotor, dan berantakan.. Tapi itulah sebuah proses yang membuat kita memiliki sebuah perasaan “home” terhadap studio tersebut. Itulah jejak-jejak yang memiliki arti untuk mahasiswa ars (Studio pa 3 bgt ya.. hehe)..
    Saya pernah mendengar pembicaraan mahasiswa jurusan lain yg taw ttg kegiatan anak ars, katanya “Kalo kamar anak ars masih rapi mah, di antara blom ngerjain apa2 ato uda slese smua” Mnrt saya ini merupakan salah satu identitas dari anak ars, bukan masalah kotor nya melainkan kegiatan anak ars yang banyak meninggalkan sisa2 kegiatan yang blom bisa dibereskan kalau belum selesai..

  2. 2 meirisyananda
    January 7, 2012 at 10:11 pm

    Ya, saya juga sangat setuju dengan melani dan kacin bahwa studio kita itu adalah tempat untuk berkreasi dan tempat untuk menghabiskan kegiatan rutinitas kita diluar tugas-tugas studio seperti makan, main, bahkan tidur. Memang studio itu sudah seperti layaknya “rumah kedua” bagi kita ataupun “rumah ketiga” bagi mereka yang ngekos.

    Benar, bahwa studio yang berantakan itu adalah bukti adanya produktivitas dalam bertugas, namun menurut saya tidak ada salahnya juga jika bukti dari produktivitas itu sebaiknya ditata lebih rapi. Dalam artian bahwa hasil dari kerjaan-kerjaan itu bisa dijaga lebih baik, disusun lebih baik jika sudah diselesaikan, tidak berantakan bahkan sampai ke meja tetangga.

    Terkadang saya merasa malas sendiri melihat studio yang berantakan itu, saya merasa tidak nyaman, saya merasa tidak bersemangat, yang berantakan tidak hanya bahan-bahan maket saja, bahkan sampah-sampah plastik minuman atau makanan. Seringkali saya temukan sampah-sampah bekas minuman atau makanan di atas meja. Namun, oknum yang melakukan itu tidak sadar bahwa mereka telah mengotori studio mereka sendiri.

    Salah satu fasilitator kita juga sudah mengingatkan bahwa hendaknya studio itu ditata lebih rapi, maksudnya bukan rapi yang tidak terlihat apa-apa, tapi rapi jika ada maket yang sudah lewat “masa deadlinenya” (atau sudah tidak terpakai lagi hendaknya dipertanggungjawabkan mau dibawa pulang, disusun, dikumpulkan dalam suatu tempat yang tidak dianggap seperti sampah, atau lainnya supaya mas-mas yang membersihkan juga tidak bingung bagaimana membedakan yang mana yang sampah dan yang mana yang bukan, mau itu di dalam box atau plastik atau apapun itu. Terkadang ada juga teman-teman kita yang merasa kehilangan bendanya sendiri, ya bagaimana tidak, barangnya saja tidak dibereskannya, dibiarkannya berantakan hingga ke lantai bahkan ke meja yang lainnya. Sebenarnya itu semua kembali kepada diri kita sendiri bahwa kamar yang tidak berantakan atau studio yang tidak berantakan bukan berarti bahwa tidak adanya produktivitas disitu, setelah selesai bekerja tidak ada salahnya kita mengecek barang-barang kita masing-masing, membuang benda-benda yang sudah menjadi sampah dan mengumpulkan kerjaan-kerjaan itu di suatu tempat sehingga saat keesokan harinya saat kembali bekerja kita tidak akan disambut dengan studio atau kamar yang berantakan.

    Kalau studio kita rapi, yang enak itu tidak hanya kita saja tapi juga fasilitator, pengunjung luar departemen, bahkan reviewer dari luar.Sehingga mereka bisa melihat bahwa kita bisa bekerja denga lebih tertata dan lebih rapi, tidak jorok, dan tidak berantakan. Jika studio rapi, mood orang yang melihatnya pun akan jadi lebih baik. Jadi, menurut saya, itu semua kembali kepada kita masing-masing, mau bukti produktivitas yang berantakan atau bukti produktivitas yang tertata lebih rapi sehingga studio itu benar-benar layaknya “rumah” kita sendiri yang tetap terlihat adanya sistem kerja disitu namun enak dipandang mata.

  3. January 11, 2012 at 1:41 am

    Bila studio berantakan akan lebih terasa suasana kehidupannya. Tetapi, terkadang terlalu semak. Mungkin banyaknya sampah melihatkan produktifitas, tapi bisa saja sampah-sampah tersebut menurunkan produktifitas kita selanjutnya. Begitu masuk, studio sudah terlihat ribet. Mau lewat atau kerja juga susah karena ruang yang ada digunakan oleh barang-barang.

    Salah satu alasan kenapa studio kita berantakan adalah setelah mengerjakan sesuatu tidak langsung dibereskan. Mungkin rasa ‘home’ di studio masih kurang, walaupun kita sering disana kita tidak benar-benar tinggal disana. Kalau berserakan juga tidak apa-apa, nanti ada yang membersihkan atau memang gitulah studio. Seringnya yang tidak membantu membereskan studio adalah orang yang barang-barangnya paling berserekan di studio (tidak disimpan dengan baik). Seringnya saat membereskan studio, saya menemukan banyak barang-barang (biasanya maket atau gambar yang sudah tidak dipakai) dimana pemiliknya tidak ada waktu membereskan.

    Untuknya daerah kelompok saya tidak berserkana sekali karena kami punya bilik untuk meletakkan barang. Salah satu fasilitator pernah bilang bahwa daerah kelompok kami paling bersih (gak bohong lo…. heheh). Biasanya kita langsung membereskan barang-barang dan membuang sampahnya setelah kerja.

    Sebaiknya setelah bekerja, barang-barang yang sudah dipakai langsung dibereskan. Bisa saja barang tersebut malah terbuang atau diambil orang karena dipikir tidak akan dipakai lagi hehe.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: