08
Jan
12

please accept my apologies, dear earth.

Seberapa banyak uang yang Anda rogoh untuk membeli Koran atau majalah hari ini? Lalu kemana Koran dan majalah tersebut? Seberapa banyak kertas roti yang sudah anda borong dari TU pagi ini? Lalu berapa banyak yang terpakai dan yang tidak? Seberapa banyak kertas yang Anda habiskan untuk membungkus ini dan itu? Seberapa banyak potongan kertas yang terbuang setelah mencetak display super cantik? Secara sederhana, seberapa banyak kertas yang ada konsumsi hari ini?

Pertanyaan sederhana namun amat familiar bagi kita yang berkuliah di bidang arsitektur membawa pikiran saya untuk menelisik lebih jauh jejak historis yang dimiliki selembar kertas. Sebagai kaum urban, segala sesuatu berupa alat dan pemenuhan kebutuhan yang praktis dan mudah didapat diangkat menjadi alasan kebanyakan. Apa jadinya bila kita mengkonsumsi kertas secara berlebih? Bagaimana situasi relevan ini dapat disiasati? Cukup signifikankah langkah yang diambil guna membentuk wajah bumi yang lebih ‘hijau’ ?

Sehari- hari tentu kita tak pernah terlepas dari kertas dan alat tulis. Tapi kertas yang polos, putih, dan bersih bukan berarti tanpa dosa dan cela. Proses berikut dapat menjelaskan asal muasalnya. Kertas dibuat dari dua jenis bahan, hasil recycled dan terbuat dari pohon. Sekalipun recycled tetap saja awalnya dari pohon. Dibutuhkan pohon berumur 150 hingga 300 tahun yang menjadi batas minimum seleksi untuk bahan kertas. Dengan jarak yang sangat jauh dengan hutan, cukup dibayangkan seberapa besar lahan yang habis dibabat dan efek pemanasan bumi sebagai hasilnya. Pohon pun tidak serta merta digiling kemudian dengan ajaibnya muncul lembaran –lembaran yang familiar tersebut. Melainkan ada proses di dalamnya melibatkan mesin hidroelektrik yang mampu menggerus batang pohon hingga diambil ampasnya saja (pulping). Proses berikutnya, ‘mencuci’ ampas dengan chlorine dioxide untuk proses Kraft Pulping dan Hydrogen Dioxide pada mechanical pulping. Efek samping yang dapat ditimbulkan larutan itu adalah penyakit kanker, tekanan pada imun tubuh,dan kelainan proses reproduksi pada orang dewasa. Setelah itu, bahan kertas ‘dimasak’ dalam sup caustic soda dan sodium sulfide. Tentu saja itu bukan cairan kimia biasa. Kombinasi keduanya mampu menghasilkan aroma telur busuk. Untuk menjalankan mesin yang dimaksud membutuhkan energy sepertiga kilowatt per jam atau dengan penempatan lain mampu menghidupi tenaga kulkas / pendingin selama kurun dua jam.

Tidak sebatas itu saja, proses pembuatan makanan cepat saji pun tidak luput dari proses yang serupa. Masih bersumber dari buku yang sama, yakni STUFF: The secret Lives Of Everyday Things ada banyak objek-objek sederhana di sekitar kita yang apabila dilihat jejak historis dan flashback-nya sangatlah mengerikan, termasuk hamburger, kentang goreng dan cola yang biasa menjadi satu paket hemat suatu restoran cepat saji invasi kultur ‘western’.

Dengan ini secara tertulis, saya memohon maaf yang setulusnya kepada sang bumi, lantai tempat saya berpijak dan atap tempat saya berteduh, atas kelalaian saya dan turut sertanya dalam pengrusakan alam baik yang disadari maupun tidak, baik secara jujur mengakuinya atau tidak, baik dengan senang hati melakukannya atau tidak, baik menyesalinya atau tidak. Mungkin terlalu terlanjur dan terlambat untuk mengubahnya. Ahli biologi manapun dapat mengatakan, bahwa manusia memang diciptakan untuk mengkonsumsi energi dan menghasilkan sampah sebagai hasil buangan. Resolusi perubahan dimulai dari diri sendiri? Ohya memang jalan keluar yang nyata atau klise? Diri sendiri dan hanya sendiri itu tidak cukup. Perubahan dapat terjadi dengan bersatunya pribadi, golongan, kelompok dan seluruh stakeholder bergerak merubahnya secara teratur, bersamaan dan bergotong royong ATAU TIDAK SAMA SEKALI. Gerakan dapat berjalan dengan catatan seluruh elemen masyarakat paham betul mimpi besar yang dibawa serta mengerti maksud, tujuan, dan caranya mencapai angan tersebut. Tentu saja tak ada salahnya jika berharap semua orang mengakui hal ini untuk kemudian melakukan perubahan.

Arsitektur memang menyoal rancang bangunan. Kendati demikian, tanpa disadari kertas menjadi salah satu serpihan proses penunjang karir seorang arsitek yang utama. Pikir sekali lagi, adakah seorang arsitek yang mampu menuangkan idenya tanpa secarik kertas? (Tentu saja ada, yakni arsitek alam semesta ini. Sayangnya itu tidak masuk hitungan yang fair) Konsekuensi sebagai mahasiswa arsitektur yang mengkonsumsi kertas besar-besaran dan dampak sebagai urban society yang kerap mengkonsumnsi fast food serta segala sesuatu yang bersifat ‘memudahkan’ dan praktis tak terhindarkan. Sayangnya, saya salah satu orang yang menikmatinya dan hanya merasa setengah bersalah atas kejahatan tersebut. Kalaupun saya mengurangi jatah saya sendiri dalam berbagai hal atas nama warga negara yang peduli dan global eco-friendly, toh proses produksi tetap berjalan. Kecuali, jika memang dilakukan secara bersama-sama. Ah, anggap saja saya sebagai salah satu anak bangsa yang terkena imbas dekadensi moral dalam pesatnya kemajuan negeri ini. Lantas, sudahkah Anda melakukan langkah signifikan dan konkret menolak statements di atas?


1 Response to “please accept my apologies, dear earth.”


  1. January 16, 2012 at 12:32 am

    Wah.. anda tampaknya peduli sekali dengan lingkungan meski ironisnya kita memang masih akan membutuhkan kertas.

    Untuk bahan cetak, sekarang sudah banyak yang beralih ke media digital seperti ebook dengan maraknya Ipad dan kawan-kawan yang memudahkan tentu saja kita bisa menghemat si kertas.
    Sedangkan untuk arsitektur sendiri bukankah kita sudah bisa men-sketch dengan komputer? Atau bahkan membuat model dengan 3D
    Dibalik hal tersebut bukankah jika anda menggunakan media digital tersebut secara tidak langsung menumpulkan diri anda dari kegiatan yang sering anda lakukan (membalik lembaran buku, mencoret-coret, mensketch dengan kertas, merobek kertas, menutup amplop, melipat kertas – seni origami)?

    Pertanyaan saya adalah, jika anda ingin perubahan secara radikal (saya anggap mencoret penggunaan kertas dari kehidupan) apakah anda sudah siap dengan konsekuensinya (harga mahal, butuh teknologi, anda tidak bisa menggenggam secara nyata)?


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: