10
Jan
12

Cara Kita Berbeda

Salah satu kegiatan yang sering terjadi dalam proses belajar adalah mengerjakan tugas kuliah adalah mengerjakannya bersama baik itu tugas individu ataupun tugas kelompok. Dalam melakukan kegiatan yang bersama ini, kita memiliki perbedaan dalam mengerjakannya karena tiap masing-masing orang memiliki cara sendiri untuk menyelesaikan tugas.

  1. Orang yang mengerjakan dengan suasana tenang, orang seperti ini biasanya bisa mengerjakan tugasnya pada kondisi tenang, tidak berisik, dan benar-benar fokus sehingga tugas yang dikerjakan bisa diselesaikan pada waktunya.
  2. Orang yang mengerjakan dengan hiburan, orang-orang ini biasanya mengerjakan tugasnya bersama hiburan seperti sambil memutar lagu, sembari menonton tv/dvd, atau sekedar bersiul-siul.
  3. Orang yang mengerjakan dalam keadaan apapun, orang-orang ini bisa mengerjakan tugasnya dengan tepat waktu dalam keadaan apapun.

Tapi apa yang terjadi ketika orang-orang ini mengerjakan tugas secara bersama. Untuk tugas kelompok, biasanya kita secara bersama dengan membagi tugas. Saat kita mengerjakan tugas tersebut akan terjadi sesuatu kendala. Yaitu, akan ada yang merasa sulit untuk mengerjakannya. Kebanyakan kendala yang terjadi  adalah pada orang yang biasanya mengerjakan dengan suasana tenang, dia akan kesulitan akibat salah seorang temannya mengerjkana dengan hiburan, misalkan menonton dvd. Si anak yang menonton dvd tersebut mengerluarkan komentar-komentar dia tentang apa yang dia tonton sehingga anak yang harusnya mengerjakan dengan tenang tersebut tidak bisa berkonsentrasi penuh dan sulit menyelesaikan tugasnya. Kendala itu juga terjadi pada anak yang mengerjakan tugas dengan hiburan, saat ia tidak mendapatkan hiburan tersebut akibat suasana yang mengerjakan tugas yang tenang. Ia akan terkendala dapat mengerjakan tugasnya. Orang-orang seperti ini akan cenderung mencari tempat mengerjakan yang mendukung dia untuk bisa mnyelesaikannya dengan tepat waktu. Sedangkan untuk orang ketiga yang mengerjakan dalam keadaan apapun, ia akan bisa mengerjakan dengan tepat waktu dalam keadaan teang ataupun saat temannya ada yang mengerjakan dengan memutar musik/menonton film.

Menurut saya ini sangat wajar terjadi dalam kesehariaan kita, akibat cara kita yang berbeda dalam mengerjakan sesuatu sehingga akan ada dampak yang negatif bagi orang lain. Dari kejadian-kejadian seperti ini, kita akan belajar bagaimana cara memposisikan diri terhadap suatu komunitas yang sebetulnya sulit kita terima.

Lalu bagaimana dengan kalian, apakah kalian termasuk salah satu orang yang medapatkan kendala seperti ini ?


6 Responses to “Cara Kita Berbeda”


  1. January 10, 2012 at 8:56 pm

    Sebenarnya kita bisa mengambil jalan tengah, mungkin yang merasa terganggu, bisa mengutarakan apa yang mengganggunya, misalnya pada anak “pendiam”, jika merasa kalau terlalu berisik, ia bisa bilang kalau itu terlalu mengganggu, dan mungkin yang menyukai ada hiburan itu bisa mencari alternatif lain, yang tidak terlalu mengganggu orang lain, misalnya mendengarkan musik, dimana musik bisa ditolerir keduanya atau mungkin bisa menggunakan headset.
    Dalam kelompok ataupun grup, saat ada masalah atau sifat yang bertabrakan seperti ini, harus diutamakan komunikasi agar bisa ditarik jalan tengah dimana keduanya sama-sama bisa diuntungkan.

  2. January 10, 2012 at 9:47 pm

    Yang sering saya alami adalah ketika kelompok saya terlalu serius (hening) saya biasanya memecahkan keheningan. Dalam diskusi itu terkadang tidak mencapai sebuah solusi dan dalam kerja kelompok suasananya tidak kondusif bagi masing-masing individu untuk bekerja. Oleh karena itu saya suka ‘merusak’ suasana sepi yang muncul karena saya sendiri kurang bisa bekerja dalam kondisi yang sangat sepi. Apabila ‘intervensi’ saya untuk mengubah suasana tidak berhasil saya mencari suasana yang sesuai dengan kebutuhan saya untuk bekerja.
    Jadi, terkadang kita perlu untuk membuat semacam intervensi agar dalam kelompok bisa kondusif, hal ini dapat dicapai dengan komunikasi yang baik seperti yang saudari melani sebutkan di atas, atau sebagai individu juga bisa saja keluar dari lingkaran itu agar bisa bekerja dengan baik.

  3. January 11, 2012 at 6:18 pm

    Jujur saya tipe orang yang suka bekerja sendiri dengan memutar musik (hayoloh, masuk tipe manakah saya hehehehe). Makanya saya lebih memilih kerja di kost bukan di studio. Saya bukan tipe yang nyaman bekerja bersama orang lain.

    Kalau sedang kerja kelompok, biasanya saya cenderung mengalah pada kelompok besar. Buat saya yang penting tugas selesai dengan cepat karena makin cepat selesai, makin baik. Dan jika saya mulai merasa tidak nyaman, saya langsung mengeluarkan earphone dan mendengar musik. Earphone on, world off. Sampai saat ini solusi ini masih menjadi solusi terbaik untuk saya.

  4. January 11, 2012 at 7:00 pm

    Memang yang paling dibutuhkan dalam sebuah kerja kelompok adalah menciptakan suasana yang kondusif bagi semua anggota sehingga bisa bekerja dengan maksimal. Tapi kriteria suasana kondusif bagi setiap orang memang berbeda-beda, tergantung dari preferensi orang tersebut dan juga kepribadiannya. Sebenarnya yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan dan kepekaan kita masing-masing untuk membaca situasi dan keadaan, sehingga kita bisa tahu apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan, seperti kata saudara Diano. Tapi memang kadang hal ini tidak mudah karena tingkat kepekaan masing-masing orang memang berbeda, sehingga dibutuhkan juga sebuah bentuk komunikasi agar masing-masing anggota bisa menyatakan apa yang ada di pikirannya dan bisa tercipta lingkungan kerja yang kondusif, seperti kata saudari Melani. Tapi memang hal seperti ini tidak akan terhindarkan, karena itulah inti dari kerja kelompok, menggabungkan beberapa orang dengan sifat dan kepribadian yang berbeda untuk menciptakan sesuatu hasil yang menakjubkan dan lebih baik, dibandingkan apabila bekerja sendiri-sendiri. Jadi kita sebenarnya bisa mulai dari diri sendiri untuk bisa berusaha menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk kelompok

  5. 5 khasyyatikanasher
    January 11, 2012 at 9:45 pm

    Terima kasih atas komen teman-teman diatas.😀 Banyak yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah seperti diatas dalam kelompok. Mulai dari mencari alternatif, memecahkan suasana, mengalah dan menumbuhkan kepekaan terhadap yang lainnya. itu semua merupakan solusi terbaik yang bisa dilakukan oleh tiap individu yang berbeda tergantung dari cara dia agar semua bisa berjalan dengan lancar.
    Sekedar berbagi pengalaman, sebetulnya kondisi seperti ini bukan hanya merugikan orang yang cenderung “berisik” atau yang cenderung “pendiam”. Saya pernah berada disuatu kelompok (bukan pada satu kelompok yang sama, tetapi di beda kelompok juga), saat itu saya dikategorikan sebagai orang tengah. Disaat salah satu teman saya melakukan “ritualnya” bekerja dengan hiburan disisi lain teman saya yang “pendiam” merasa terganggu sampai akhirnya dia mendumel atau sesekali memutar lagu juga. Tidak semua orang berani mengungkapkan kekesalan dia atau tidak semua bisa berjalan seperti apa yang dia mau, sampai akhirnya dia hanya bisa mendumel sendiri. Dan ternyata menjadi orang tengah juga tidak enak, berada di dua sisi yang berbeda dan saya jadi ikut terganggu akan keduanya. Tapi yang membuat saya tetap berada pada tempat tersebut, karena memang itu tempat saya dan saya merasa nyaman kalau bekerja disana. Kebutuhan akan tempat juga isa mempengaruhi keberadaan kita disuatu tempat tersebut. Apakah kita akan tetap berdiam dengan keadaan seperti itu atau kita akan lari ketempat lain yang sesuai dengan kemauan kita.
    Saya juga pernah menjadi orang yang tidak mau diganggu karena pada saat itu saya harus menyelesaikan tugas saya pada waktunya. Saat itu saya bersama seorang teman saya sama-sama mengerjakan tugas yang berbeda ditempat yang sama, pada saat mengerjakan tugas mungkin teman saya merasa bosan sehingga dia mengganti layar laptopnya dengan sebuah film. Awalnya saya masih biasa saja, sampai akhirnya dia heboh. Dan mengajak saya untuk mengomentari seorang tokoh dalam film tersebut. Yah, saya tanggapi dengan “yaah..yah..yaaa”, dan setiap kali si tokoh itu muncul dia selalu meminta komentar yang sebenarnya sama. Sampai akhirnya konsentrasi saya hilang dan saya menadakan dagu melihat dan mendengarkan komentar-komentar sampai selesai. Kenyataannya teman saya itu peka kalau saya terganggu dengan apa yang dia lakukan. Tapi kepekaan tersebut tetap membuat saya harus berada dalam kondisi yang dia lakukan.
    Kembali lagi kesetiap individu seperti yang teman-teman bilang, bagaimana kita menyikapi apa yang terjadi dalam sebuah kelompok. Mencoba untuk belajar menerima keadaan atau membuat keadaan yang lebih baik.🙂

  6. 6 joejoesensei
    January 11, 2012 at 11:25 pm

    selain dengan kelompok, hal ini juga saya alami di rumah saya yaitu dengan adik saya sendiri. Saya dan adik saya memilliki kepribadian yang sangat berbeda, namun kami seringkali mengerjakan tugas bersama (saya mengerjakan maket dan dia mengerjakan pr). Dia adalah orang yang tenang saat bekerja sedangkan saya bekerja maksimal dengan menggunakan headset dan bernyanyi sembari mengayunkan kepala mengikuti irama lagu. Hal ini lah yang seringkali dianggap lucu oleh ibu saya karena melihat adik saya diam tanpa suara sedangkan saya berisik dan tidak bisa diam. Namun apa yang dilakukan saya ternyata tidak mengganggu adik saya karena dia sudah terbiasa diganggu oleh saya. Ternyata keberisikan saya ini justru membantunya agar tidak mudah mengantuk.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: