11
Jan
12

iklan norak vs. iklan kreatif

Bagi yang sering nonton tv, pasti belakangan ini sering melihat iklan di tv-tv yang secara “estetis” sedikit melenceng dari jenis iklan yang biasa kita tonton sebelumnya, beberapa teman di komunitas maya menyebutnya “iklan norak” yang dianggap kualitas gambar dan cerita dalam iklan tersebut tidak jelas, jelek, OOT, dan terkadang malah tidak menggambarkan produk yang diiklankan. Selain itu ada juga iklan yang dengan standar gambar high definition, dengan skenario yang mantap, narator yang suaranya gagah, setting yang eksotik, dan hal serupa lainnya.

Yang menjadi menarik adalah, ketika iklan-iklan itu disandingkan satu sama lain di sesi commercial break. Iklan dengan “kualitas tinggi” tadi sering kali menjatuhkan “iklan norak” tadi. Biasanya iklan-iklan dengan “kualitas tinggi” ini adalah iklan yang dikeluarkan oleh produk-produk dengan merk kenamaan, organisasi dan partai terkemuka, atau iklan-iklan produk import (dengan iklan yang diimport juga). Sementara iklan-iklan yang dianggap norak tadi banyak digunakan untuk menggambarkan produk-produk dengan merk lokal, merk baru, atau iklan-iklan pemerintah dan layanan masyarakat.

Biasanya alasan budget menjadi alasan untuk mengeluarkan produk iklan yang berkualitas. Akan tetapi, belakangan ini banyak produk-produk besar yang menggunakan “cara” yang dilakukan di dalam iklan norak. Kenapa? terbatasnya budget? atau?.

Saya pernah membincangkan hal ini dengan teman saya yang berprofesi dibidang serupa, tapi di media cetak. Dia mengatakan kalau saja sekarang definisi iklan yang “berkualitas” sudah tergeser. Iklan berkualitas bukan lagi iklan yang menggunakan kamera bagus, produser kenamaan, atau model-model ternama, banyak yang justru menawarkan sesuatu yang “unik” dengan asumsi akan memberikan bekas dan kesan bagi penontonnya. Menurutnya fakta ini tidak hanya ada di media elektronik, tapi juga di media cetak seperti majalan dan koran, bahkan sampai pada iklan-iklan fisik di lingkungan kota, baliho dan papan reklame misalnya.

Akan tetapi apabila melihat fenomena yang sekarang berkembang, banyak yang menawarkan keunikan bagi produknya dengan sedikit memaksakan, sehingga terkadang bukannya menghadirkan sesuatu yang unik tapi justru menjadikan iklan yang di tawarkan jadi cenderung “norak” (jayus, garing, alay, atau bahkan sangat jelek). Tapi apabila kembali lagi pada tujuan iklan tersebut dibuat, yaitu agar lebih membekas, sementara kebanyakan masyarakat kita (asumsi saya) seringkali lebih mengingat iklan-iklan yang norak ketimbang yang unik atau yang sangat bagus sekalipun. Dan  justru perbincangan tentang iklan-iklan jelek dan alay tadi yang sering kita temui dalam keseharian.

Sehingga pertanyaannya adalah jenis iklan yang mana yang bagus?? yang benar-benar bekerja sesuai tujuan dan makna dari “iklan” itu sendiri atau yang secara estetis memiliki kualitas tinggi???


1 Response to “iklan norak vs. iklan kreatif”


  1. 1 fitriaisyah
    January 11, 2012 at 9:36 pm

    tagline nggak nyambung dan efek-efek aneh yang dipakai di iklan produk zaman sekarang seringkali tidak berhubungan sama sekali dengan produknya. tapi hal tersebut justru hal yang lebih sering nyangkut di kepala dan dibicarakan sehari-hari, justru karena kejelekannya tersebut.
    bagi saya pribadi, sebenarnya hal ini mengganggu karena saya menikmati menonton iklan yang bagus dan nyambung dengan produknya, tapi sebagai strategi pemasaran produk, menurut saya iklan tidak nyambung tersebut cukup sukses untuk berpromosi.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: