11
Jan
12

pola sebagai wujud toleransi

Kos-kosan saya terletak di darah kukusan teknik. Terdiri atas 2 lantai. Lantai pertama berisi 1 kamar tidur serta 1 kamar mandi, ruang belajar, dan dapur.  Sedangkan lantai 2 terdiri atas 3 kamar tidur.

Penghuni kosan sendiri sebenarnya terdiri dari 1 orang jurusan ekonomi, sedangkan sisanya jurusan arsitektur interior dan arsitektur.

Karena di dalam kos-kosan saya terdapat 4 orang penghuni, dengan fasilitas kosan yang memang mau tidak mau harus digunakan bersama-sama, tanpa kami sadari, kami membentu pola penggunaan fasilitas dan ruang tersebut yang juga muncul dari toleransi terhadap satu penghuni dengan penghuni lain.

Teman saya, Tanti, jurusan ekonomi. Kamar Tanti terletak di lantai 2, bersebrangan dengan kamar saya, dan bersebelahan dengan kamar teman saya yang berjurusan interior, Ayu. Setiap jam 6 pagi Tanti akan lari pagi keliling UI. Sekitar pukul 05.30, dia akan menggunakan kamar mandi di lantai 2. Terkadang, jika kami semua ketiduran dan tidak bangun untuk shalat subuh pukul 5 pagi, kami akan bangun setelah mendengar bunyi siraman air yang berasal dari kamar mandi yang dipakai Tanti. Dan ini membuat kami akan mengantri untuk wudhu di kamar mandi lantai 1, yang biasanya hanya dipakai oleh teman saya yang kamarnya terletak di lantai 1, Fera.

Pada pukul jam setengah 7, barulah saya dan teman saya Ayu akan menggunakan kamar mandi. Kami sama-sama mengambil mata kuliah everyday, sehingga di Rabu pagi, kami akan secara bergantian menggunakan kamar mandi di lantai 2. Akan tetapi, jika kami berdua bangun kesiangan, salah satu dari kami akan menggunakan kamar mandi di lantai 1, karena kamar mandi itu tidak akan terpakai sebelum pukul 10 disebabkan oleh jadwal kuliah Fera.

Begitu juga dengan penggunaan dapur dan  ruang belajar. Karena isi kosan kami didominasi anak ars, ruang belajar menjadi tempat peletakan bahan maket. Dan di saat hari-hari menjelang deadline, ruang belajar akan dipakai sebagai ruang pembuatan maket, yang membuat teman saya Tanti akan belajar di kamarnya sendiri. Untuk penggunaan dapur sendiri, teman saya Fera, terkadang suka memnggoreng makanan dan merebus air untuk membuat susu di pagi hari. Karena saya juga memiliki kebiasaan meminum susu di pagi hari, Fera akan merebus air yang lebih banyak agar bisa dipakai untuk membuat dua gelas susu.

Selain itu, kami juga menjadi peka dengan apa yang terjadi di antara 4 penghuni kosan ini. Misalnya saja, ketika Tanti pernah terkunci di kamarnya sendiri. Saat jam 6 pagi, Tanti tidak menggunakan kamar mandi, sedangkan salah seorang dari kami ada yang sudah bangun, kami merasa ada yang tidak beres, dan akhirnya kami tahu bahwa Tanti terkunci di dalam kamar. Atau ketika Fera tidak membuat susu di pagi hari, padahal seharusnya dia masuk kuliah jam 8, kami segera tahu bahwa dia ketiduran dan kami akan langsung membangunkannya.

Dapat disimpulkan, bahwa dari penggunaan ruang yang kami lakukan  akan membentuk pola pada diri penghuni kos-kosan masing-masing.  Pola tersebut terjadi karena kebiasaan yang kami lakukan sehari-hari,  dan tanpa kami sadari sebenarnya pola tersebut juga muncul setelah kami melakukan proses toleransi antara satu dengan yang lain.


0 Responses to “pola sebagai wujud toleransi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: