11
Jan
12

UGLY ?

Ini adalah pengalaman ketika saya mengikuti sayembara revitalisasi taman museum fatahillah bersama salah seorang teman saya.

taman museum fatahillah

Apa yang anda pikirkan saat melihat gambar di atas?

Mungkin sebagian besar dari anda akan menganggap pemandangan tersebut sebagai sesuatu yang tidak teratur. Namun mungkin ada  juga sebagian dari anda yang akan menganggap pemandangan tersebut sebagai sesuatu yang menarik, taman sebagai suatu area yang hidup.

Lalu sebenarnya mengapa bisa muncul kedua anggapan  yang berbeda tersebut? Mengapa kita bisa memiliki anggapan yang berbeda terhadap obyek yang sama atau bahkan mungkin kita sendiri memiliki dua anggapan tersebut karena melihat dari perspektif yang berbeda.

Saat mengikuti sayembara tersebut, saya melihat taman tersebut sebagai “lively area”, saya melihat proses revitalisasi itu sebagai proses menghidupkan taman. Saya melihat taman tersebut memiliki potensi sebagai sebuah pusat kegiatan yang berada di daerah di sekitarnya. Karena hal itulah, proses revitalisasi di sini saya artikan sebagai pen-zoning-an semua kegiatan yang mungkin terjadi di daerah sekitar daerah tersebut yang akhirnya di-“peta” kan di satu titik, yaitu taman tersebut.

Saya menganggap keramaian yang ada, orang-orang yang berjualan di sekitar taman tersebut, orang-orang yang beraktivitas di sekitar taman tersebut sebagai suatu yang “seharusnya”. Sebuah taman yang juga berfungsi sebagai plaza seharusnya demikian. Begitulah pikiran saya saat itu.

Akan tetapi ternyata tidak semua orang berpikiran seperti itu. Dari para juri sayembara tersebut, saya melihat pandangan yang berbeda, konsep yang berbeda tentang revitalisasi itu sendiri.

Melihat museum fatahillah sebagai sebuah museum peninggalan bersejarah, plaza dianggap juga sebagai sesuatu yang “sakral”. Yang harus dilakukan dalam proses revitalisasi harusnya tidak demikian, akan tetapi bagaimana mengembalikan fungsi taman tersebut sebagai “ruang penghantar” sebelum menuju museum fatahillah. Taman tersebut seharusnya bebas dari orang yang berjualan, teratur, dan banyak pendapat lain yang bertentangan dengan anggapan saya saat itu.

Dari perbedaan pandangan tersebut, saya bisa melihat konsep ugly-ugliness. Banyaknya orang yang berjualan di area tersebut membentuk sebuah ketidakteraturan. Sedangkan, ketidakteraturan  sendiri dianggap sesuatu yang ugly di satu sisi, yang di sisi lain dianggap sebagai bukti adanya kehidupan dan kegiatan.


0 Responses to “UGLY ?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: