17
Dec
13

Ugly as Unpleasant

Kata kunci yang kami pilih untuk membantu mendefinisikan sekaligus membuat ruang yang ugly adalah unpleasant. Kata unpleasant ini diwakili menurut indera (sense). Baik itu indra penglihatan, penciuman, perasa, dsb yang dapat mendeskripsikan unpleasant tsb.

Kami mendefinisikan kata unpleasant sebagai sesuatu yang subjektif, yang berarti berbeda-beda individu memiliki penilaian yang berbeda akan sesuatu yang unpleasant menurut pemahamannya masing-masing. Untuk itu, terlebih dahulu kami memulai dengan membangun pemahaman tentang sesuatu yang unpleasant tsb, untuk menjawab rumusan masalah tentang, “Apakah yang membuat sesuatu itu menjadi unpleasant?”. Berikut akan dijelaskan melalui beberapa tools yang mendukung pencarian tsb.

Gambar 1. Kolase: “Unpleasant things (?)”

Seperti yang dapat dilihat pada kolase di atas, terdapat objek-objek yang tidak menyenangkan (unpleasant) menurut indera. Bermula dari kloset, belatung, sampah, kambing, bangkai, bau busuk, roti berjamur, ekspresi wajah yang buruk, dsb, yang kita kenal sebagai sesuatu yang (umumnya) adalah tidak menyenangkan, baik itu ditafsirkan menjijikan, memuakkan, mengganggu pandangan, bau. Namun demikian, selain objek-objek umum tentang unpleasant tsb, ditemukan pula objek-objek yang bisa jadi ditafsirkan unpleasant/tidak oleh individu tertentu saja. Misalnya sayuran, bagi orang yang tidak senang dengan sayuran, akan melihat hal tsb sbg sesuatu yang unpleasant, tetapi tidak dengan orang yang suka makan sayuran. Begitu pun dengan masakan italia, bagi yang tidak familiar dengan rasanya. Bawang merah yang dipandang tidak menyenangkan bagi orang yang tidak biasa bekerja di dapur, lain halnya dengan ibu rumah tangga. Anak kecil lucu yang menangis, katak yang bermotif cerah, dll. Tidak semua orang memiliki pendapat yang sama mengenai sesuatu yang unpleasant ini.

Kami juga melakukan pencarian tentang, apakah yang membuat unpleasant ini menjadi subjektif? Apakah sesuatu yang umumnya di-judge sebagai unpleasant” itu (kotor, tidak beraturan, dll) selalu mutlak bersifat “unpleasant”?

Gambar 2. Unpleasant Experience (?): (both) Dirty & Messy, What’s the difference?
Gambar 2. Unpleasant Experience (?): (both) Dirty & Messy, What’s the difference?

Gambar-gambar di atas menunjukkan bahwa dalam konteks experience dalam keseharian, tidak semua sesuatu yang kotor & tidak beraturan itu selalu diidentikkan dengan unpleasant. Bisa jadi, sesuatu yang secara visual unpleasant, justru secara feeling, sesuatu tersebut pleasant bagi yang mengalaminya. Sampah berserakan yang kotor & tidak beraturan tidak sama dengan pengalaman bermain anak-anak yang bermain kotor-kotoran dan berantakan. Secara visual, keduanya termasuk kotor & tidak beraturan, tetapi secara feeling, bagian kedua bukan merupakan unpleasant experience, karena terdapat unsur keceriaan di dalamnya.

Berdasarkan hal tersebut lah, kemudian kami akan membuat sesuatu yang unpleasant yang tidak hanya dari segi visual saja, tetapi juga dari segi feeling. Hal inilah yang kemudian akan kami hadirkan melalui media-media yang kami buat.

Berdasarkan pemahaman tentang unpleasant sebelumnya tsb, kami sepakat membuat ruang “ugly” yang tidak hanya bersifat unpleasant dari indera saja (sense), tetapi juga dari segi experience, yaitu dimana ruang yang kami buat ini terkesan unpleasant baik secara visual maupun feeling. Ruang tersebut kami deskripsikan dengan media sketsa & maket.

Bagian yang penting dari maket visualisasi ugly as unpleasant ini tidak hanya berupa hasilnya saja, tapi proses bagaimana membuat media ini sehingga dapat dikatakan sesuatu yang ugly adalah penting juga. Dari proses tersebut lah dapat disimpulkan bahwa hasil-hasil media yang kami buat adalah sesuatu yang memang ugly.

Gambar 4. Sketsa ugly as unpleasant
Gambar 4. Sketsa ugly as unpleasant

Sebagaimana dengan pengertian yang kami bangun mengenai bagaimana sesuatu itu dapat dikatakan unpleasant (melalui contoh kasus & kolase yang kami paparkan sebelumnya), sketsa ini pun kami buat menurut pengertian tsb. Sebelum proses pembuatan sketsa ini, kami selalu memikirkan “bagaimana menghadirkan sesuatu yang unpleasant itu?”, sehingga objek demi objek yang kami hadirkan dalam sketsa ini merupakan objek-objek unpleasant terpilih, yang kemudian jika dilihat sebagai satu kesatuan, objek-objek tersebut akan membentuk sebuah cerita besar, yang kemudian mengkonstruksi sebuah ruang yang unpleasant. Karena sebuah experience akan terbentuk hanya jika ketika objek-objek tsb berada dalam sebuah satu kesatuan ruang (space) dan membentuk sebuah cerita di dalamnya. Urutan proses pembuatan sketsa ini adalah pertama-tama, kami membuat objek-objek yang menurut kami unpleasant ketika diletakkan, seperti sampah, binatang yang menjijikan maupun yang tidak kita sukai, seperti kecoak, ular, kelabang, cicak, kucing, dll yang tergambar dalam sketsa tsb. Tidak hanya sampai di situ saja, agar dapat menghadirkan sebuah cerita, kami memikirkan “bagaimana kemudian objek-objek tsb dipresentasikan?” lantas kami pun kemudian memikirkan, “bagaimana  keadaan objek terlihat?” sehingga yang tergambar adalah cara bagaimana objek-objek tsb dihadirkan di dalam gambar, ada yang tumpah, ada yang berserakan, ada yang miring, dan ada yang seharusnya tidak berada di situ. Tidak hanya berhenti di bagian visualnya saja, kemudian kami pun memikirkan “bagaimana agar objek-objek tsb membentuk sebuah scene yang menggambarkan unpleasant experience di situ?” terdapat dimensi keruangan dan kemungkinan cerita dibalik itu yang mengkonstruksi sesuatu yang unpleasant, yang tidak hanya dihadirkan melalui objek-objek unpleasant yang berdiri sendiri saja, tetapi juga “bagaimana kemudian objek-objek tsb dapat dilihat sebagai sesuatu yang unpleasant baik secara visual maupun feeling?”. Dari sana lah kemudian kami menambahkan konteks, ruang apakah ini? Dan siapa yang berada di situ?. Sehingga sketsa tersebut dilihat sebagai sesuatu yang memang unpleasant baik dari segi fisik maupun feeling. Yaitu seorang bayi yang menangis karena tidak nyaman berada dalam keadaannya (sedang  pipis dan berada di dalam ruang dapur yang kotor, bau dan berantakan). Tidak hanya unpleasant menurut kita pengamat, tetapi juga unpleasant menurut keadaan bayi tsb. (Gambar 4)

Begitu pun dengan maket ugly yang kami buat, prinsip ugly as unpleasant (berdasarkan pencarian kami), tetap menjadi dasar dalam proses pembuatan maket ini, sehingga dihasilkan lah sebuah unpleasant experience yang terdeskripsikan melalui maket hasil rancangan ruang ugly yang terbentuk dari proses-proses yang  juga ugly (objek-objek unpleasant), jemuran tak beraturan, pakaian yang bernoda karena tidak pernah diangkat, kursi yang sudah rusak, meja dengan taplak kotor karena tidak pernah dicuci, dinding yang juga penuh dengan kotoran cicak, berikut sarang laba-laba di sana sini, menceritakan sebuah unpleasant experience, dimana tidak ada experience yang terlihat di dalamnya (ruang yang sudah ditinggalkan penghuninya).

Gambar 5. Maket ugly as unpleasant

Kelompok:

Alfoadra Zamdekha

Andy Tanjung

Nisa Zakiah


0 Responses to “Ugly as Unpleasant”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: