27
Sep
09

Berwacana tentang arsitektur + keseharian

Blog ini merupakan wadah gagasan tentang arsitektur dalam konteks keseharian dari kelas “Keseharian & Arsitektur” semester gasal 2008/2009 dan 2009/2010 di Departemen Arsitektur Universitas Indonesia.

Berbagai gagasan tentang everyday + architecture dalam blog ini terdiri dari:

1. Refleksi terhadap sebuah wacana, teori ataupun pandangan yang berkaitan dengan keseharian dan arsitektur.

2. Rekaman kasus yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, serta pembahasan tentang kasus tersebut dalam kaitannya dengan wacana arsitektur dan keseharian.

3. Rekaman eksplorasi yang dilakukan – observing, re-reading, re-interpreting – dalam upaya memahami wacana arsitektur dan keseharian.

25
Nov
09

Urban, Menjadi Bagian dari Kota Besar

Mengapa urban?

Masyarakat yang tinggal di tengah kota, mau tak mau harus menghadapi tuntutan akan standar hidup yang tinggi. Akibatnya, pemenuhan akan berbagai kebutuhan harus dicapai dengan bekerja dan bekerja, bahkan sering tanpa mengenal waktu. karena itu, mereka pun menjadi penganut gaya hidup yang serba praktis, serta wajib memiliki akses informasi dan komunikasi yang mudah, jika tidak mau ketinggalan menghadapi perubahan di sekitarnya yang berlangsung sangat cepat. Kondisi ini pula yang menyebabkan stress tinggi menjadi hal biasa di kalangan warga kota besar.

Keadaan perkotaan yang padat penduduk dan dikepung bangunan buatan manusia, menyebabkan masyarakat perkotaan sulit memperoleh tempat memanjakan diri (fasilitas publik) dengan kualitas lingkungan yang baik.

Arsitektur yang baik

Untuk mengatasi persoalan urban di kota-kota besar, jalan keluarnya adalah melalui arsitektur yang baik. Arsitektur yang baik harus memiliki nilai-nilai tertentu, seperti :

  • Merespon hijau
    Merespon isu-isu penyelamatan lingkungan, bahaya global warming, serta hilangnya tanaman hijau di perkotaan.
  • Merespon kenyamanan
    Supaya tidak terganggu stress karena rutinitas.
  • Merespon tetangga
    Lingkungan sosial merupakan faktor yang harus dipertimbangkan oleh arsitek ketika akan merancang sebuah bangunan.
  • Merespon keterjangkauan
    Di tengah naiknya harga bahan-bahan bangunan, pembangunan yang baik adalah pembangunan yang hemat dan proporsional agar pemilik bangunan tidak dipusingkan oleh harga dan sesuai dengan anggaran yang dimiliki.

Nilai-nilai tersebut merupakan nilai yang bisa membuat kehidupan urban menjadi lebih baik. Continue reading ‘Urban, Menjadi Bagian dari Kota Besar’

25
Nov
09

Beauty Vs Ugly

Berbicara tentang beauty atau ugly pasti dengan mudahnya kita memilih salah satu diantara keduanya, yaitu “beauty” sebagai salah satu faktor yang membuat sesuatu terlihat lebih ideal. Tetapi kemudian saya mempertanyakannya ketika terlibat sebuah pembicaraan ringan dengan salah satu kontributor untuk web ini yang menggunakan username “holydragon”.

Pembicaraan mengenai mana yang lebih penting antara “beauty” atau “ugly”. Analoginya seperti ini: “Apakah kecantikan seorang wanita itu penting atau ketampanan seorang pria itu penting dalam hal mencari seorang pasangan?”. Mungkin dengan mudahnya akan dijawab faktor itu memang penting, atau sebaliknya dengan mudah menjawab tidak penting, yang lebih penting adalah “inner beauty”. Situasi diatas adalah suatu hal yang pasti selalu terjadi.

Dapat dikatakan bahwa dalam hal ini faktor “beauty” menjadi bukan sebuah masalah. Baru menjadi masalah jika berada dalam bahasan factor “ugly”. Jika ada pertanyaan, “Mau atau tidak mempunyai pasangan yang “jelek”? Semua orang akan berkata tidak.

Dari analogi diatas, saya melihat bahwa faktor “ugly” jauh lebih menjadi hal yang penting daripada “beauty”. Jika kita memiliki pasangan yang tidak “cantik-cantik amat”, mungkin tidak masalah. Baru akan jadi masalah jika pasangan kita “jelek”. Begitu pula yang terjadi pada keseharian kita yang lain. Kita cenderung menganggap yang kita kejar adalah suatu “beauty”, tanpa sadar sebenarnya yang lebih dulu kita lakukan adalah menghindari “ugly”.

24
Nov
09

Would Virtual Spaces Become a Solution?

Melihat berbagai masalah yang terjadi di bumi yang tercinta ,misalkan, kemacetan total yang sering terjadi di Jakarta, jumlah penduduk yang membeludak, daratan tak lagi mampu menampung semua manusia di bumi, air bersih berkurang, polusi udara bertambah, terjadi wabah penyakit, sumpeknya perkotaan akibat permukiman kumuh dan lainnya. Ini tentu saja membuat kita gerah. Masalah ini seolah-olah takkan pernah terselesaikan. Membangun rumah-rumah susun hingga bertingkat puluhan lantai mungkin dapat menjadi solusi saat ini. Namun, sampai kapan? Kalau jumlah penduduk terus bertambah, bukan tidak mungkin , ruang kosong yang tersedia akan habis. Tidak ada lagi tempat untuk dibangun rumah. Kalau begitu, permukiman di atas laut mungkin akan menjadi solusi berikutnya. Akan tetapi, bayangkan apabila seluruh laut dipenuhi oleh rumah-rumah? Wah, laut bakal menjadi tempat penampungan sampah terbesar di dunia. Tidak ada lagi air yang bisa diminum. Barangkali kita harus pergi ke luar angkasa dan tinggal di sana. Tetapi ukuran bulan begitu kecil dan tidak cukup menampung seluruh penghuni buni. Apalagi tidak ada oksigen dan air di sana. Mars mungkin bisa jadi alternatif mengingat ada es di sana. Es ini mungkin menjadi sumber air. Tetapi perlu berapa waktu agar kita benar-benar bisa tinggal di Mars atau bulan tanpa masalah?

Menghadapi permasalahan ini, saya mencoba melihat virtual spaces sebagai alternatif baru. Seperti yang dikutip berikutnya:

“ …that the possibility of transferring or ‘downloading’ human consciousness to a computer is eagerly anticipated in the computer world. In such a’ post-biological world’ one could thus avoid death and the time and energy required for maintaining and reproducing human bodies.” (Newton and Helen Mayer Harrison, 1989).

Andaikan itu terjadi, bayangkan yang akan terjadi jika kesadaran manusia dipindahkan ke komputer dan meninggalkan tubuh manusia di luar. Kita akan hidup di virtual spaces. Di sana, kita bisa bebas membangun rumah di atas lahan (bits) yang tidak terbatas, tanpa harus mempertimbangkan strukturnya. Kita bisa membentuk rumah sehendak hati. Membangun rumah yang terbalik di langit pun bisa. Mau buat apartemen yang ratusan tingkatnya pun bisa.  Bahkan kita mengganti interior dapur dengan cepat. Tidak hanya itu, kita juga bisa membentuk tubuh sendiri.  Mau menjadi laki-laki atau perempuan, terserah kita. Mau memiliki tubuh binatang, pun biasa. Intinya, di dalam virtual spaces, kita bebas berkreasi sesuka kita termasuk lingkungannya,seperti kutipan berikutnya:

“Virtual worlds will offer myriad opportunities to encounter and engage objects and spaces in new and different ways and to occupy other bodies, other entities, others species.” (Karen A Franck, 1995)

Akan tetapi, hidup di virtual spaces sama dengan meninggalkan indera perasa, peraba,dan  penciuman. Oleh karena itu, di dunia virtual, kita dapat memakan apel dan meminum air. Tetapi kita takkan merasakan manisnya apel atau segarnya air. Di sana, kita dapat menjalin pertemanan, tetapi tidak dapat merasakan sentuhan orang lain. Bahkan kita dapat memiliki anak tanpa mengalami masa kehamilan. Ringkasnya, kita hidup di dunia yang dipenuhi oleh pengalaman visual (mungkin juga audio) seperti yang kita alami di dalam mimpi.

Secara pribadi, saya mengakui virtual spaces bukanlah alternatif yang baik. Bayangkan andai komputer mati karena suatu alasan, kita hidup di kegelapan. Jiwa kita sadar tetapi tidak dapat melihat atau merasakan apa-apa. Namun, jika teknologi memungkinkan itu terjadi, maka ini patut dipertimbangkan.

Reference

Franck, Karena A. 1995. Architects in Cyberspace: When I Enter Virtual Reality, What Body Will I leave Behind?.Cambridge: VCH Pubisher LTD.

17
Nov
09

Seniman jalanan dalam keseharian

mural di tembok stasiun Cikini
mural di tembok stasiun Cikini
Salah satu fenomena tentang kegiatan seniman jalanan saya temukan di site yang sekarang saya pelajari di Perancangan Arsitektur 3 ini. Fenomena ini timbul di sebuah dinding kosong dan besar yang kemudian dimanfaatkan oleh para seniman jalanan pada malam hari untuk membuat gambar-gambar atau mural dengan isu-isu lingkungan entah yang bersifat provokatif maupun tidak. Mural ini sendiri kerap menjadi daya tarik bagi orang-orang yang melintas terutama bagi pejalan kaki yang menuju atau-pun yang keluar dari stasiun Cikini. Menariknya disini bahwa mural ini kerap berganti-ganti menjadi gambar-bambar yang lain dalam waktu yang relatif cepat, sehingga akan selalu menarik untuk dilihat jika melintas di tempat tersebut.
Memang tidak ada aturan yang menerangkan bahwa mural tersebut diperbolehkan untuk di buat di tembok itu, bahkan orang-orang disekitar stasiun pun tidak banyak yang mengetahui kapan mural-mural ini di buat, karena sang seniman selalu melakukannya pada waktu malam sampai dini hari. Namun hal ini menjadi sangat menyenangkan bila saat kita melintasi tembok besar stasiun tersebut ada mural-mural yang dapat diamati ketimbang kosong begitu saja.

 

Sedemikian bermanfaatnya tembok besar ini, selain digunakan oleh para seniman jalanan untuk mengaktualisasikan diri atau bahkan menyalurkan aspirasinya, tembok ini juga terkadang digunakan oleh sebuah komunitas fotografi dan lukisan yang berada di stasiun Cikini tersebut untuk menggelar pameran-pamerannya.

pameran komunitas bau tanah
pameran komunitas bau tanah

Walaupun pada akhirnya tembok ini digunakan oleh dua komunitas yang berbeda, namun mereka tidak pernah berselisih akan hal ini. Justru bila kedua-nya digabungkan malah seperti tercipta sebuah galeri jalanan yang sangat unik dan menarik.  Pada dasarnya kedua komunitas ini berada pada satu visi yang sama, dimana karya-karya yang mereka tampilkan merupakan sebuah tanggapan dari isu-isu yang sedang berkembang di negara kita.

Walaupun hal ini merupakan bukan sebuah hal yang dilegalkan pemerintah namun saya berfikir bahwa kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan positif seniman jalanan yang sebenarnya jika dikembangkan dengan sungguh-sungguh bisa menjadi suatu yang bermanfaat untuk sekelilingnya. Mengambil sebuah contoh negara bagian AS yakni Philadelphia dimana mural menjadi salah satu faktor yang turut mensukseskan pembangunan kota meraka sehingga kota mereka kerap disebut sebagai CITY OF THOUSANDS MURAL. Mural disini menjadi sangat bermanfaat keberadaannya karena berguna untuk memotifasi semangat hidup penduduk setempat, juga saat ini digunakan sebagai atraksi wisata yang seperti telah menjadi sebuah bagian dari arsitektur dua dimensi yang sangat dibanggakan penduduk Philadelphia.

06 civil rights
mural di kota Philadelphia

Satu kesimpulan yang saya dapatkan bahwa memang begitulah cara seniman jalanan dalam berkarya, terkadang mereka memang menggambar disembarang tempat tanpa ijin dan sebagainya, namun cobalah liat dari  sudut pandang lainnya bahwa terkadang karya-karya mereka inilah justru yang juga dapat mewakili aspirasi dan bahkan mengingatkan kita tentang hal-hal sepele yang justru sangat membekas di hati.

17
Nov
09

Domesticity and Territory

Domesticity sering diartikan kehidupan sehari-hari di dalam rumah. Tanpa disadari, aktivitas di dalam rumah telah membentuk teritori yaitu teritori pria dan wanita. Dulu, batasan teritori pria dan wanita cukup jelas. Misalkan, pada rumah kolonial di Indonesia, teras depan merupakan teritori milik suami untuk menerima tamu lelakinya. Sedangkan teras belakang dijadikan sebagai tempat sang istri untuk menerima tamu perempuan. Bahkan, di akhir abad ke-19, rumah dijadikan sebagai simbol “power” wanita. Artinya rumah, adalah wilayah kekuasaan wanita. Ini merupakan respons dari warga Amerika yang mencemaskan menghilangnya nilai kekeluargaan akibatnya meningkatnya perindustrian, urbanisasi, tingkat perceraian, jumah wanita yang bekerja dan datarnya tingkat kelahiran. Dengan penyimbolan ini, wanita diharapkan berperan dalam melestarikan nilai kekeluargaan. Ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali budaya di mana pria berperan sebagai sumber keuangan sedangkan wanita menjadi ibu rumah tangga. Ini sama dengan menjadikan teritori di dalam rumah milik wanita dan teritori di luar rumah menjadi milik pria.

Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang? Dengan diakuinya persamaan derajat pria dan wanita _ penyimbolan rumah itu gagal karena menguatnya gerakan feminisme_, teritori pria dan wanita menjadi kabur. Justru batasan teritori pemiliki rumah dan pembantu menjadi kuat. Contohnya teritori di rumah kakak perempuanku. Kakak perempuanku sebenarnya adalah ibu rumah tangga. Namun, karena suaminya termasuk salah satu yang mengakui adanya persamaan derajat antara pria dan wanita, maka dia sering membantu istrinya dalam mengerjakan tugas rumah tangga seperti mencuci pakaian, menyapu, serta menyuapi anaknya. Oleh karena itu, dapur, tempat cuci, tempat jemuran, ruang keluarga, ruang tamu, dan kamar-kamar tidur ( bisa dikatakan hampir seluruh rumahnya) menjadi teritori bersama bagi suami istri tersebut. Akan tetapi, ada area yang paling jarang dimasuki oleh mereka yaitu, area pembantu. Dulu, memang ada pembantu. Sekarang, pembantunya sudah keluar. Meksipun pembantunya sudah tidak ada, mereka tetap tidak menyentuh kamar tidurnya. Bahkan kamar mandinya pun jarang dimasuki mereka. Mungkin karena mereka masih terikat pada kehidupan mereka yang dulu ketika terjadi pemisahan area pemilik rumah dan pembantu.

Di samping itu, ada kemungkinan bahwa rumah menjadi teritori khusus pria, mengingat adanya pergeseran peranan suami istri. Sang suami menjadi pengurus rumah tangga dan istrinya bekerja di luar rumah,seperti yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Gejala ini juga terjadi di Amerika dan Eropa. Kalau ini benar-benar telah menjadi budaya yang meluas, di mana teritori di dalam rumah menjadi milik pria dan teritori di luar rumah menjadi milik wanita, maka bagaimana kita menyikapinya? Menerima atau menolaknya? Bagaimana pengaruhnya terhadap arsitektur?

Referensi:

http://xrodas.virgina.edu/

17
Nov
09

Ugliness

Perfect object = finished ; completed
Any addition or substraction from the object would ruin its form (Aristotle)

Berdasarkan kutipan di atas, hal ini dapat diartikan bahwa suatu objek yang sempurna adalah objek yang sudah selesai. Dan jika ditambahkan oleh sesuatu ataupun dikurangi maka akan merusak bentuk itu sendiri.

Ketika membaca kutipan ini saya sedikit bingung jika dipandang dari segi arsitekturalnya. Namun, ketika diberikan suatu contoh oleh dosen saya, saya mulai memahaminya. Contohnya adalah ketika kita menyusun suatu denah yang terlihat sudah sempurna tetapi tiba-tiba kita teringat bahwa masih ada ruang yang terlupakan. Seperti ruang servis ataupun utilitas. Secara tak sengaja dan ingin cepat-cepat selesai mungkin saja kita ingin memaksakan kehadiran ruang tersebut dengan menambahkannya saja diluar dari denah tersebut. Penambahan ruang yang sangat dipaksakan ini tentunya akan merusak bentuk denah itu secara keseluruhan.

Berikutnya saya ingin memberikan suatu contoh nyata yang pernah saya temui beberapa waktu yang lalu.

Pada masa sekarang ini banyak dijumpai rumah-rumah yang dibangun oleh developer dengan desain yang tipikal. Dimana biasanya 1 rumah mempunyai pencerminannya sehingga terdapat 2 rumah yang tipikal. Pencerminannya tersebut membuat 2 rumah itu menempel. Namun, bagaimana jika pencerminannya tidak bisa menghasilkan rumah yang saling menempel karena keterbatasan lahan? Tentunya ada gap di antara kedua rumah tersebut. Bisa saja gap itu berupa jalan sehingga kita tidak terlalu mempedulikan di mana hasil dari pencerminan rumah tersebut. Di bawah ini saya mencoba memberikan suatu contoh jika gap tersebut bukan berupa jalan.

Gap yang terlihat di gambar ini merupakan ruang kosong yang mempunyai lebar kurang lebih 1 m dan menyempit dibagian belakangnya. hal ini terjadi karena lahan tersebut tidak mempunyai ukuran dan bentuk yang pas untuk kedua rumah yang sudah ditentukan besarannya ini. Ruang kosong ini sangat membuat visual kita terganggu. Ruang ini seperti penambahan dari sebuah pencerminan 1 rumah yang sangat dipaksakan. Menurut saya, ruang ini merupakan ugly object.

Seperti kutipan di bawah ini,
The ugly object is an object which is experienced both as being there and as something that should not be there. The ugly object is an abject which is in the wrong place (Mark Cousins)

17
Nov
09

Ruang tak bermakna menjadi lebih bermakna

Seringkali rumah-rumah yang terletak tepat di belakang bangunan komersial dan terdapat jalan di depannya, dibatasi pandangannya oleh sebuah tembok beton yang tinggi. Dimana tembok tersebut bisa saja sengaja dibangun untuk menjadi pembatas untuk masalah keamanan ataupun merupakan bagian dari bangunan komersial itu sendiri.

Jika saya analogikan, bangunan komersial ini seperti ‘raja’ yang kehadirannya harus selalu dikawal oleh ‘pengawal’nya (tembok pembatas). ‘Raja’ ini merupakan raja yang tidak mempedulikan rakyatnya. Dengan alasan keamanan ataupun keterbatasan lahan, bangunan komersial ini justru menghadirkan ruang yang tidak bermakna bagi masyarakat yang tinggal dibelakangnya. Dengan berjalannya waktu, kehadiran tembok pembatas ini justru membuat masyarakat yang ada di sekitarnya mencoba untuk memaknainya. Tembok-tembok pembatas tersebut menjadi ajang kreativitas. Adanya gambar-gambar yang dilukiskan di tembok (grafiti) seperti memperlihatkan adanya kebutuhan visual bagi masyarakat yang tinggal di belakang bangunan komersial ini. Tembok yang tadinya hanya berwarna usang sekarang berubah menjadi tembok yang berwarna-warni. Mungkin saja si pembuat grafiti ini hanya ingin memuaskan dirinya sendiri dalam hal berkarya. Namun secara tidak langsung, grafiti di tembok ini ternyata membuat suasana di belakang bangunan komersial ini menjadi lebih hidup dan menarik. Perhatian mata justru tidak lagi kepada tembok pembatas yang tinggi yang menghalangi pandangan tetapi lebih kepada gambar-gambar yang ada di tembok ini. Si pembuat grafiti ini bisa memaknai ruang yang tadinya tidak bermakna menjadi lebih bermakna. Sebagai perancang bangunannya tentunya hal ini berupa kritikan terhadap hasil rancangannya. Karena jika kita telaah kembali, sebagai perancang sebaiknya harus memperhatikan tampak belakang dari bangunan yang dirancang, bukan hanya memikirkan tampak mukannya atau sampingnya saja. Tentunya hal ini juga harus dilihat berdasarkan konteksnya.

04
Nov
09

Aku dan Mereka

Menjalani tugas Everyday and Architecture membawa saya melihat keadaan lain di luar kehidupan sehari-hari.

Melihat bagaimana keadaan yang sangat berbeda tentunya memunculkan sebuah pengertian pribadi akan tempat yang baru di-encounter tersebut. Akan muncul pemikiran-pemikiran seperti, ‘kenapa itu begitu?’, ’seharusnya ini begini’, ‘itu salah’, ‘itu boleh juga’, dan sebagainya. Saya langsung membandingkan situasi yang mereka alami dengan situasi yang saya alami dan “menghakimi” keadaan mereka.

Akan tetapi, setelah kemudian terlibat dalam diskusi dan mengikuti kuliah lebih lanjut, muncul pertanyaan:

Siapa saya sehingga bisa menjadi orang yang menghakimi keadaan tersebut?
Pengetahuan apa yang saya miliki sehingga saya pantas disebut ‘yang tahu’?
Pengalaman apa yang saya miliki sehingga saya layak disebut ‘yang mengerti’?

Aku dan mereka layaknya apel fuji dan apel manalagi (atau jenis apel apa saja). Meskipun sama-sama apel, tetap saja ada perbedaan yang tak pantas dibandingkan begitu saja hanya berdasarkan melihat kedua apel tersebut sekilas. Ada faktor genetis yang membuat apel fuji apel fuji, dan apel manalagi apel manalagi, layaknya situasi-situasi yang mengikat mereka yang tak dapat dibandingkan begitu saja dengan apa yang saya alami.

04
Nov
09

human bubble at design

Sebenarnya pemanfaatan space secara vertical ataupun horizontal sudah ada sejak zaman dulu dan sangat mendasar, seperti contoh penggunaan space kontur untuk duduk (pemanfaatan kontur oleh tubuh) hal ini kemudian di kembangankan ke dalam arsitektur yang menyatakan bahwa ‘tubuh (bubble of human) dapat memberikan bentuk (form)’ dan bubble tidak hanya berpengaruh pada space horizon namun dapat pula dengan space yang vertical dengan perbedaan level (upper, middle, dan lower berkaitan fenomenologi shape).

Seiring berkembangnya arsitektur dan art, bubble juga sangat dibutuhkan dalam mendesain, seperti contoh hal ini dikembangkan dari tahun 1922 oleh gerrid rietvelt yang menyatukan antara teori De Stijl (penggunaan warna primer seperti merah, kuning dan biru yang berbentuk kotak dengan layout garis hitam untuk memisahkan warna primer tersebut dalam bentuk dua dimensi) dengan pemaanfaatan human bubble (dikonsentrasikan kepada akses), kemudian oleh gerrid rietvielt diaplikasikan dua dimensi menjadi tiga dimensi dalam karyanya schroder house yang dipadukan dengan human bubble yang memberikan effek fleksibel (berdasarkan kebutuhan dan pemanfaatan ruang baik vertical ataupun horizontal). Sebenarnya dalam applikasi kehidupan secara simple seperti penggunaan bukaan vertical (pintu atau jendela).

Jika aplikasi dalam pintu (aplikasi bukaan secara vertical sederhana walaupun pintu sendiri dapat diartikan suatu penghubung yang jika dibuka terdapat akses jika ditutup mematikan akses maka terciptalah fleksibelity juka pintu dapat dibuka atau ditutup, serta dapat memberikan pengertian tidak hanya vertical namun horizontal pun dapat memungkinkan) berawal dari perpindahan human bubble menjadi akses dimana akses sendiri merupakan perpindahan kondisi awal ke kondisi akhir hal ini yang dapat memberikan effek flexibility dengan inside dan outside. Dengan kata lain human body dapat memberikan desain yang sangat kaya dan beragam.

04
Nov
09

Tukang Gorengan juga Cinta Lingkungan…

Hampir setiap hari saya melihat pedagang gorengan yang berjualan,

di depan pintu kutek (teknik ui) atau tepatnya di depan kosan Pokus…

Hampir seluruh mahasiswa yang ngekos di wilayah kutek tahu akan keberadaan

pedagang gorengan yang sering disebut dengan gorengan pokus ini…

Mungkin dalam keseharian, kita kurang  melihat sisi lain dari apa yang dilakukan pedagang gorengan ini…

Sebagai konsumen, biasanya kita hanya datang, memilih gorengan, membayar, mengambil gorengan,

dan setelah itu pergi meninggalkan pedagang gorengan tersebut…

Apabila kita kembali melihat apa yang di lakukan si pedagang ketika melayani kita saat membeli.

Kita pasti melihat, setelah kita memilih gorengan maka sang pedagang akan langsung

memasukkan gorengan yang kita pilih ke dalam kantung kertas.

Kantung kertas tersebut terbuat dari kertas yang sudah tidak terpakai lagi, lalu di lem

sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kantung yang terbuat dari kertas.

Ingatkah? ketika isu Global Warming merebak? penggunaan plastik sebagai kantung,

diduga menjadi suatu hal yang mendukung semakin menjadinya Global Warming tersebut.

Dan penggunaan kantung kertas pun menjadi salah satu solusinya, selain dapat mendaur

ulang kertas bekas yang beredar pada masyarakat, bahan kertas pun dinilai lebih aman

untuk kesehatan tubuh manusia, dan penggunaan kantung plastik pun dapat ditekan.

Nah, tanpa disadari dalam keseharian kita, pedagang gorengan pokus tanpa mereka

sadari sudah turut berpartisipasi dalam gerakan mencintai lingkungan.

Dengan menggunakan kantung kertas daur ulang sebagai wadah gorengan para pembeli.

Namun, sangat disayangkan, mungkin karena sesungguhnya pedagang gorengan ini

belum sadar bahwa mereka telah melakukan hal yang baik dan tepat bagi lingkungan.

Setelah mereka membungkus gorengan dengan kantung kertas, kantung kertas berisi gorengan tersebut

dibungkus ‘LAGI’ dengan kantung plastik. Haha… sungguh sangat disayangkan yaaa….

04
Nov
09

Everyday in “Kampung” Pulo kambing Rw 2 Jatinegara Cakung Jakarta Timur

Kampung Pulo kambing adalah sebuah kampung ditepian Perindustrian Pulo Gadung Jaktim yang kebanyakkan penduduk lokal dan pendatangnya bekerja sebagai pengrajin furniture rumah tangga. Sebagian sisanya berkerja pada PT-PT di kawasan perindustrian Pulo gadung tersebut, buruh, pedagang dan sebagainya.  Nama  Kampung “Pulo kambing” itu sendiri kemungkinan dikenal akibat waktu dahulu banyak kambing di wilayah ini. Ada beberapa warga yang memelihara kambing bahkan sapi di sekitar rumahnya. Namun hal tersebut semakin hilang ketika saya masuk SMP yaitu sekitar tahun 2001

Kehidupan setiap harinya dijalankan oleh bapak-bapak yang  bekerja sebagai pengrajin furniture seperti tukang kayu dan tukang plitur. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai buruh angkut lemari yang bertugas untuk menyusun lemeri-lemari ke mobil angkut dengan posisi yang ideal sehingga bisa muat banyak. Pekerjaan ini disana disebut tukang Kretek.  Selain itu ada yang bekerja mencabuti paku dari kayu-kayu bekas, memotong kayu, dan triplek. Selain itu, juga ada yang bekerja sebagai karyawan pabrik, pedagang makanan (mayoritas siomay), tukang odong-odong, tukang ojek dan sebagainya. Mereka bekerja hari senin- jumat, akan tetapi ketika akhir pekan  adapula  beberapa orang yang bekerja mengharapkan uang lembur tambahan.Pada saat jam istirahat, para pekerja makan siang di warung-warung sehingga warung menjadi sangat ramai. Bapak-bapak bertemu dan saling mengobrol sambil merokok dengan bapak-bapak lainnya hingga kira-kira jam 2 siang. Terkadang ada warung yang sengaja mengantarkan makanan ke tempat kerja bapak-bapak tersebut, sehingga mereka makan lesehan di tempat kerjanya. Warung dan tempat kerjanya menjadi ruang komunal yang settle bagi bapak, pengrajin furniture saat istirahat.

Ibu-ibu yang rata-ratabekerja sebagai  ibu rumah tangga, mengurusi anak dan suami. Keunikkan dari ibu-ibu disana adalah mereka memasak 1 kali untuk 1 hari penuh. Mereka mulai memasak pagi-pagi, bahkan ada yang pagi-pagi sekali. Jadi ketika ada ibu yang berbelanja ditukang sayur pukul 8 pagi, maka sudah dipastikan hampir semua sayur-sayuran, ikan, tempe tahu, cabai dan sebagainya sudah hampir habis. Setelah memasak ibu-ibu biasanya berkumpul dengan ibu-ibu lainnya di pos atau di teras rumah yang cukup luas, di bawah pohon  dengan mengambil tempat duduk-duduk yang portable seperti dingklik dan menghabiskan waktu untukk mengobrol, menyuapi anak, menonton televisi dan sebagainya. Ibu-ibu kan bergantian pulang ketika waktu shalat telah tiba atau ada pekerjaan lainnya misalnya menyetrika. Untuk ibu-ibu yang tinggal dikontrakkan, biasanya setelah mereka selesai memasak, mereka akan duduk-duduk didepan pintu mengobrol dengan tetangga kontrakkan lainnya yang juga duduk didepan pintu. Sehingga pada gang kecil kontrakkan, muncul ruang komunal dari kegiatan ibu-ibu tersebut. Selain itu, pos, teras , dan dibawah pohon juga merupakan ruang komunal bagi ibu-ibu. Selain itu pada hari senin  dan kamis, ibu-ibu  pergi kepengajian yang berada di Mushalla As Sholihin untuk mengikuti pengajian dan arisan pengajian.

Dapur ibu-ibu yang mempunyai rumah seperti dapur biasa yaitu di belakang rumah. Terkadang ibu-ibu yang lain ketika datang langsung ke dapur dan mengobrol disana. Namun untuk ibu –ibu yang tinggal di kontrakkan , dapur mereka berada didepan pintu rumah mereka. Mereka memasak di gang kontrakkan mereka. Dapur bertemu dengan dapur lainnya membuat suasana semakin panas namun akrab. Namun hanya sedikit kesenjangan social antara ibu-ibu kontrakan dan ibu-ibu rumah. Jenis kontrakkan disana kebanyakkan kontrakkan 1 kamar, jarang sekali 2 kamar.

Anak –anak pada saat setiap harinya pergi kesekolah yang biasanya tidak jauh dari rumah mereka seperti SD 10, 03 dan 05 pagi. Setelah pulang sekolah mereka bermain disekitar rumah. Namun pada saat weekend, anak-anak sering keliatan di sekitar pos. Mungkin dikarenakan di sekitar pos ramai sehingga mengundang perhatian mereka.ibu. Anak-anak bermain di banyak titik seperti  dekat pos, di jalan, di gang, dilapangan , didepan mushalla, bawah pohon, dan sebagainya . Mereka bisa bermain apa saja; petak umpet, bentengan, minta jongkok, galaksin, gambaran , bahkan terkadang main karet bagi anak perempuan.

Pada weekend, suasana ruang komunal saat weekdaysnya semakin ramai kala siang hari. Pada saat pagi hari, para warga kebanyakkan berjalan-jalan ke ara pasar kaget disebut Gudang untuk mencari hiburan dan berbelanja. Gudang menjadi ruang public untuk semua usia. Gudang sendiri terletak di pinggir perindustrian Pulo Gadung.   Selain ke Gudang, biasanya bagi bapak-bapak dan remaja disana menggunakan sekeliling Area Gudang sebagai jogging track.  Siang hari menjelang, bapak-bapak suka menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan bapak-bapak lain di Pos, menonton tinju, formula one, GP, dsb. Ibu-ibu juga di ruang komunalnya dan anak-anak bermain di banyak titik seperti weekdays.

Keberadaan Pos di kampung Pulo kambing ini mengalami perubahan  arti. Pos disini adalah sebuah tempat berkumpul  yang kebanyakkan bangkunya berupa bale-bale.  Dahulu Pos digunakan sebagai tempat bapak-bapak ronda pada malam hari dan pada siang harinya terlihat sepi dan terdapat pentungan. Namun seiring dengan waktu dan banyaknya warga pendatang di Pulo Kambing, pos tidakklah sekadar pos biasa, ruang komunal biasa. Perkembangan makna pos itu sendiri bagi warga telah berkembang sedemikian luasnya sehingga pos dijadikan inti kegiatan komunal para warga .Bahkan ada pos yaitu di Rt 2 yang lebih berkembang ruang arti komunalnya . Disamping pos tersebut , terdapat tukang bakso yang berdagang sehingga ketika ada bapak-bapak berkumpul maka saat makan siang saat weekend biasanya akan makan bakso bersama. Pos sebagai salah satu ruang komunal yang terwujud dalam gagasan arsitektural . Di pos terdapat kegiatan berkumpul yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik tua muda, pendatang-warga asli.  Di pos pula, dilakukan acara –acara tertentu pada  saat –saat tertentu. Misalnya  pada pemilu salah satu pos di Rt 15 berubah menjadi TPU dan saat 17 agustusan menjadi arena untuk berkumpul dan ikut perlombaan. Pos seakan tidak pernah sepi oleh warga , berkembang luas, memiliki arti tersendiri bagi masyarakat kampung Pulo kambing. Dan seiring berjalannya waktu, akan seperti apakah pos bagi warga kampung Pulo Kambing mendatang??

26
Oct
09

Everyday Architecture, Memunculkan Atau Menghilangkan “Affordance” ?

J. J. Gibson mengungkapkan teori tentang Affordance, yaitu sebuah kondisi dimana suatu hal dilihat sebagai sesuatu yang lain, atau memiliki potensi yang lain. Sebagai contoh, pedagang kaki lima yang berjualan di jembatan penyebrangan orang. Mereka bisa melihat potensi ramainya jembatan tersebut akan menguntungkan bagi mereka, walaupun secara sadar mereka tahu bahwa mereka melawan sistem (power). Para pedagang kaki lima ini mungkin secara tidak sadar telah melakukan invasi terhadap ruang para pejalan kaki. Yang mereka lakukan sebenarnya terlebih dahulu melihat pola para pejalan kaki tersebut secara menyeluruh, kapan saja waktu-waktu padat, kapan waktu pejalan kaki merasa lapar atau haus, sehingga pada saat itu, munculah mereka. Para pedagang kakilima ini meletakkan sesuatu di sebuah kondisi tertentu, sehingga tercipta pola baru yang memiliki nilai (value) yang lain lagi.

Di sisi lain, munculnya nilai lain ini terkadang berimbas pada sesuatu yang “negatif” dalam kacamata tertentu, baik secara visual, maupun secara sistem. Oleh karena itu, muncul wacana “tepat sasaran” agar sesuatu yang dirancang (terutama oleh arsitek, yang merancang ruang) tidak dimaknai berbeda oleh pengguna. Secara tidak langsung bisa disebut sebagai usaha menghilangkan atau meminimalisasi affordance, oleh karena itu, kajian secara menyeluruh dan lengkap harus dilakukan sebelum melakukan intervensi, salah satunya dengan metode partisipasi bagi sasaran intervensi.

Pada dua ilustrasi tersebut, pendekatan yang dilakukan adalah sama-sama dengan metode keseharian. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya yang ingin dicapai? Menambah nilai terhadap sesuatu, atau justru meminimalisasi nilai tambah yang mungkin terjadi?

26
Oct
09

Partisipasi?

Participatory design is an approach to design that attempts to actively involve the end users in the design process to help ensure that the product designed meets their needs and is usable. It is also used in urban design, architecture, landscape architecture and planning as a way of creating environments that are more responsive and appropriate to their inhabitants and users cultural, emotional, spiritual and practical needs. It is important to understand that this approach is focused on process and is not a design style. (http://en.wikipedia.org/wiki/Participatory_design)

Participation: involvement in an activity (Oxford Learner’s Pocket Dictionary Fourth edition)

Melihat kuotasi di atas, terlihat adanya dua kata kunci yakni involve-involvement yang secara harfiah dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai terlibat-keterlibatan. Dua kata kunci inilah yang akan membawa kita dalam memahami pengertian partisipatif dalam sebuah desain. Seberapa jauhkah kita melibatkan pihak-pihak terkait dalam merancang sebuah karya arsitektural? Lalu, siapakah pihak-pihak tersebut? Pengguna, pengusul gagasan, atau mungkin pemilik kebijakan?

Di sini saya akan coba menceritakan sedikit pengalaman saya dan beberapa teman dalam sebuah proyek perancangan desain partisipatif. Dalam proses perancangan ini, ada tiga pihak utama yang terlibat yakni perancang, pengguna desain, dan juga penggagas/pengusul perancangan. Pada tahap awal, kami berhubungan dengan penggagas perancangan yang memiliki kepentingan khusus dengan terwujudnya rancangan yang akan kami buat. Kami diberitahu mengenai visi yang diusung untuk proyek kali ini yang kebetulan adalah sebuah sekolah. Pada tahap berikutnya, kami pun terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data dari penduduk setempat mengenai kultur, keadaan alam, hingga pada pandangan warga ataupun siswa terhadap keberadaan sekolah.

Data-data yang dikumpulkan dan diolah, kembali kami presentasikan di depan warga dan para penggagas untuk mendapatkan masukan tambahan mengenai desain. Dalam tahap ini, kami dibuat bingung terutama oleh penggagas yang tampaknya tidak begitu sepaham dengan metode partisipatif yang dijalankan. Di sini terlihat bahwa semua pihak ingin berbicara. Namun, tidak semua pihak yang dapat dimenangkan. Kami pun pada akhirnya memutuskan untuk memenangkan pengguna desain karena sudah merupakan hakekat berarsitektur di mana pengguna lah yang akan merasakan dampak desain secara langsung.

Hal ini persis seperti yang dijelaskan pada kuliah everyday and architecture mengenai partisipasi. Pihak-pihak yang terkait dalam sebuah perancangan seringkali tidak hanya melibatkan arsitek dan pengguna, tetapi juga pemilik kebijakan atau mungkin pemilik dana. Semua pihak ingin menang, namun hal itu tak mungkin terlaksana. Benarkah demikian? Kalau anda, mana yang akan anda menangkan?

-mando-

26
Oct
09

toilet duduk atau toilet jongkok?

Sebenarnya saya sudah memperhatikan mengenai hal ini sejak beberapa waktu yang lalu ketika saya dan adik saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Ketika kami pergi ke toiletnya, adik pergi mencari toilet jongkok. Awalnya saya tidak begitu memperdulikan hal itu. Tetapi setiap kali pergi ke toilet umum, selalu toilet jongkok yang dicarinya, meskipun tidak menjadi suatu keharusan. Demikian juga dengan ibu saya, lebih menyukai toilet jongkok apabila berada di tempat umum. Akhirnya, saya jadi bertanya – tanya dan akhirnya menanyakan langsung kepada mereka karena toilet di rumah sejak dulu adalah toilet duduk, jadi tidak mungkin hal itu dikarenakan ketidakbisaan mereka menggunakan toilet duduk. Jawaban mereka adalah karena di tempat umum banyak orang yang memakai toilet sedangkan kita tidak tahu kebersihan mereka. Apabila menggunakan toilet duduk, rasanya lebih tidak nyaman karena bersentuhan langsung. Selain itu, di beberapa toilet umum yang menggunakan toilet duduk seringkali ditemukan jejak sepatu, yang berarti meskipun itu adalah toilet duduk, ada saja yang masih memperlakukannya sebagai toilet jongkok dengan motivasi yang berbeda – beda. Setelah ditelusuri, ternyata beberapa hal yang saya temukan bisa menjadi penyebab hal itu terjadi adalah karena tidak terbiasa menggunakan toilet duduk; tidak mau bersentuhan langsung dengan dudukan toilet sehingga terpaksa jongkok di atasnya; berpikiran bahwa orang – orang lain juga menggunakan toilet duduk dengan cara jongkok di atasnya, apalagi bila melihat ada jejak sepatu diatasnya. Kalau dihubungkan dengan everyday and architecture, saya melihat dari segi bagaimana setiap orang memberikan perlakuan berbeda – beda terhadap obyek yang ditemuinya itu, dalam hal ini adalah toilet. Namun seringkali di mall mall besar apalagi di hotel – hotel tidak ditemui lagi toilet jongkok. Selain itu, toiletnya terjaga bersih dan rapih serta hampir tidak pernah ditemui hal semacam itu di toilet duduknya. Apakah karena orang – orang yang datang ke sana dari kalangan tertentu? atau karena memang cleaning service nya yang selalu siap siaga untuk membersihkan toilet sehingga selalu dalam keadaan bersih?

12
Oct
09

Be Creative with CLAY !

Sesungguhnya saya berkeinginan untuk membuat maket, dengan material yang berbeda. Dimana mahasiswa lain belum pernah menggunakannya. Suatu hari, saya memiliki janji dengan kerabat di suatu toko buku dibilangan matraman. Sembari menunggu kedatangan kerabat saya, saya melihat-lihat “apa?” yang kira-kira dapat menjadi bahan maket saya.

Saya berkeinginan suatu bahan maket yang memiliki karakter yakni mudah dibentuk dan tahan lama. Saya pun melihat seorang SPG yang sedang membuat berbagai macam fancy ornaments dan accesoris. Dengan mudahnya SPG tersebut membentuk berbagai macam wujud dengan menggunakan bahan yang belakangan diketahui bernama CLAY.

Saya kira Clay tidak berbeda dengan lilin mainan anak atau sejenisnya. Dimana lilin anak tersebut mampu dibentuk menjadi berbagai macam bentuk. Namun, lilin anak sangatlah ringkih, mudah hancur/mudah berubah bentuk. Sedangkan saya membutuhkan sesuatu yang mudah dibentuk dan tahan lama.

Ternyata, CLAY berbeda dengan lilin mainan anak. Selain Clay jauh lebih mudah dibentuk, bentuk yang dihasilkan pun dapat bertahan lama. Selain itu Clay juga tidak licin dan panas pada kulit telapak tangan seperti lilin mainan anak pada umumnya. Tidak heran, ketika mengetahui Clay memiliki harga diatas rata-rata, tapi menurut saya ini masih cukup terjangkau oleh beberapa kalangan masyarakat.

CLAY biasa digunakan untuk membuat berbagai fancy ornaments, accessories, toys, bouncing a ball dan berbagai kegiatan kreatif  lainnya. Termasuk apa yang saya lakukan pada Clay, dimana Clay saya manfaatkan untuk membuat maket project arsitektur. Dengan Clay saya mampu mewujudkan suatu bentuk yang berada di dalam imajinasi saya.

12
Oct
09

Could it always be called ‘everyday’?

Setelah membaca tulisan ‘ The Uses of Decoration : Essays in the Architectural Everyday, Malcolm Miles, 2000: Architectural Everydays dan Architecture of the Everyday, Steven Harris and Deborah Berke, saya menyimpulkan bahwa everyday adalah semacam kritik sosial terhadap lingkungan sekitarnya. Ini terlihat dari kutipan berikutnya:

….Lefebvre regarded everyday life as a means of countering the ‘mystified consciousness’ that encoded alienation in all spheres of existence.” ( McLeod, 1997:11)

Biasanya everyday selalu menyimpang dari apa yang ada di sekitar kita seperti yang dikutip berikutnya:

Lefebvre stressed that contradiction is intrinsic to its (the everydays) very nature. While it is the object of philosophy, it is inherently nonphilosophical; while conveying an image of stability and immutability, it is transitory and uncertain;while governed by the repetitive march of linear time,it is redeemed by the renewal of nature’s cyclical time; while unbearable in its monotony, it is festive and playful; and while controlled by technocratic rationalism and capitalism, it stands outside of them.” ( McLeod, 1997:13-14)

Akan tetapi, apakah seluruh yang bersifat sumpek, kotor, merakyat, atau gerakan baru ,dapat dikatakan sebagai sesuatu yang ‘everyday’? Sedangkan sesuatu yang bersih, elit, atau mewabah dianggap bukan ‘everyday’? Saya merasa tidak. Menurut saya, ‘everyday’ atau tidak, itu tergantung pada proses pemunculan atau tujuannya. Misalnya, Jember Fashion Carnaval. Mengapa itu dijadikan sebagai studi kasus? Karena, menurut saya, everyday itu tidak selalu berbentuk arsitektur. Itu bisa saja berupa  fashion, musik, perilaku, dan lainnya.

Seperti yang diketahui, Jember Fashion Carnaval (JFC) adalah karnaval fashion yang termegah di Indonesia. Ini umumnya diadakan pada bulan Agustus di Jember. Banyak tanggapan positif terhadap karnaval ini. Ada yang mengatakan kalau ini membuktikan bahwa kreativitas orang Indonesia tak kalah dengan negara lainnya seperti Brasil atau Amerika. Ini pun dianggap merakyat karena orang miskin atau nonprofessional tetap dapat menjadi peserta karnaval ini.  Bahkan ini juga berhasil mengangkat ekonomi Jember. Material yang dipakai untuk pakaian karnaval juga berupa material yang mudah diperoleh dan ada di sekitar kita.

Namun, bagi saya, karnaval ini kurang ‘everyday’. Mengapa? Setelah diselidiki ,ternyata proses pencanangan ini tidak banyak melibatkan warga Jember. Ini lebih banyak diurus oleh staf organisasi nirlaba JFC. Apalagi ini muncul dari kesadaran seseorang yaitu perekayasanya. Bukan murni kesadaran rakyat Jember. Bahkan tema dan rutenya juga ditentukan organisasi tersebut. Memang ada workshop untuk peserta karnaval. Akan tetapi, dalam workshop, mereka umumnya diberi referensi-referensi sebagai sumber insipirasi. Kebanyakan referensi itu berkaitan dengan tema karnaval yang akan diusung. Saya jadi pesimis. Seandainya organisasi JFC ini tidak ada, apakah rakyat Jember tetap akan meneruskannya? Apakah mereka sanggup? Apalagi karnaval ini biasanya didanai oleh pemerintahan kota Jember dan para donatur.

Jika masyarakat Jember dilibatkan dalam proses pencanangan seperti menentukan rute atau memutuskan tema JFC,maka tidak perlu ada workshop. Sebab mereka sadar bahwa JFC sesungguhnya adalah ekspresi kebebasan mereka. Jika itu terjadi, maka JFC dapat disebut ‘everyday’. Tidak perlu ada dana sokongannya. Sebab itu dilakukan dengan sukarela.

Bandingkan dengan Harajuku. Harajuku adalah kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Harajuku menjadi terkenal karena ritual remaja-remaja yang berdandan aneh-aneh di sini. Ritual ini bermula ada kelompok gadis yang disebut Annon-zoku yang berdandan meniru busana yang ada di majalah Anan dan non-no pada tahun 1970-an. Lama-lama jumlah mereka bertambah banyak dan dandanannya menjadi aneh dan bebas aturan. Bahkan ini telah menjadi ritual tetap bagi remaja Tokyo. Tidak ada dana sokongan untuk memunculkan ritual ini. Ini hanyalah semcam bentuk kesadaran mereka untuk mengekspresikan diri. Tidak ada paksaan ( rekrutmen ) untuk mengikuti ini. Tidak mengherankan, ritual ini mampu bertahan sampai sekarang. Bukankah sesuatu yang ordinany umumnya bertahan lama?

Itu juga terjadi pada arsitektur di sekeliling kita. Misalnya, ada sebuah warung kecil yang seluruh material tergolong benda yang mudah diperoleh, seperti triplek dan seng bekas. Tetapi, saat dinding dicat dan diberi merek rokok yang terkenal, otomatis, warung itu bukanlah sesuatu yang ‘everyday’ karena ada unsur kapitalismenya. Atau bisa juga sebaliknya. Seperti warung yang menggunakan spanduk utuh yang bertuliskan merek minuman. Waktu ditanya, ternyata itu diambil dari tempat sampah! Atau bisa juga perumahan elit yang sering dianggap bukan ‘everyday’ ternyata memiliki ritual ‘everyday’. Contohnya perumahan Kemang Pratama di Bekasi. Para remaja di situ memiliki kebiasaan berkumpul di pinggiran sungai pada sore hari. Padahal semula itu tidak didesain untuk mewadahi kegiatan tersebut. Namun karena di situ banyak pepohonan dan teduh, akhirnya banyak remaja memilih tempat itu untuk nongkrong. Bahkan tempat itu juga sering dipakai untuk lomba-lomba atau bazaar. Di samping itu, tempat itu juga relatif bersih (sedikit sampah).

Jadi, tak semua yang kotor, sumpek, atau mengandung material yang recycle serta-merta dianggap ‘everyday’. Mestinya dianalisis dulu proses pembentukan atau tujuannya sebelum menentukan apakah itu ‘everyday’ atau bukan. Karena, menurut hemat saya, everyday adalah ungkapan atau ekspresi dari masyarakat baik secara sadar maupun tidak sadar terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak ada unsur paksaan di dalamnya. Ini murni kehendak mereka sendiri.

28
Jan
09

Ruang Publik Sebagai Ruang Berkreativitas, Order or Disorder?

Tidak sedikit kita temui dinding-dinding di pinggir jalan yang berhiaskan gambar-gambar yang sering disebut grafiti. Apa yang sebenarnya menjadikan mereka melukiskan gambra-gambar tersebut pada sebuah dinding yang notabennya adalah miliki publik?untuk siapa sebenarnya mereka melakukan itu, untuk kepuasan dirikah atau untuk kepuasan publik itu sendiri atau adanya kesempatan bagi mereka untuk menggunakan ruang publik tersebut sebagai media kreativitasnya?bisakah disini saya katakan bahwa secara tidak langsung ruang-ruang yang terbentuk beserta elemennya di lingkungan publik dapat menciptakan suatu peluang atau kesempatan bagi publik untuk menggunakan di luar dari yang seharusnya?dan dapatkah dikatakan bahwa disini bahwa keberadaan grafiti tersebut adalah bentuk partisipasi masyarakat terhadap ruang publik yang justru dengan adanya partisipasi tersebut malah menjadikan ruang publik difungsikan diluar dari fungsinya karena mereka melihat adanya kesempatan yang memungkinkan mereka untuk menuangkan kreativitasnya di situ.

Namun keberadaan grafiti tersebut bisa mengundang mata publik yang melintas di depannya dan membuat mereka menjadi tertarik dan mungkin menjadi tidak bosan jika sedang melewatinya. Sehingga disini bisa kita lihat mungkin sebelum keberadaan grafiti tersebut ruang publik tersebut tidak mengundang perhatian publik tetapi setelah keberadaan grafiti yang disini saya katakan sebagai bagian dari partisipasi masyarakat terhadap ruang publik, mereka menjadi terlihat lebih hidup dan bahkan tidak membosankan. Publik disini juga dapat dikatakan sebagai penghidup dari desain ruang publik yang ada, mereka membubuhi sesuatu didalamnya. Ketika saya melewati salah satu jalan di kota Bandung, saya justru melihat dinding di sepanjang jalan dipenuhi dengan gambar-gambar serupa dengan grafiti, kemudian saya berpikir mengapa justru mereka “sangat” dibolehkan untuk menggunakan milik publik sebagai ajang menuangkan kreativitas mereka, berarti disini bentuk grafiti itu adalah disorderkah atau bukan?

Memang jika kita lihat grafiti tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk disorder, tetapi salahkah jika ternyata hasil dari bentuk disorder tersebut malah menjadikan sesuatu lebih terlihat menarik? karena sesuatu yang disorder terkadang sering diidentikkan dengan sesuatu yang salah, karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Bagaimana jika sesuatu yang kita pikir sebagai bentuk disorder kita jadikan order?yang salah satu caranya adalah seperti pada contoh kasus yang saya temui di sepanjang jalan di daerah bandung dimana mereka justru membuat dinding-dinding yang ada disepanjang jalan menjadi lebih menarik dengan keberadaan grafiti. Menambahkan sesuatu pada bagian ruang publik yang justru memberikan sesuatu yang lebih terhadap ruang publik tersebut.

04
Jan
09

Arsitektur melalui Partisipasi

Karya arsitektur merupakan suatu ruang yang dirancang oleh arsitek dan dinikmati oleh pengguna (masyarakat) dalam kehidupan sehari-hari. Dalam merancang karya aristektur ini, terdapat dua dasar yang dapat diterapkan oleh seorang arsitek, yaitu merancang melalui standar yang ada dan merancang melaui partisipasi.

Merancang dengan standar yang telah ada, seringkali membuat arsitek tidak perlu beinteraksi dengan masyarakat yang menggunakan, karena sang arsitek berpikir bahwa standar yang telah dibuat sebenarnya berasal dari masyarakat itu sendiri dan melalui standar yang ada dapat tercipta karya arsitektur yang indah. Namun pada kenyataannya, masyarakat dalam kehidupan kesehariannya dengan beragam kebudayaan memiliki keunikan yang berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya. Sehingga, standar arsitektur yang telah ditetapkan suatu negara dapat tidak berguna jika digunakan di negara yang berbeda, dan karya arsitektur yang diciptakan akan diubah sesuai keinginan pengguna atau bahkan tak ada yang akan menggunakannya. Hal ini yang menjadi kelemahan dalam merancang melalui standar yang ada. Seperti yang dikatakan Prince of Wales’s model housing development in Dorest,architects had no monopoly of the taste,….’ (the uses of decoration, pg.160). Bagaimana dengan merancang melalui partisipasi pengguna dan arsitek? Apakah arsitektur yang tercipta akan tetap indah?

Merancang melalui partisipasi diterapkan oleh ECU (Education Care Unit) di SDN 13 Petang, Srengseng. Program ini diberikan untuk anak-anak kelas 4 SD yang merupakan golongan minoritas dalam lingkungan arsitektur. Tema yang dibuat yaitu mengenai rumah sehat. Dalam kegiatan ini, terdapat dua pihak yang berperan dalam merancang rumah yang sehat yaitu anak-anak SD (sebagai pengguna) dan fasilitator (sebagai arsitek). Kedua pihak ini saling bekerjasama dalam bentuk diskusi dan membuat model rumah sehat.

Diskusi merupakan suatu pendekatan dalam merancang melalui partisipasi. Dalam tahap diskusi awal ini, fasilitator mencoba mengenal anak-anak SDN 13 melalui tempat tinggal dan kondisi tempat tinggal mereka. Sebagian besar dari anak-anak ini tinggal dekat dengan sekolah mereka dan memiliki kondisi tempat tinggal yang berbeda. Tahap diskusi kedua ini, fasilitator mencoba mengetahui seberapa dalam pengertian anak-anak SD ini mengenai sebuah rumah yang sehat melalui ruang-ruang yang nyaman dan tidak nyaman dalam rumah mereka, dan mengapa mereka merasa nyaman dan tidak nyaman. Tahap ini merupakan tahap yang mudah bagi anak-anak SDN 13, namun memiliki kesulitan dalam menjelaskan mengapa nyaman ataupun mengapa tidak nyaman. Tahap diskusi selanjutnya mengenai main mapping masalah dalam rumah dan solusinya. Masalah yang muncul dalam rumah berupa pengap, bau, gelap, dan gersang. Anak-anak menguraikan penyebab terjadinya masalah dan mencoba mencari solusinya. Solusi yang diajukan merupakan solusi yang sederhana, seperti masalah pengap, penyebabnya karena tidak ada jendela, maka solusi yang dikemukakan anak-anak secara spontan yaitu membuat jendela. Solusi tersebut tampak sederhana, namun secara tidak langsung fasilitator (arsitek) memberikan pengertian pada anak-anak SD (pengguna) bahwa rumah yang sehat sebaiknya menggunakan jendela agar udara dapat masuk sehingga ruang menjadi tidak pengap. Bentuk partisipasi aristek terhadap pengguna pada tahap ini terjadi melalui diskusi yang menghasilkan pengertian mengenai rumah sehat dan masalah serta solusi dalam penyelesaian masalah.

Tahap berikutnya berupa membuat model lingkungan rumah yang sehat. Membuat model lingkungan rumah yang sehat bagi anak-anak SD Negeri 13 Srengseng ini merupakan tahap yang menyenangkan. Mereka dapat merancang rumah masing-masing dan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemahaman mengenai rumah sehat yang telah didiskusikan sebelumnya. Pada tahap ini, tiap anak merancang rumah mereka dengan memberikan pintu, jendela, dan kanopi berdasarkan kreatifitas mereka masing-masing. Mereka juga membuat banyak pohon, meletakkan tempat sampah, pagar, lampu jalan, kolam bersama dan lapangan bersama. Partisipasi yang diberikan fasilitator (arsitek) seperti, ketika ada anak yang meletakkan tempat sampah tepat di depan jendela, maka fasilitator memberikan arahan melalui pertanyaan, apakah bau sampahnya tidak masuk ke dalam rumah? Kemudian anak (pengguna) berfikir sambil tersenyum dan mencoba meletakkan tempat sampahnya jauh dari jendela namun tetap di lingkungan rumahnya. Hasilnya berupa model lingkungan perumahan yang jika dilihat hanya berupa potongan kardus dan kertas, namun bagi anak-anak SDN 13, model ini merupakan suatu karya lingkungan rumah yang sehat dan mereka bangga akan karya yang telah mereka buat bersama ini. Bentuk partisipasi yang diberikan pada tahap ini berupa arahan dalam merancang rumah yang sehat.

Kegiatan yang dilakukan Education Care Unit ini merupakan kegiatan partsipasi yang membiarkan pengguna merancang lingkungan tempat tinggal mereka sendiri berdasarkan pengertian yang telah diberikan arsitek terhadap lingkungan tempat tinggal yang sehat. Secara tidak langsung, anak-anak ini telah belajar bagaimana merancang lingkungan yang sehat dan nyaman bagi mereka.

Merancang melalui partisipasi pengguna dan arsitek merupakan suatu proses perancangan yang tidak mudah. Seorang arsitek harus menghilangkan egonya dan bertukar pikiran dengan masyarakat sebagai pengguna. Kebutuhan dan keinginan dalam suatu masyarakat pun berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Namun, melalui diskusi maka proses tersebut akan dilalui dengan baik. Arsitek tidak lagi merancang melalui standar yang ada tetapi merancang berdasarkan masyarakat yang akan menggunakan rancangan tersebut, sehingga arsitektur yang dihasilkan berdasarkan partisipasi akan lebih berguna bagi masyarakat. Arsitektur yang dihasilkan selain bermanfaat bagi masyarakat juga memiliki sisi keindahan karena adanya partisipasi arsitek di dalam proses perancangannya. Keindahan yang terbentuk tidak hanya keindahan yang tampak secara visual, namun keindahan yang berarti sesuai pada tempatnya dan berguna bagi penggunanya. Seperti pernyataan Wates dan Knevitt, ‘the architect must produce something which is visually beautiful as well as socially useful’ (Wates and Knevitt, 1987:38).

02
Jan
09

Awaken the Giant Spirit Within

Karya seorang arsitek sering kali diidentikan sebagai sebuah massa bangunan yang dirancang dengan indah oleh seorang arsitek. Di dalam pandangan ini, arsitektur dilihat sebagai sebuah hasil atau produk atau tujuan akhir dari perancangan itu sendiri. Namun, apa yang saya pelajari dan pahami dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Education Care Unit di sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN 03 Guntur di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Desember 2008, lalu, sungguh mengubah pandangan saya tentang karya arsitektur. Sebuah karya arsitektur yang berkelanjutan (sustainable architecture).

Apa yang dikerjakan oleh Education Care Unit (ECU) yang diprakarsai oleh dosen-dosen saya di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia yaitu Bpk.Yandi Andri Yatmo PhD, Ibu Paramita Atmodiwirjo PhD dan Bpk. Didi Pramujadi, bukanlah merancang sebuah massa bangunan yang mereka sebut ’sustainable’. Mereka membangkitkan kesadaran dan merancang pola pikir anak-anak tentang kepedulian terhadap lingkungan mereka sendiri. Disini arsitektur bukan menjadi sebuah produk akhir, namun menjadi sebuah instrumen.

Isu-isu lingkungan lingkungan seperti kerusakan hutan, laut,energi, sampah, polusi dan lainnya hingga isu pemanasan global menjadi hal yang sangat diperbincangkan di berbagai kalangan di dunia. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan pemerhati lingkungan saja, namun juga mereka yang bergelut di lingkup arsitektur bahkan hingga kepala negara di hampir seluruh dunia. Peran arsitek untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan, selama ini, melalui desain-desain bangunan ramah lingkungan, zero waste, green building atau apa pun namanya, memang patut kita puji, terlebih apabila arsitektur dipandang hanya sebagai sebuah tujuan. Namun yang menjadi permasalahan utama saat ini dan masa depan, jauh lebih besar dari itu, yaitu semangat (spirit) dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan serta implementasinya. Dari titik inilah kemudian arsitektur dan segala ilmu dengan teknik yang ada di dalamnya dapat masuk ke masyarakat dan akan sangat berperan dalam mengurangi degradasi lingkungan, bukan sebagai sebuah tujuan, namun sebagai sebuah proses dan instrumen.

Di Indonesia, buruknya mutu pendidikan menjadi faktor paling kuat yang menyebabkan minimnya semangat kepedulian dan respons terhadap lingkungannya. Kurangnya pengetahuan menjadi alasan klasik saat menilai perilaku masyarakat perkotaan di Indonesia yang masih dinilai primitif bagi negara-negara maju dunia. Membuang sampah ke sungai, menimbun sampah plastik di dalam tanah dan sebagainya, merupakan contoh nyata yang dekat dengan keseharian kita. Mereka yang mengetahui bahwa  perilaku diatas merupakan jalan keluar yang kurang tepat pun sering kali tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini agaknya membuktikan bahwa pendidikan yang diterima oleh masyarakat kita, sebagian besar belum menekankan semangat untuk menerapkan dan mengembangkan pengetahuan itu sendiri. Kurangnya kreasi, inovasi dan semangat berproduksi membuat pendidikan bahkan tidak mampu menciptakan sumber daya manusia yang mandiri.

Pendidikan yang berlangsung satu arah yaitu dari atas (otoritas guru) ke bawah (anak didik) bisa jadi merupakan penyebabnya. Sistem pendidikan seperti ini memang terlihat lazim di sekolah-sekolah di Indonesia, terutama pada tingkatan Sekolah Dasar. Padahal sistem pendidikan seperti ini hanya akan menjadikan siswa didik sebagai penerima ilmu yang diberikan oleh sang guru. Sering kali bahkan sang guru salah dalam menyampaikan ilmunya sehingga terjadi salah persepsi diantara siswa didik. Lebih parahnya lagi, ilmu yang yang disampaikan oleh guru acap kali dianggap sebagai harga mati yang kemudian mempengaruhi penilaian jawaban mereka saat ujian sekolah.

Sistem pendidikan semacam itu telah membuat anak-anak kehilangan kekritisan dan kreativitasnya, karena mereka takut salah. Mereka menjadi sangat bergantung pada ‘guru’, menunggu perintah, menunggu untuk diberitahu, disediakan, atau dengan kata lain, ‘disuapi’ sesuatu yang mereka tidak benar-benar mengerti. Padahal, kreativitas tidak datang dari sesuatu yang serba pasti, ia datang karena adanya kebebasan, keingintahuan, proses berbuat, dan tidak takut salah.

Pendidikan di tingkat sekolah dasar sering kali juga kurang tepat dalam menyampaikan konsep-konsep pemikiran dalam hubungannya dengan masalah sehari-hari. Sebagai contoh, ketika saya dulu duduk di bangku sekolah dasar, apa yang selalu dikatakan oleh guru adalah bahwa kita harus ‘membuang sampah pada tempatnya (tong sampah)’. Mengapa? Karena jika tidak akan menyebabkan kotor, banjir, penyakit, bau busuk dan sebagai macamnya. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana jika tong sampah (‘tempatnya’ sampah) tidak ada. Anak-anak biasanya akan terus mencari dan ketika mereka putus asa, tempat apa pun akan menjadi ‘tempatnya’. Penyampaian pola berpikir terhadap penyelesaian masalah pada anak-anak sekolah dasar yang sering kali kurang tuntas telah membuatnya mudah sekali tergantikan oleh pola berpikir praktis. Alasan membuang sampah sembarangan sebagai penyebab banjir, akan menjadi omong kosong bagi anak-anak ketika hal itu tidak juga terjadi padahal mereka melakukannya setiap hari.

Dengan latar belakang inilah saya melihat hadirnya ECU dengan konsep pendidikan yang membangkitkan dan mengembangkan semangat kreativitas, kekritisan dan proaktivitas yang berkelanjutan sebagai sebuah inovasi dalam paradigma pendidikan. Dengan berbekal pengetahuan arsitektur yang telah saya dapatkan selama kuliah dan dengan pengarahan dosen, saya ikut merasakan sendiri metode baru pendidikan yang berupaya untuk menggali lagi semangat belajar, berkreasi dan berpendapat pada anak-anak kelas 4 SDN 03 Guntur. Saat itu, tim ECU membuat semacam lokakarya dengan tema rumah dan lingkungan yang sehat, saya menjadi salah satu fasilitatornya.

Kegiatan diawali dengan perkenalan antara pembimbing dengan anak-anak yang dibagi ke dalam beberapa kelompok berisi delapan anak, dengan satu sampai dua pembimbing di dalamnya. Perkenalan ini hal kecil, namun sangat penting. Di tahap inilah pembimbing (fasilitator) dengan anak-anak mulai saling membangun kepercayaan dan semangat mereka dalam melaksanakan pembelajaran ini. Tanpa keyakinan dan saling percaya, pembelajaran ini hanya akan menjadi formalitas semata.

Perkenalan kemudian berlanjut dengan diskusi di dalam masing-masing kelompok yang sebenarnya lebih menyerupai sharing, menceritakan mengenai keadaan rumah mereka. Ada yang panas, pengap, ada yang gelap, ada yang selalu bersih karena rajin membersihkan rumah dan sebagainya. Mereka juga tak segan-segan bertanya kepada saya mengenai kondisi rumah saya saat ini dan hal ini membuat saya yakin bahwa mereka adalah anak-anak yang cukup proaktif, sehingga akan lebih mudah bagi saya untuk membimbing mereka.

Kegiatan saling bercerita itu kemudian dipandu dengan sebuah lembar isian yang di dalamnya terdapat pertanyaan-pertanyaan seputar keadaan rumah mereka terkait dengan rumah sehat. Dalam mengisinya, mereka tak perlu saling menyontek, mereka hanya perlu menceritakan sebanyak yang mereka mau, sebaik yang mereka tahu, dan dengan bahasa mereka sendiri. Bahkan jika mereka kehilangan inspirasi dalam menjawabnya, mereka bisa bertanya kepada kami pembimbingnya agar dapat menggali lagi pengetahuan dan cerita mereka. Disini, mereka lah yang berkepentingan, mereka lah yang ingin tahu dan ingin mencari sebanyak mungkin jawaban. Kita memberikan mereka ‘ruang’ seolah mereka lah yang paling mengerti tentang lingkungan mereka sendiri, dan dengan mempercayai mereka, kita juga akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan.

Hal kemudian berubah menjadi agak sulit pada saat diskusi ini mencapai tahap yang lebih lanjut yaitu pemetaan pikiran: menemukan alasan atau penyebab dari setiap masalah dan kemudian mencari solusinya. Misalnya, masalah ruang kamar yang panas / pengap, penyebabnya karena tidak ada atau kurangnya ventilasi, solusinya seperti yang disepakati para anggota kelompok ialah dengan membuat atau memperbanyak ventilasi, memakai kipas angin atau AC. Disini anak-anak mulai terlihat kesulitan dalam mencari keterkaitan sebuah masalah dengan penyebab dan penyelesaiannya. Mereka mulai banyak sekali bertanya karena kurang yakin dengan pemikirannya meskipun ternyata pemikiran mereka sangat masuk akal dan nyata. Mungkin ini adalah akibat dari sistem pendidikan yang serba satu sumber, satu pemikiran, satu kalimat dan satu gaya bahasa tadi.

Di akhir bagian yang disebut pemetaan pikiran tadi, anak-anak akhirnya dapat melihat hubungan yang ada, mengelilingi sebuah masalah yang sebelumnya mereka temukan sendiri di lingkungan dan rumah mereka. Mereka akhirnya tidak lagi melihat sebuah masalah yang hanya dapat diidentifikasi, namun kini mereka tahu apa yang dapat mereka lakukan dengan melihat pada penyebab dari permasalahan itu sendiri.

Setelah proses pemetaan pikiran selesai, anak-anak terlihat seolah-olah telah melakukan sebuah upaya yang baik, sebuah jawaban / pengetahuan yang sudah cukup untuk mengakhiri pertemuan pagi itu. Mereka pun bertanya, ” Habis ini kita ngapain, kak? Sudah selesai ya?”. Saya pun menjawab mereka,” Belum. Ada yang lebih seru!”. kegiatan selanjutnya ialah siswa diajak membuat sebuah maket kompleks perumahan yang sehat sesuai dengan hasil diskusi tadi.

Berbeda dengan proses diskusi dan pemetaan pemikiran yang agak sulit, proses pembuatan maket ini disambut antusias para siswa. Suasana gaduh yang muncul selama proses diskusi kini berubah menjadi keasyikan tersendiri, membuat sebuah rumah sehat impian. Mereka sibuk dalam aktivitas dan imajinasinya masing-masing, selain tentunya memasukan apa yang telah mereka pelajari dalam diskusi. Disini anak-anak diberikan kebebasan berimajinasi dan sekaligus menerapkan pengetahuannya sehingga mereka dapat memiliki sense of belonging terhadap apa yang mereka buat.

Dengan bahan yang sederhana mereka sibuk menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas yang dibagikan. Mereka meminta bahan terbaik pada kami sebagai bahan membuat rumah mereka. Mereka kemudian menggambarkan jendela-jendela dan ventilasi pada rumah yang berukuran 5×10 cm dan tinggi 5 cm tersebut. Pohon-pohon sebagai elemen penghijauan dibuat deangan kertas krep atau daun-daun dari halaman sekolah mereka.

Maket dibuat dengan sederhana, namun sesuai dengan pemahaman dan imajinasi anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar maket tidak dibuat sebagai produk prakarya semata, namun lebih memiliki makna dan cerita. Di sini, sama seperti arsitektur, model bukan hadir sebagai tujuan atau produk akhir, namun hanya sebagai instrumen untuk mencapai tujuan yaitu merangsang semangat dan kreativitas anak-anak terhadap pengelolaan lingkungan di sekitarnya.

Proses berikutnya tak kalah penting yaitu membuat refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan pagi itu. Disini mereka diminta untuk menyampaikan kembali apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang mereka pelajari. Bagian ini sangat penting untuk melihat bagaimana anak-anak menyerap pembelajaran yang telah diberikan kepada mereka.

Pembelajaran seperti yang dilaksanakan oleh ECU ini dapat menjadi cara lain bagi mereka yang memiliki pengetahuan di bidang arsitektur khususnya untuk membantu mengurangi permasalahan degradasi lingkungan yang terjadi semakin parah beberapa dekade terakhir ini. Hal ini bukan terjadi karena buruknya kualitas lingkung bangun, karena hal itu hanya lah sebagian dari akibat. Permasalahan yang sesungguhnya adalah kurangnya kepedulian manusia terhadap alam yang selama ini mereka ‘eksploitasi’. Arsitek harus dapat berperan lebih, bukan hanya sebagai ‘pembantu’ (membantu klien yang peduli terhadap lingkungan), namun justru sebagai pembangun semangat (spirit) dan kepedulian terhadap lingkungan itu sendiri di tengah-tengah masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus dunia.

Hidup dan lingkungan yang lebih baik adalah dambaan bagi hampir 3 miliar penduduk dunia. Mereka semua mempunyai spirit untuk mewujudkan itu. Spirit menjadi begitu penting karena ia menjadi kekuatan raksasa bagi hadirnya sebuah perubahan. Namun ketika harapan semakin menjauh dari kenyataan, spirit pun dapat perlahan menghilang. Disaat kondisi seperti ini, besar harapan perubahan bertumpu pada generasi mendatang, sebagai pembawa perubahan. Pada esensinya proses pembelajaran altrnatif ini berusaha untuk membangkitkan spirit dan memberikan pemahaman sejak dini tentang pengelolaan lingkungan yang baik dengan cara yang menyenangkan. Spirit dan pemikiran yang sudah tertanam dengan kuat diharapkan akan terus terbawa dan dikembangkan, hingga kemudian pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dapat terealisasi. Yes, we can!!