27
Sep
09

Berwacana tentang arsitektur + keseharian

Blog ini merupakan wadah gagasan tentang arsitektur dalam konteks keseharian dari kelas “Keseharian & Arsitektur” semester gasal 2008/2009 dan 2009/2010 di Departemen Arsitektur Universitas Indonesia.

Berbagai gagasan tentang everyday + architecture dalam blog ini terdiri dari:

1. Refleksi terhadap sebuah wacana, teori ataupun pandangan yang berkaitan dengan keseharian dan arsitektur.

2. Rekaman kasus yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, serta pembahasan tentang kasus tersebut dalam kaitannya dengan wacana arsitektur dan keseharian.

3. Rekaman eksplorasi yang dilakukan – observing, re-reading, re-interpreting – dalam upaya memahami wacana arsitektur dan keseharian.

03
Jan
10

Reproduksi tempat oleh masyarakat

Pada saat mengamati rt17,Pulogebang dalam rangka projek community development ,kami berkesempatan mengikuti arisan ibu-ibu. Rt17, merupakan pemukiman padat penduduk, rumah-rumah berjejer rapat, dengan jalan diantara rumah begitu kecil. Ternyata hal tersebut dilihat sebagai sebuah potensi dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Rumah-rumah rata-rata berukuran kecil, membuatnya tak cukup menampung ibu-ibu satu rt. Maka jalan di depan rumah, dan teras-teras tetangga di sekitarnya dipakai sebagai tempat arisan.
Sebuah re-produksi yang dilakukan masyarakat. Pada keadaan biasa, jalan memiliki fungsi sebagai akses, dan tempat bersirkulasi, namun kini ia tereproduksi menjadi ruang komunal. Arsitek,developer, bisa membangun dengan sebuah tujuan akan fungsi. Namun, masyarakat sebagai manusia yang aktif bergerak dan berpikir bisa memiliki berbagai respon akan suatu tempat. Mereka mampu memberi makna baru dalam penggunaan suatu tempat. Kemudian, apakah makna baru itu menjadi sebuah kesalahan, karena terkadang melanggar kaidah kewajaran.?Semua kembali kepada pemikiran masing-masing.

03
Jan
10

Modernkah?

Beberapa bangunan “kotak” dengan atap datar, dan minim-bahkan sangat minim- ventilasi muncul di negara tropis kita. Dengan paparan matahari yang cukup banyak dan suhu harian yang cukup panas, bangunan “kotak” itu sebenarnya tak relevan. Alhasil, dibutuhkanlah teknologi tambahan semacam: air conditioning untuk membuat penghuninya nyaman.

Benar, seperti yang tertulis dalam chapter 6 dari solar geometry , bahwa perkembangan akan ilmu pengetahuan dan technology membuat kita percaya bahwa semua masalah dapat dipecahkan sehingga kita tidak butuh lagi untuk hidup harmonis dengan alam, dengan contoh lain yang ditulis dalam chapter 6 tersebut…
…in the desert of buildings with very large areas of glazing, which can be kept habitable only by means of huge energy guzzling air conditioning plants

Tipis bedanya bahwa itu adalah sebuah kejeniusan dalam ber-arsitektur, atau sebaliknya.

Sedangkan Le Corbusier berujar “It is the mission of modern architecture to concern itself with the sun”

Berarti sesuai parameter Le Corbusier akan arsitektur modern, bangunan-bangunan ini –yang tak bersesuaian dengan keadaan matahari- bukanlah termasuk arsitektur modern?

03
Jan
10

Karakter dari sebuah rancang bangun

Ketika arsitek merancang, seringkali muncul ego dalam diri arsitek tersebut sehingga rancangannya menjadi “diakui”,”dikagumi”,dan sebagainya. Menampilkan karakter dan pemikiran sang arsitek dalam rancang bangunannya. Tapi, hal ini bisa saja menjadi ”bencana” bagi para pengguna rancang bangun si arsitek tersebut, jika ego sang arsitek membuatnya mengabaikan kebutuhan dan karakter si calon pengguna tersebut. Bisa saja sebuah karya arsitektur begitu menarik perhatian, indah, namun ia seperti ”alienisasi” di suatu komunitas, karena ia tak mampu mewadahi keseharian komunitas tersebut. Karakter yang dimunculkan dari rancang bangun tersebut adalah ego sang arsitek, bukanlah karakter dan kebutuhan komunitas tersebut.

Maka saya mengutip, mengenai apa yang arsitek harus lakukan menurut Berke:

What should architect do instead? A simple and direct responses acknowledge the needs of the many rather than few address diversity of class, race, culture, and gender; without allegiance to a priori architectural styles or formulas, and with concern for program and construction…” (Berke, 1997).

Dalam kutipan tersebut ada beberapa yang bisa digarisbawahi mengenai apa yang kemudian arsitek lakukan:menyoroti pada kebutuhan,berfokus pada program dan konstruksi, bukannya setia pada gaya atau formula arsitektur sebelumnya, sehingga karya arsitektur yang muncul dapat ikut “hidup” bersama penggunanya, bukan sekedar karya seni atau sebagai objek semata.

26
Dec
09

Menjajah Ruang

Beberapa kali mengikuti kuliah arsitektur dan keseharian di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia membuat saya menemukan adanya cara untuk bisa menjajah tempat orang lain. Cara ini membuat orang secara sadar atau tidak sadar menggunakan cara ini untuk menjajah daerah orang lain. Salah satu contoh dimana cara ini dilakukan adalah yang dilakukan oleh Malaysia dalam merebut wilayah Pulau Simpadan dan Legitan. Mulanya mereka memberikan bantuan-bantuan kecil kepada masyarakat di sana dan kemudian mereka mulai ‘menandai’ daerah itu dengan ‘tanda-tanda kecil’ sehingga akhirnya pulau tersebut berhasil direbut dari Indonesia.

Contoh lain adalah ketika kita sedang berada di bangku sekolah ataupun kuliah. Dengan kita secara berulang-ulang menempati tempat duduk yang sama secara berulang-ulang setiap harinya, maka secara langsung ataupun tidak langsung kita telah ‘menandai’ daerah tersebut menjadi tempat duduk kita.

Jika diperhatikan, cara yang seperti ini merupakan cara yang cukup mudah bukan?

26
Dec
09

PKL – Membasmi Jamur di Tempat Lembab

Kaki lima merupakan sebuah fenomena yang biasa saja dan seringkali saya tidak hiraukan. Namun, saya mulai tertarik dengan fenomena ini sejak saya melakukan suatu survei di daerah Kampung Melayu. Pada saat itu saya diharuskan menganalisis sesuatu, dan mulailah saya merasakan bahwa ada sesuatu pada fenomena tersebut.

Kakilima menempati tempat yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk ditempati. Seringkali mereka dirazia dan dibersihkan dari ‘tempat’nya. Apabila mereka sudah dibersihkan dan tempat itu tidak dijaga oleh petugas ketertiban, maka lambat laun mereka akan bermunculan kembali. Ketika mereka muncul, mereka akan diusir kembali. Dan hal ini sebenarnya menjadi hal yang akan terus  berulang.

Fenomena ini menurut saya seperti upaya kita untuk memberantas jamur di tempat lembab tanpa membuat tempat tersebut menjadi kering. Selama masih tetap lembab, mereka akan bermunculan terus menerus. Tempat yang biasa di’hijack’ oleh para pedagang kaki lima sebenarnya memang daerah yang bisa mendatangkan keuntungan bagi mereka dan tempat dimana untuk sementara waktu (sampai mereka belum terusir), mereka aman menjajakan dagangannya. Biasanya tempat tersebut merupakan trotoar di depan sebuah rumah yang tidak terpakai. Berdasarkan teori affordance di mana mereka melihat tempat itu sebagai tempat yang ‘baik’ untuk mereka ‘hijack’, maka mereka akan terus kembali ke tempat itu untuk menjajakan dagangannya.

Hal yang menurut saya membuat saya cukup geli adalah pemerintah yang tidak menyadari hal ini dan tetap melakukan upaya yang sama untuk menghadapi masalah yang sama. Menurut saya, ada empat cara yang dapat dilakukan pemerintah yaitu memfasilitasi mereka, mencari tempat baru yang baik bagi mereka, membuat tempat tersebut menjadi tempat yang tidak sesuai untuk membuat mereka ‘tumbuh’, atau yang terakhir dengan mengeluarkan biaya lebih dengan membayar petugas ketertiban berjaga setiap hari. Selama salah satu dari ketiga cara ini tidak dilakukan, maka hampir bisa diperhatikan usaha pemerintah tidak akan berhasil.

Saya tak berpendapat bahwa pedagang kaki lima itu jelek. Karena sampai saat ini saya dapat memanfaatkan jasa mereka walaupun sesekali mengganggu kenyamanan. Namun saya pikir seharusnya pemerintah lebih bijaksana dalam memerintah dan perancang haruslah lebih memahami fenomena ini. Misalnya saja terminal, tempat ini seharusnya menyediakan ruang untuk pedagang berjualan. Terdapat kebutuhan dari para penumpang untuk makan ataupun minum. Dan juga terdapat kebutuhan pedagang untuk berjualan. Hal inilah yang membuat terminal meskipun tidak dirancang untuk menyediakan tempat berjualan, tetapi pasti akan tetap ada yang berjualan di sana legal ataupun tidak.

Untuk itulah, maka ini adalah tugas bagi para arsitek untuk lebih memperhatikan fenomena seperti ini.

26
Dec
09

“Ikan Sapu-Sapu” Elemen Arsitektural yang Terlupakan

Pengalaman ini terjadi beberapa tahun silam, ketika saya mendapatkan suatu project dalam kuliah saya dimana project tersebut keberadaannya haruslah berada pada wilayah kampus ui-depok yang masih alami. Selama pencarian site, banyak hal yang saya temui didalam hutan kota yang menjadi bagian dalam wilayah kampus ui ini. Hutan kota yang ada dihiasi oleh pepohonan tinggi, semak belukar, hingga situ (danau buatan) yang membelah.

Karena itulah, tak hanya hanya bagian dalam hutan yang kami sisiri tetap juga sepinggir situ-situ yang ada. Selama menyisiri situ, ada hal yang membuat saya merasa sangat terganggu, yakni bebauan yang berasal dari balik semak belukar disepanjang situ. Bebauan tersebut sungguh menusuk indera penciuman saya dan menggelitik indera penglihatan saya untuk mencari sumber bebauan tersebut. Ternyata bebauan tersebut berasal dari ikan sapu-sapu yang telah mati dan dengan jumlah yang tidak sedikit serta tersebar di sepanjang sisi situ.

Rasa penasaran saya tak berhenti sampai disitu, saya pun mencoba mencari tahu ‘apa’ penyebab kematian ikan sapu-sapu tersebut. Saya akhirnya menjumpai beberapa orang yang sedang beraktifitas di sekitar situ, ternyata aktifitas yang mereka lakukan yakni menjaring dan memancing ikan. Sasaran mereka antara lain ikan mujair/nila, namun apabilayang didapat ialah ikan sapu-sapu, secara ‘spontan’ mereka akan membuangnya ke daratan (tidak mengembalikan kedalam situ-red). Jadilah, disepanjang situ penuh akan ikan sapu-sapu yang mati yang mengeluarkan bau tak sedap dan menjadi sumber penyakit.

Saya kembali teringat memori akan kejadian yang telah lalu, dimana setiap saya membeli ikan hias selalu disertai membeli ikan sapu-sapu. Ikan sapu-sapu merupakan ikan yang sangat menguntungkan bagi para pecinta ikan hias dalam aquarium, karena ikan sapu akan memakan segala kotoran dan lumut yang menempel pada kaca aquarium. Aquarium pun akan terlihat menjadi lebih bersih setiap harinya, sehingga aquarium dan penghuninya menjadi elemen penghias yang indah dan hidup yang dapat mewarnai kehidupan didalam setiap hunian.

Sesungguhnya apabila para petani ikan (pemancing) dapat lebih mengerti akan potensi dari ikan sapu-sapu. Ikan sapu-sapu dapat menjadi ladang pendapatan untuk kehidupan para pemancing. Karena walau bagaimanapun dipasaran ikan hias, ikan sapu-sapu masih memiliki nilai ekonomi tersendiri. Dengan begitu ikan sapu-sapu tak hanya menjadi ‘bangkai’ yang menggangu lingkungan, tetapi juga menjadi pendapatan bagi pemancing dan bagian elemen arsitektural bagi para pecinta ikan hias dalam aquarium.

24
Dec
09

Arsitektur sebagai benda hidup

Arsitektur, tidak seperti bidang seni lain, hadir dalam  realitas sehari – hari. Arsitektur adalah ruang fisik untuk aktivitas manusia, yang memungkinkan pergerakan manusia dari satu ruang ke ruang lainnya, yang menciptakan tekanan antara ruang dalam bangunan dan ruang luar. Namun, bentuk arsitektur juga ada karena persepsi dan imajinasi manusia.

Karena eratnya hubungan antara manusia dan arsitektur inilah maka dalam menghadirkan arsitektur hendakanya kita sebagai arsitek harus benar – benar mengetahui  bagaimana  perilaku manusia yang akan berkenaan dengan karya arsitektur tersebut. Kata perilaku menunjukan manusia dalam aksinya, berkaitan denagan semua aktivitas manusia secara fisik; berupa interaksi manusia dengan sesamanya ataupun dengan lingkungan fisiknya. Di sisi lain, desain arsitektur akan menghasilkan suatu bentuk fisik yang bisa dilihat dan bisa dipegang. Karena itu, hasil desain arsitektur dapat menjadi salah satu fasilitator terjadinya perilaku, namun juga bisa menjadi penghalang terjadinya perilaku.

“ we shape our buildings and afterwards our buildings shape us. “ (Winston Churcill, 1943)

Dari keterkaitan yang menimbulkan interaksi bolak – balik inilah dapat dikatakan arsitektur itu bukan hanya sekedar objek ciptaan manusia berupa benda mati. Karena dalam ke-eksistensiannya, tidak dapat dipungkiri arsitektur akan hidup bersama – sama kita sebagai manusia yang akan selalu membutuhkan arsitektur.

Jika kita dapat hidup dengan rukun dan damai bersama arsitektur yang hidup dengan kita, tak jarang sebuah karya arsitektur pun akan hidup lama dalam ke-eksistensiaannya di muka bumi ini. Sebagai contoh adalah hasil – hasil peninggalan bersejarah yang hidup dalam beberapa perubahan zaman ( generasi ). Di Jakarta pun masih terdapat  peninggalan bersejarah yang  masih hidup sampai saat ini bersama – sama dengan warga Jakarta, yakni di kawasan kota tua. Disana dapat kita jumpai karya – karya arsitektur peninggalan orang – orang tedahulu yang masih bermanfaat bagi kehidupan kita saat ini. Kita ambil contoh Museum Fatahillah. Dahulu museum ini adalah pusat pemerintahan kota Batavia yang juga digunakan sebagai penjara bawah tanah untuk para tahanan pemerintah. Namun, hingga kini sebuah karya yang mengesankan ini juga masih dapat eksis bersama – sama kita di tengah – tengah kota Jakarta ini, walupun sudah berubah nilai fungsinya. Saat ini Museum Fatahillah dan juga bangunan – bangunan lain di Kawasan Kota Tua, selain sebagai objek peninggalan bersejarah tetapi juga sebagai pemenuh kebutuhan hidup manusia lainnya, seperti; rekreasi, pendidikan, bahkan hingga profesi pekerjaan ( entertainment, fotografi, dan lain lain ).

Tetapi dalam kehidupannya manusia pun tak jarang berbuat kerusakan yang pada akhirnya akan merusak karya – karya arsitektur yang ada. Kerana manusia dalam ekosistemnya relatif mempunyai peran yang sangat kecil. Banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam ekosistem tersebut justru berada di luar campur tangan manusia. Akan tetapi, manusia dapat menjadi sumber masalah karena manusia elalu menginginkan yang terbaik bagi dirinya sendiri ( sikap antroposentris ) dan dalam jangka panjang dapat merugikan sesama manusia dan atau lingkungan fisiknya.

24
Dec
09

Perlukah mengaplikasikan metode “everyday architecture” dalam mendesain . . . ? ?

Selama pembelajaran mengenai everyday architecture ini, saya mendapatkan sebuah pemikiran baru dalam menentukan rancangan dalam proses mendesain. Akhirnya saya mengetahui mengapa kita sebagai arsitek nantinya harus benar – benar mengetahui bahkan  memahami bagaimana everyday life yang terjadi pada suatu tempat yang dimana nantinya kita akan menghadirkan sebuah intervensi arsitektur di dalamnya.

Saya sadari bahwa dalam menciptakan sebuah desain arsitektur yang nantinya akan berinteraksi langsung dengan manusia sebagai penggunanya, kita perlu benar – benar mengetahui bagaimana perilaku manusia di dalamnya. Yang kemudian dari perilaku manusia itu akan kita ketahui kebutuhan – kebutuhan apa saja yang mereka butuhkan. Namun, disinilah timbul petanyaan untuk saya ketika sampai dalam tahap mengetahui kebutuhan dasar manusia. Saya membaca sebuah pendapat dari seorang psikolog, yakni Abraham Maslow. Pendapatnya menyatakan bahwa manusia memiliki tingkat kebutuhan dasar yang berbeda dan dapat berubah, yakni dapat meningkat.

Dari diagram Maslow ini dapat dikatakan apakah yang dinamakan everyday life yang notabenenya berdasar dari perilaku dan kebutuhan dasar manusia akan selamanya tetap sama dalam diri manusia? Lalu apakah sebuah karya everyday architecture itu dapat terus eksis dalam site-nya? Dengan simulasi seperti ini; suatu saat kita ingin melakukan intervensi arsitektur ke dalam sebuah site. Lalu saat itu kita awali metode merancang kita dengan menganalisis bagaimana everyday life terjadi dalam site tersebut. Hingga akhirnya sebuah karya everyday architecture dapat kita ciptakan dan hadir dalam komunitas tersebut. Namun, bagaimanakah dengan ke-esksistensiannya setelah beberapa tahun atau bahkan dekade mendatang? Manusia sebagai mahluk hidup akan terus berkembang, dan seperti yang dikatakan seorang Maslow tingkat kebutuhan dasar manusia akan berubah seiring perjalanan hidupnya. Lalu apakah everyday life di waktu lalu itu akan tetap berlaku untuk everyday life di waktu mendatang?

Tetapi jika kita melihat proses restorasi dari bangunan – bangunan cagar budaya, seluruh bentuk bahkan hingga elemen demi elemenya di restorasi kembali sesuai bentuk aslinya terdahulu sekalipun dengan materialnya diusahakan untuk disesuiakan dengan yang terdahulu. Dari sini kita melihat fenomena masa lalu yang masih eksis hingga kini. Lalu apakah sebenarnya dalam proses restorasi ini masih memperdulikan bagaimana everyday life yang terjadi . . . ? ? ?

24
Dec
09

Arsitektur, mengatasi masalah atau membuat masalah . . .

Dari awal kehidupan manusia hingga saat ini, semua karya arsitektur diciptakan dengan tujuan untuk mengatasi masalah – masalah yang ada pada kehidupan. Masalah – masalah itu hadir ketika manusia memilki suatu kebutuhan dalam hidupnya, dan manusia pastilah memiliki kebutuhan dalam hidupnya. Oleh sebab itu, ada yang disebut dengan kebutuhan dasar manusia.

Kehadiran sebuah rumah sebagai contohnya. Pada mulanya manusia membutuhkan rumah sebagai tempat untuk bernaung dari cuaca buruk, yang kemudian ada kebutuhan lain yaitu, untuk berlindung dari binatang buas. Itu sebabnya,  dahulu manusia menciptakan tempat tinggalnya dengan memanfaatkan kekayaan alam sekitar, yakni dengan bernaung dibawah pepohonan yang rindang dan gua – gua, serta ada pula yang betinggal di atas pohon. Saat ini, rumah bukanlah sekedar untuk pemenuhan kebutuhan berlindung saja, tetapi juga kebutuhan yang lainnya, seperti bekerja dan lainnya.

Namun,kehadiran arsitektur tidak lah hanya sebagai pemenuh kebutuhan bertinggal saja, melainkan jugapemenuh kebutuhan hidup manusia yang lain. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan dipenuhinya segala kebutuhan manusia ini, arsitektur akan selamanya menjadi solusi pda kebutuhan manusia. Pasalnya bencana yang saat ini sering terjadi bukanlah karena perilaku alam saja, tetapi juga karena arsitektur yang kemudian hidup bersama manusia.

Contohnya adalah jebolnya tanggul situ gintung yang terjadi di tahun 2009 ini. Awalnya tujuan pembentukan situ (danau) ini adalah sebagai waduk yang berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan dan untuk perairan ladang pertanian di sekitarnya, dibuat antara tahun 1932-1933 dengan luas awal 31 ha. Kapasitas penyimpanannya mencapai 2,1 juta meter kubik. Situ ini adalah bagian dari Daerah Aliran Ci Sadane yang merupakan salah satu sungai utama di Propinsi Banten dan Jawa Barat dengan sumber berasal dari Gunung Salak dan Gunung Pangrango di (Kabupaten Bogor, sebelah selatan Kabupaten Tangerang) yang mengalir ke Laut Jawa, dengan panjang sungai sekitar 80 km dan sebagai bendungan aliran Kali Pesanggrahan. Di tengah-tengah situ terdapat sebuah pulau kecil yang menyambung sampai ke tepi daratan seluas kurang lebih 1,5 ha yang bernama Pulau Situ Gintung beserta hutan tanaman yang berada sekitarnya.

Namun, semenjak tahun 1970-an kawasan pulau dan salah satu tepi Situ Gintung dimanfaatkan sebagai tempat wisata alam dan perairan dimana terdapat restoran,kolam renang,dan outbond. Hingga akhirnya jebol seperti saat ini, yang kemudian menjadi bencana bagi warga sekitar dengan merenggut puluhan nyawa manusia. Dari sini dapatkah kita katakan arsitektur itu akan selamanya menjadi sesuatu yang berguna bagi manusia karena mampu menjawab segala kebutuhan manusia. Ironis bukan, sebuah karya arsitektur yang mulanya dirancang dan diwujudkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup khalayak banyak, justru menjadi bomerang bagi diri sendiri yang akhirnya menimbulkan kerugian besar.

24
Dec
09

Architectural Space and Technology

Seiring dengan berkembangnya teknologi, arsitektur ikut berkembang. Seperti pada proyek Sky Ear (Usman Haque) pada 15 sept 2004 di Greenwich Park, London , architectural space menjadi sesuatu yang lain. Sky ear menggunakan instalasi berupa balon-balon yang diisi helium yang terdiri dari 6 ultra brigth LEDs. Instalasi ini mengubah gelombang elektromagnetik menjadi sinyal cahaya. Manusia bisa berinteraksi dengan yang lainnya dan dengan ruang yang terbentuk akibat susunan balon tersebut melalui mobile phone. Mobile phone pada masa sekarang ini pasti tak lepas dari genggaman pemiliknya. Tak lepas dari kehidupan sehari-harinya.

Teknologi informasi pun turut mempengaruhi ruang arsitektural.  Teknologi informasi berupa internet sudah hampir menjadi kebutuhan setiap orang. Website-website semakin beragam, game online semakin disukai. Seperti halnya website secondlife .  Pada website ini memperlihatkan bagaimana real life dan virtual life menjadi sesuatu yang blur.  Aktifitas yang dilakukan seperti halnya di dunia nyata. Settingnya pun hampir sama. Bahkan bangunan-bangunan yang ada di sana, juga dirancang oleh arsitek.  Scope Cleaver adalah salah satu arsitek di secondlife. Ia salah satu bangunan yang ia rancang adalah The Princeton University Gallery of the Arts yang menempati lahan seluas 7 sims (65,536 square meter Regions)di  Second Life. Material dan struktur yang digunakan sama halnya dengan di dunia nyata. Ruang dalamnya pun sudah terpikirkan dengan matang. Ia sudah mempertimbangkan bagaimana “natural light” akan masuk ke ruang tersebut. Tentunya “Natural light” di sini juga merupakan sesuatu yang virtual.  Rancangannya seperti suatu desain proposal dan dalam tahap akan dibangun di dunia nyata.

Hal ini memperlihatkan bagaimana ruang arsitektural juga bisa tercipta di dunia virtual. Teknologi yang semakin berkembang, akan mempengaruhi architectural space. Bahkan pemikiran arsitek pun akan semakin berkembang. Tidak hanya merancang di dunia nyata melainkan juga di dunia virtual, tentunya ia harus bisa memahami konteksnya terlebih dahulu. Apakah anda tertarik menjadi arsitek seperti ini?

www.arcspace .com

24
Dec
09

can you turn off your computer and be human for today?

Kalimat “turn off your computer and be human for today” saya lihat beberapa waktu yang lalu untuk menegur manusia yang seringkali melupakan kegiatan – kegiatan “manusiawi” karena terlalu terpaku pada komputer dan juga internet. Dengan adanya komputer dan internet, komunikasi dapat berjalan dengan lancar dan praktis tanpa harus menghabiskan waktu untuk menempuh jarak yang jauh, namun jika dipikir lagi apakah sebenarnya kehadiran seorang manusia secara pribadi dapat digantikan oleh sebuah foto atau gambar bergerak di video? Dengan berbincang – bincang lewat text (chatting, sms, email dll) tidak dapat melihat ekspresi lawan bicara, kita jadi cenderung lebih mengimajinasikan saja. dengan adanya jaringan internet, gaya komunikasi jaman sekarang semakin berubah. Yang katanya semakin dekat, apakah kenyataannya seperti itu? menurut pendapat saya malah semakin jauh karena dengan adanya internet, justru orang jadi tidak merasa perlu untuk repot – repot datang bertemu langsung dengan kerabatnya itu. bisa dikatakan komunikasi dengan internet itu sebenarnya tidak manusiawi, namun dengan gaya hidup yang lama – lama menjadi kebutuhan itu, sepertinya sulit ya untuk mematikan komputer dan internet untuk sehari dan menjadi “manusia”…..

24
Dec
09

Beda Tempat Beda Cara

Setiap tempat mempunyai cara sendiri untuk membuat tempat atau daerah mereka lebih baik. Seperti yang saya lihat sendiri ketika saya berada di kota Kediri ini. Jika di Jakarta masyarakat membatasi rumah mereka dengan pembatas pagar yang bermacam-macam jenisnya. Berbeda dengan di Kecamatan Pare ini, mereka membatasi rumah mereka dengan sebuah pagar pembatas yang sama jenisnya di setiap rumah.

Pagar pembatas mereka berupa gapura kecil yang terbuat dari beton dan ada keterangan-keterangan di dindingnya.

Keterangannya bukan berupa alamat detail rumah mereka sendiri, melainkan slogan slogan yang sengaja dimasukan oleh pemerintah setempat kedalamnya. Seperti gambar diatas merupakan gambar tangan yang mengisyaratkan bahwa warga cukup memiliki dua anak saja. Keterangan-keterangan di dinding juga bukan mengisyaratkan nomer rumah mereka, tapi hanya keterangan berupa Kecamatan dan Desa dimana mereka tinggal  beserta lambang daerahnya yakni Kecamatan Pare Desa Tulungrejo

Asumsi saya mengapa pemerintah setempat berbuat seperti itu, karena mereka menginginkan agar program-program pemerintah selalu lekat di hati masyarakatnya. Mulai dari program dua anak saja sampai tulisan tulisan seperti Pancasila, UUD 45 yang akan menumbuhkan rasa nasionalisme warga. Selain itu keberadaan Desa Tulungrejo sendiri dimana  hampir semua warganya mempunyai gapura seperti itu menjadikan keberadaan mereka lebih nyata.

24
Dec
09

perancang belajar+bekerja bersama komunitas

Dalam mewujudkan sebuah karya berarsitektur yang merupakan ungkapan nyata dari kebersamaan penduduk atau komunitas dibutuhkan pendekatan dari ‘dalam’. Pendekatan dari dalam atau yang dapat disebut pendekatan inklusif ini bertujuan untuk membentuk ikatan emosional antara penduduk secara personal dengan produk yang akan dihasilkan. Pengguna harus dapat memainkan peranannya secara aktif dalam proses yang kreatif. Metode yang digunakan adalah bersifat parsitipatif. Metode tersebut berdasarkan pada elemen-elemen yang bersifat kognitif ataupun fungsional akan apa yang dibutuhkan. Hal ini menarik warga langsung untuk menentukan sendiri di tempat mana mereka sering berkumpul pada hari biasa dengan cara kreatif yang diusung yaitu dengan memberi tusukan warna-warni sesuai dengan waktu dan tempatnya. Walaupun sederhana, tetapi ini adalah cara ketika penduduk sendiri diberi kesempatan untuk mengidentifikasikan sesuatu dari sudut pandang mereka sendiri. Moment ini akan menyoroti point-point yang dapat menjadi kritik atas apa yang mereka butuhkan sesuai dengan konteks nilai dan kebutuhan dasar penduduk tersebut. Ini adalah kesempatan yang baik bagi perancang untuk masuk ke ‘dalam’ dan melihat segala sesuatunya dengan mata yang segar, sampai kita menjadi bagian dari komunitas.

Keterbukaan pemikiran dan komunikasi merupakan dasar pendekatan yang penting. Membangun kepercayaan serta komunikasi yang efektif akan menjadi dasar pijakan keberhasilan kerja sama ini. Mungkin akan banyak tersingkap hal-hal yang justru tidak didapat pada saat hanya berwawancara dengan mereka.

Peran arsitek mungkin tidaklah terlalu besar, bahkan relatif kecil dibandingkan dengan ilmu yang dimilikinya selama bertahun-tahun ‘belajar’, tetapi justru peran tersebut dapat nyata dirasakan penggunanya ketika arsitek mampu membantu komunitas untuk menemukan kembali, mengingat dan mengembangkan apa yang sudah ada.

Berpartisipasi bahkan dapat dilakukan sampai pada tahap akhir, yaitu membangun bersama-sama apa yang sejak awal telah lahir melalui proses konsensus oleh kolaborasi penduduk dan arsitek. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, terutama tenaga, pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki, dapat memberikan peluang yang besar bagi mereka untuk menyalurkan aspirasi yang muncul on the spot. Sehingga, tak jarang terdapat toleransi atas perbedaan pemahaman antara perancang dengan warga. Namun, dari hal ini justru kita dapat melihat partisipasi dan kebersamaan tersebut mampu memberi wadah untuk aspirasi, karena dari proses inilah terbukti keterikatan mereka secara emosional dengan produk yang nantinya akan mereka gunakan secara kolektif.

The architecture of the everyday is built (Architecture of the Everyday, Steven Harris and Deborah Berke (Eds), 224)
Pada akhirnya keseharian arsitektur itupun dibangun. Baik melalui karya yang berwujud bangunan ataupun instalasi, pada dasarnya memiliki spirit yang sama, yaitu memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas. Karena pada awalnya kebersamaan menjadi prasyarat munculnya partisipasi. Berarsitektur merupakan proses berkarya yang mampu mengartikulasi kebutuhan, nilai, dan keseharian komunitas sebagai point yang digaris bawahi.

Harris, Steven; Berke, Deborah, Architecture of the Everyday
Miles, Malcolm, The Uses of Decoration: Essays in the Architectural Everyday, 2000

24
Dec
09

Gempa Dan Konstruksi Bangunan

Bencana gempa sebenarnya merupakan bencana yang sudah akrab bagi sebagian besar masyarakat yang hidup di Negeri Kepulauan Nusantara ini sejak jaman nenek moyang kita dahulu. Dengan menganalisa dan menghitung secara kasar kondisi Indonesia saat ini atas beberapa variabel yang berpengaruh terhadap besaran rasio resiko bencana, maka dapat disimpulkan sebagian besar wilayah Indonesia memiliki tingkat rasio resiko bencana dalam kategori sangat tinggi.

Petaka gempa yang datang beruntun mengakibatkan robohnya bangunan- bangunan publik, fasilitas umum dan rumah-rumah penduduk serta sejumlah besar korban jiwa. Rangkaian bencana gempa belakangan ini seharusnya membawa pelajaran penting. Pemerintah harus lebih ketat mengawasi kualitas konstruksi dan daya tahan bangunan serta rumah terhadap gempa. Tanpa pengawasan ketat, kita akan selalu berhadapan dengan besarnya korban jiwa akibat gempa. Korban jiwa akibat gempa yang terjadi di Padang Sumatra Barat, umumnya akibat bangunan yang ambruk, mereka tertimpa, bahkan tertimbun bangunan yang memang tak dirancang tahan gempa. Hal serupa juga terjadi pada peristiwa gempa di Jawa Barat sebulan yang lalu dan di Jogjakarta pada tahun 2006.

Pentingnya kualitas bangunan sebetulnya sudah tertuang dalam undang-undang dan aturan pendukungnya. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, misalnya, secara jelas mensyaratkan bahwa bangunan gedung di daerah rawan bencana harus dibuat dengan konstruksi khusus. Untuk persyaratan keselamatan, undang-undang ini antara lain menyebutkan bahwa konstruksi bangunan tidak hanya harus tahan gempa, tetapi juga harus mampu melindungi penghuni dan lingkungan sekitarnya seandainya bangunan itu runtuh. Jadi dengan demikian artinya, gedung yang dibangun harus kokoh menahan guncangan dan harus mampu meminimalkan jumlah korban seandainya bangunan tersebut runtuh. Namun, adanya undang-undang dan peraturan terkadang tidak menjadi jaminan bahwa semua ketentuan itu akan ditaati. Semuanya terpulang kembali pada kesadaran masyarakat, dan pemerintah mestinya terpicu untuk memperketat pengawasan kualitas konstruksi gedung dan rumah secara periodik dan konsisten.

Hakekat Mitigasi Bencana: Menekan Hingga Seminimal Mungkin
Ditinjau dari aspek jenis bahaya (geologi, hidrometeorologi, biologi, teknologi dan lingkungan), berdasarkan catatan kejadian dan teknologi peramalan bencana maka dapat disimpulkan bahwa secara geografis maupun geologis, Indonesia, khususnya wilayah Pulau Jawa dan Sumatera sangat labil atau rentan pada bahaya geologi atau gempa. Karena itu rasio resiko bencana sebenarnya dapat diminimalkan apabila Pemerintah dan Kesadaran masyarakat bahwa Gempa Bumi adalah merupakan bagian dari kehidupan kita harus dibangkitkan. Terdapat beberapa aspek terkait dengan resiko bencana ini yaitu: Aspek Kerentanan, yaitu suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bahaya. Kerentanan meliputi kerentanan fisik, sosial dan ekonomi. Dalam kasus bencana gempa di Yogyakarta, komunitas setempat pada lokasi bencana memiliki semua jenis kerentanan ini. Kerentanan fisik, terlihat dari kondisi struktur dari bangunan umum dan perumahan penduduk yang secara teknis memang tidak memenuhi standar konstruksi. Kerentanan sosial, salah satu aspeknya adalah tingkat kepadatan penduduk serta usia penduduknya yang rata-rata sudah lansia atau manula sehingga tidak cukup sigap untuk melarikan diri mencari tempat yang aman pada saat bencana terjadi. Sedangkan kerentanan ekonomi, yang berupa kemiskinan merupakan fakta yang telah dimiliki oleh sebagian besar komunitas tersebut sejak sebelum terjadinya bencana gempa. Karena aspek kerentanan ini merupakan aspek yang Human made maka sebenarnya banyak upaya yang bisa dilakukan oleh kita bersama Upaya tersebut dapat berupa pengembangan percontohan arsitektur bentuk / model bangunan yang memenuhi persyaratan-persyaratan ketahanan terhadap gempa bumi dan memperhatikan aspek sosial ekonomi masyarakat.

24
Dec
09

Order in Disorder

Robert Venturi, “a valid order accomodates the circumstantial contradictions of a complex reality….When circumstances defy order, order should bend or break: anomalies and uncertainties give validity to architecture.” Complexity and Contradiction in Architecture, pp 46-47.)

Pedagang kaki lima seringkali dianggap suatu disorder, sebuah nuisance diantara bangunan atau jalan yang tertata rapi . Tapi mengapa mereka tetap ada? Ternyata kehadiran mereka dibutuhkan . antara lain oleh orang kantor untuk makan siang dan bagi orang-orang hal tersebut tidak menganggu malah dibutuhkan .Hanya saja setelah dilihat lebih dalam mereka memiliki jam-jam tersendiri dalam beroperasi , misalnya ada yang buka saat jam 6 malam dan mereka berjualan pada tempat- tempat yang sama. Ada pola-pola yang tetap dibaliknya. Di balik sebuah sesuatu yang telihat berantakan , ternyata tercipta sebuah pola yang teratur. Apa yang sebenarnya disebut disorder? Apakah sesuatu yang terlihat berantakan dan tidak teratur? Atau order adalah sesuatu yang tertata rapi? Pada saat survey ke site, kita mengamati dan melihat keadaan yang terlihat complicated dan semerawut, tetapi ternyata ditemukan suatu pola yang teratur seperti adanya jadwal kegiatan , tempat-tempat berkumpul . Jadi sebenarnya mereka menciptakan sebuah keteraturan dalam lingkungan mereka yang kadang bagi orang luar telihat tidak teratur. untuk membereskan sesuatu,kita tidak sekedar menumpuk barang-barang lalu dibuat seteratur mungkin tetapi lebih mengembalikan sesuatu ketempatnya. Tanpa sadar saat membuat sesuatu menjadi order, kita mencari disorder yang terlihat di permukaannya saja tanpa memperhatikan lebih dalam mengapa ada disorder tersebut. Kadang-kadang karena ingin buru-buru membereskan disorder , seperti pada penggusuran pedagang kaki lima yang memunculkan disorder-disorder lainnya. Untuk itulah kita harus mengetahui bagaimana disorder itu muncul dan memperhatikan bagaimana ia bekerja sehinnga dapat memunculkan suatu order yang baru.

22
Dec
09

isu everyday di daerah pesisir

Ketika kami mengunjungi Pulau Kelapa Dua di Kepulauan Seribu, kami singgah terlebih dahulu di Pulau Kelapa. Dari Pulau Kelapa kami memutuskan untuk naik ojek kapal ke Pulau Kelapa Dua. Untuk memperoleh ojek, kami harus berjalan terlebih dahulu melewati pemukiman penduduk. Saat saya melewati pemukiman penduduk, saya tidak merasa bahwa saya sedang berada di daerah pesisir namun terasa seperti berada di gang rumah saya. Jalan kecil sekitar 2 meter dengan diapit oleh rumah-rumah penduduk yang umumnya terbuat dari bata. Saya tidak dapat melihat laut maupun dermaga dari jalan yang saya lewati.

Ketika didiskusikan mengenai hal ini ternyata sang arsitek yang mendesign pemukiman di Pulau Kelapa, mendesignnya secara kota bukan secara pesisir. Umumnya layout pemukiman di pesisir mengitari sisi luar pulau dikarenakan mata pencaharian pada umumnya adalah nelayan. Sedangkan design di Pulau Kelapa adalah linear yakni jalan yang diapit oleh rumah-rumah penduduk.

Sangat disayangkan sekali bahwa salah satu pulau yang merupakan kekayaan bangsa menjadi kehilangan cirinya dikarenakan sang perancang yang kurang memahami konteks atau tapak yang diolahnya.

boris

22
Dec
09

supir taksi di singapura

Saat saya berada di Singapura, saya menaiki sebuah taksi. Di dalam perjalanan, saya mencoba berbincang-bincang dengan sang supir taksi. Di dalam perbincangan tersebut, ia menceritakan bahwa bertahun-tahun yang lalu ia adalah seorang petani. Dahulu Singapura sangat jauh berbeda dengan kondisi yang sekarang. Masih banyak sawah, ladang maupun hutan di kota ini. Namun perkembangan yang pesat menuju modernisasi menyebabkan sawah dan hutan tersebut diubah menjadi bangunan-bangunan komersial. Ia mengatakan bahwa kehidupannya bersama dengan keluarganya berubah dengan adanya modernisasi tersebut.

Dahulu ia dapat tinggal dengan harmonis dengan tetangga-tetangganya, saling bertegur sapa dan membantu jika ada kesulitan. Namun sekarang antar tetangga saja tidak saling mengenal atau sangat individualis. Ia bahkan menasehati saya untuk belajar rajin agar bisa menghasilkan uang yang banyak karena ”money is friend”.

Wah, ternyata perubahan suatu kota diakibatkan modernisasi dapat mengubah warganya yang bersifat kekeluargaan dan tenggang rasa menjadi lebih bersifat individualis. Nampaknya beberapa kota di Indonesia seperti di Jakarta juga sudah mengalami hal yang serupa. Bangunan-bangunan komersil untuk bisnis menjamuri kota sehingga warganya menjadi berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan pribadi atau mengejar laba sebesar-besarnya. Mungkinkah jika hal ini terus berlanjut maka akan sulit ditemukan seseorang yang peduli pada sesamanya?

22
Dec
09

Melemahnya Harmoni

Harmoni atau keselarasan adalah tujuan penting yang ingin dicapai oleh arsitektur. Komposisi berbagai unsur keruangan ditata menjadi harmoni melalui pendekatan ilmu arsitektur. Harmoni dalam karya arsitektur tercipta ketika seluruh unsur dalam bangunan termasuk konsep arsitektur, tata tanaman, interior, bahan, dan kebutuhan maupun mimpi pemilik rumah menyatu dalam realita ruang. Kepada tingkat yang lebih tinggi lagi, rumah-rumah yang saling berdampingan berikut berbagai fasilitas pendukungnya akan disebut harmonis dan selaras jika memiliki corak dan langgam arsitektur yang sama atau senada. Namun saat ini, seringkali kita tidak menemukan rasa harmonis yang demikian pada tata bangunan di berbagai kota di Indonesia. Banyak rumah-rumah yang saling berdampingan pada suatu kawasan tidak memiliki kesamaan corak arsitektur bahkan saling bertolak belakang satu sama lain.

Melemahnya kultur
Kebudayaan adalah penyatu utama berbagai hal yang melingkupi kehidupan manusia seperti rutinitasnya sehari-hari, adat kebiasaan, agama serta bentuk bangunan. Interpretasi arsitektural atas suatu kebudayaan tentu tidak memiliki perbedaan< yang besar jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya, sehingga bisa disebut memiliki corak yang sama. Sebagai contoh, pada kebudayaan Jawa Tengah, kita menemukan bentuk atap kampung, limas dan joglo. Bentuk-bentuk atap ini menjadi ‘nada’ yang mengharmoniskan rumah-rumah dalam sebuah permukiman.

Kemajuan teknologi telah mengantarkan keterhubungan antar seluruh bagian dunia dalam proses globalisasi. Proses ini telah memicu penggabungan berbagai kebudayaan menjadi satu kebudayaan global, sekaligus kebudayaan-kebudayaan lokal terabaikan. Dampaknya dalam pembangunan perumahan adalah munculnya gaya-gaya arsitektur baru dengan beragamnya pilihan bentuk yang dapat diadaptasi. Hal ini menyebabkan berubahnya nilai orientasi bentuk bangunan kepada trend baru di luar kebudayaan yang sudah diacu secara turun temurun. Melemahnya kultur oleh globalisasi akan menumbuhkan banyak varian bentuk bangunan sehingga mengaburkan arti harmoni arsitektural pada suatu kawasan.

18
Dec
09

Buruk di Mata, Nyaman di Jiwa?

Belakangan, penulis yang mengikuti tugas perancangan ruang dalam, mendapatkan tugas untuk mendesain artwork untuk sebuah perpustakaan atau bandara. Dalam proyek ini, penulis memilih untuk mendesain artwork untuk perpustakaan dan pilihan penulis jatuh pada perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Engineering Center.

Dalam prosesnya, penulis menemukan hal menarik pada lantai 4 gedung Engineering Center yang utamanya dimanfaatkan sebagai ruang baca dan ruang belajar bersama bagi para pengunjung perpustakaan. Pada lantai ini, penulis menemukan sebuah area yang mengundang para pengunjung untuk duduk-duduk santai, lesehan, bahkan hingga tidur-tiduran di area ini. Hanya sebuah void dengan karpet berukuran kurang lebih sekitar 3 meter kali 4,8 meter.

Hal ini menjadi menarik karena sekilas melihat, penulis yakin akan ada banyak pengunjung yang setuju bahwa area lesehan ini sangatlah berantakan dan tidak sedap dipandang mata untuk berada di perpustakan di Universitas Indonesia yang seharusnya memiliki kesan berkelas. Sandal-sandal berserakan, para pengunjung yang berbaring dengan kaus kaki menengadah ke arah atas, serta kertas-kertas kuliah yang bertebaran di mana-mana. Sebuah pemandangan yang tentunya sangat mengganggu bila kita melihat dari kacamata para ‘elite’; arsitek perancang, kepala perpustakaan, dekan FTUI, bahkan mungkin rektor UI.

Hal ini menurut penulis sangatlah sering terjadi pada kehidupan kita sehari-hari secara umum dan arsitektur secara khusus. Kita sering menilai sekilas dari first impression. Padahal, apabila kita tanya para pengunjung yang sering duduk-duduk atau tidur-tidur di area lesehan tersebut, mungkin mayoritas dari mereka akan merasa sangat nyaman ketika berkegiatan di sana, baik itu membaca literatur ataupun mengerjakan tugas-tugas. Karpet yang empuk, udara pendingin ruang yang sejuk, ditambah dengan stop kontak untuk kabel laptop, tentu merupakan hal yang sangat nyaman untuk beraktifitas di sana. Penulis pun akan menjadi salah satu yang setuju bahwa area tersebut sangat nyaman untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah ataupun membaca literatur-literatur, karena penulis telah secara langsung mencoba beraktifitas di sana.

Sungguh perasaan yang nyaman yang amat bertolak belakang dari impresi pertama yang penulis rasakan. Buruk di mata, nyaman di jiwa. Mungkin itulah ungkapan yang dapat penulis lontarkan menanggapi contoh kasus di atas. Menurut para pembaca?

Continue reading ‘Buruk di Mata, Nyaman di Jiwa?’

14
Dec
09

Everyday sebagai Basis Perancangan

Arsitektur adalah ilmu yang terbentuk karena adanya keinginan manusia untuk memasukan keindahan dalam setiap detail hidupnya, bukan hanya dilihat melainkan dialami dan dirasakan secara lengsung menjadi pengalaman ruang. Seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu arsitektur pun terus berkembang tidak hanya terbatas ruang melainkan sudah berkembang menjadi ilmu yang juga mempelajari tentang manusia dan iteraksinya di dalam komunitas. Arsitektur dulu dianggap sebagai ilmu yang sangat dekat hubunganya dengan keidupan masyarakat karena dalam perkembanganya, arsitektur sangat dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Hasil dari proses berarsitektur juga akan secara langsung digunakan oleh masyarakat. Akan tetapi, pandangan masyarakat mengenai arsitektur saat ini sudah bergeser sangat jauh. Arsitektur saat ini dianggap sebagai ilmu yang identik dengan modernitas, bisnis, kemewahan, dan teknologi yang sangat jauh dengan everyday masyarakat. Hal ini disebabkan karena banyak sekali arsitek yang merancang sesuatu dengan menggunakan fakta dan data sebagai basis perancangan, bukan eveyday masyarakat. Padahal, apa yang terlihat sabagai everyday masyarakat saat ini sebenarnya bukanlah everyday dari masyarakat itu sendiri melinkan modernity yang dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama sehingga banyak orang yang menganggap itu sebagai everyday masyarakat. “The everyday is covered by a surface: that of modernity.” (Lefebvre, 1997: 37)

Masyarakat Indonesia adalah tipe masyarakat yang terbuka terhadap hal-hal baru. Apalagi jika hal baru itu berasal dari negara maju yang selama ini sering dijadikan sebagai ‘kiblat’ masyarakat dalam memaknai sebuah kehidupan yang moderen yang menyenangkan dengan berbagai kemudahan dan kemewahan yang ditawarkanya. Semakinnbanyaknya modernity yang menutiupi everyday, mengakibatkan everyday yang sebenarnya dari masyarakat menjadi lebih sulit untuk ditemukan. Padahal ini berpengaruh sangat buruk terhadap masyarakat itu sendiri karena jika hal ini terus berlanjut masyarakat akan kehilangan jadi dirinya dan akan muncul masyarakat yang homogen dan tidak terdapat perbedaan masyarakat satu dengan masyarakat lainya. Contohnya ketika mall sedang marak di kota jkota besar di Indonesia, kota-kota kecil juga berlomba-lomba untuk mendirikan bangunan dengan fungsi serupa sehingga perbedaan antara kota besa dan kota kecil semakin tipis dan dapat dilihat adanya sebuah proses peng-homogen-an dari kotakota itu sebagai akibat modernity agar tidak dianggap sebagai kota yang kuno dan tidak mengikuti trend.

Karena semakin sulitnya mencari everyday yang sebenarnya darri masyarakat, arsitek lebih memilih mendesain berdasarkan apa yang dilihatnya dalam masyarakat dan memperkirakan apa yang akan berkembang dalam masyarakat dalam beberapa tahun kedepan. Hal ini semakin mempersulit pencarian everyday yang sebenarnya dalam masyarakat. Jika hal ini terus berlanjut, lama kelamaan arsitektur akan kehilangan verydaynya sebagai ilmu yang erat dengan kehidupan masyarakat yang sebenarnya menjad ilmu yang hanya dapat dinikmati oleh masyarakat yang berasal dari golongan atas yang dapat mengikuti perkembangan mnodernitas. Oleh karena itu, basis dalam proses perancangan arsitektur perlu dirubah mulai sekarang dari perancangan berbasis fakta dan data menjadi perancangan berbasis problem dan everyday agar arsitektur tetap dapat dinikmati oleh masyarakat yang berasal dari semua kalangan dan menjadi ilmu yang inklusif, bukan eksklusif.