27
Sep
09

Berwacana tentang arsitektur + keseharian

Blog ini merupakan wadah gagasan tentang arsitektur dalam konteks keseharian dari kelas “Keseharian & Arsitektur” semester gasal 2008/2009 dan 2009/2010 di Departemen Arsitektur Universitas Indonesia.

Berbagai gagasan tentang everyday + architecture dalam blog ini terdiri dari:

1. Refleksi terhadap sebuah wacana, teori ataupun pandangan yang berkaitan dengan keseharian dan arsitektur.

2. Rekaman kasus yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, serta pembahasan tentang kasus tersebut dalam kaitannya dengan wacana arsitektur dan keseharian.

3. Rekaman eksplorasi yang dilakukan – observing, re-reading, re-interpreting – dalam upaya memahami wacana arsitektur dan keseharian.

04
Nov
09

Aku dan Mereka

Menjalani tugas Everyday and Architecture membawa saya melihat keadaan lain di luar kehidupan sehari-hari.

Melihat bagaimana keadaan yang sangat berbeda tentunya memunculkan sebuah pengertian pribadi akan tempat yang baru di-encounter tersebut. Akan muncul pemikiran-pemikiran seperti, ‘kenapa itu begitu?’, ’seharusnya ini begini’, ‘itu salah’, ‘itu boleh juga’, dan sebagainya. Saya langsung membandingkan situasi yang mereka alami dengan situasi yang saya alami dan “menghakimi” keadaan mereka.

Akan tetapi, setelah kemudian terlibat dalam diskusi dan mengikuti kuliah lebih lanjut, muncul pertanyaan:

Siapa saya sehingga bisa menjadi orang yang menghakimi keadaan tersebut?
Pengetahuan apa yang saya miliki sehingga saya pantas disebut ‘yang tahu’?
Pengalaman apa yang saya miliki sehingga saya layak disebut ‘yang mengerti’?

Aku dan mereka layaknya apel fuji dan apel manalagi (atau jenis apel apa saja). Meskipun sama-sama apel, tetap saja ada perbedaan yang tak pantas dibandingkan begitu saja hanya berdasarkan melihat kedua apel tersebut sekilas. Ada faktor genetis yang membuat apel fuji apel fuji, dan apel manalagi apel manalagi, layaknya situasi-situasi yang mengikat mereka yang tak dapat dibandingkan begitu saja dengan apa yang saya alami.

04
Nov
09

human bubble at design

Sebenarnya pemanfaatan space secara vertical ataupun horizontal sudah ada sejak zaman dulu dan sangat mendasar, seperti contoh penggunaan space kontur untuk duduk (pemanfaatan kontur oleh tubuh) hal ini kemudian di kembangankan ke dalam arsitektur yang menyatakan bahwa ‘tubuh (bubble of human) dapat memberikan bentuk (form)’ dan bubble tidak hanya berpengaruh pada space horizon namun dapat pula dengan space yang vertical dengan perbedaan level (upper, middle, dan lower berkaitan fenomenologi shape).

Seiring berkembangnya arsitektur dan art, bubble juga sangat dibutuhkan dalam mendesain, seperti contoh hal ini dikembangkan dari tahun 1922 oleh gerrid rietvelt yang menyatukan antara teori De Stijl (penggunaan warna primer seperti merah, kuning dan biru yang berbentuk kotak dengan layout garis hitam untuk memisahkan warna primer tersebut dalam bentuk dua dimensi) dengan pemaanfaatan human bubble (dikonsentrasikan kepada akses), kemudian oleh gerrid rietvielt diaplikasikan dua dimensi menjadi tiga dimensi dalam karyanya schroder house yang dipadukan dengan human bubble yang memberikan effek fleksibel (berdasarkan kebutuhan dan pemanfaatan ruang baik vertical ataupun horizontal). Sebenarnya dalam applikasi kehidupan secara simple seperti penggunaan bukaan vertical (pintu atau jendela).

Jika aplikasi dalam pintu (aplikasi bukaan secara vertical sederhana walaupun pintu sendiri dapat diartikan suatu penghubung yang jika dibuka terdapat akses jika ditutup mematikan akses maka terciptalah fleksibelity juka pintu dapat dibuka atau ditutup, serta dapat memberikan pengertian tidak hanya vertical namun horizontal pun dapat memungkinkan) berawal dari perpindahan human bubble menjadi akses dimana akses sendiri merupakan perpindahan kondisi awal ke kondisi akhir hal ini yang dapat memberikan effek flexibility dengan inside dan outside. Dengan kata lain human body dapat memberikan desain yang sangat kaya dan beragam.

04
Nov
09

Tukang Gorengan juga Cinta Lingkungan…

Hampir setiap hari saya melihat pedagang gorengan yang berjualan,

di depan pintu kutek (teknik ui) atau tepatnya di depan kosan Pokus…

Hampir seluruh mahasiswa yang ngekos di wilayah kutek tahu akan keberadaan

pedagang gorengan yang sering disebut dengan gorengan pokus ini…

Mungkin dalam keseharian, kita kurang  melihat sisi lain dari apa yang dilakukan pedagang gorengan ini…

Sebagai konsumen, biasanya kita hanya datang, memilih gorengan, membayar, mengambil gorengan,

dan setelah itu pergi meninggalkan pedagang gorengan tersebut…

Apabila kita kembali melihat apa yang di lakukan si pedagang ketika melayani kita saat membeli.

Kita pasti melihat, setelah kita memilih gorengan maka sang pedagang akan langsung

memasukkan gorengan yang kita pilih ke dalam kantung kertas.

Kantung kertas tersebut terbuat dari kertas yang sudah tidak terpakai lagi, lalu di lem

sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kantung yang terbuat dari kertas.

Ingatkah? ketika isu Global Warming merebak? penggunaan plastik sebagai kantung,

diduga menjadi suatu hal yang mendukung semakin menjadinya Global Warming tersebut.

Dan penggunaan kantung kertas pun menjadi salah satu solusinya, selain dapat mendaur

ulang kertas bekas yang beredar pada masyarakat, bahan kertas pun dinilai lebih aman

untuk kesehatan tubuh manusia, dan penggunaan kantung plastik pun dapat ditekan.

Nah, tanpa disadari dalam keseharian kita, pedagang gorengan pokus tanpa mereka

sadari sudah turut berpartisipasi dalam gerakan mencintai lingkungan.

Dengan menggunakan kantung kertas daur ulang sebagai wadah gorengan para pembeli.

Namun, sangat disayangkan, mungkin karena sesungguhnya pedagang gorengan ini

belum sadar bahwa mereka telah melakukan hal yang baik dan tepat bagi lingkungan.

Setelah mereka membungkus gorengan dengan kantung kertas, kantung kertas berisi gorengan tersebut

dibungkus ‘LAGI’ dengan kantung plastik. Haha… sungguh sangat disayangkan yaaa….

04
Nov
09

Everyday in “Kampung” Pulo kambing Rw 2 Jatinegara Cakung Jakarta Timur

Kampung Pulo kambing adalah sebuah kampung ditepian Perindustrian Pulo Gadung Jaktim yang kebanyakkan penduduk lokal dan pendatangnya bekerja sebagai pengrajin furniture rumah tangga. Sebagian sisanya berkerja pada PT-PT di kawasan perindustrian Pulo gadung tersebut, buruh, pedagang dan sebagainya.  Nama  Kampung “Pulo kambing” itu sendiri kemungkinan dikenal akibat waktu dahulu banyak kambing di wilayah ini. Ada beberapa warga yang memelihara kambing bahkan sapi di sekitar rumahnya. Namun hal tersebut semakin hilang ketika saya masuk SMP yaitu sekitar tahun 2001

Kehidupan setiap harinya dijalankan oleh bapak-bapak yang  bekerja sebagai pengrajin furniture seperti tukang kayu dan tukang plitur. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai buruh angkut lemari yang bertugas untuk menyusun lemeri-lemari ke mobil angkut dengan posisi yang ideal sehingga bisa muat banyak. Pekerjaan ini disana disebut tukang Kretek.  Selain itu ada yang bekerja mencabuti paku dari kayu-kayu bekas, memotong kayu, dan triplek. Selain itu, juga ada yang bekerja sebagai karyawan pabrik, pedagang makanan (mayoritas siomay), tukang odong-odong, tukang ojek dan sebagainya. Mereka bekerja hari senin- jumat, akan tetapi ketika akhir pekan  adapula  beberapa orang yang bekerja mengharapkan uang lembur tambahan.Pada saat jam istirahat, para pekerja makan siang di warung-warung sehingga warung menjadi sangat ramai. Bapak-bapak bertemu dan saling mengobrol sambil merokok dengan bapak-bapak lainnya hingga kira-kira jam 2 siang. Terkadang ada warung yang sengaja mengantarkan makanan ke tempat kerja bapak-bapak tersebut, sehingga mereka makan lesehan di tempat kerjanya. Warung dan tempat kerjanya menjadi ruang komunal yang settle bagi bapak, pengrajin furniture saat istirahat.

Ibu-ibu yang rata-ratabekerja sebagai  ibu rumah tangga, mengurusi anak dan suami. Keunikkan dari ibu-ibu disana adalah mereka memasak 1 kali untuk 1 hari penuh. Mereka mulai memasak pagi-pagi, bahkan ada yang pagi-pagi sekali. Jadi ketika ada ibu yang berbelanja ditukang sayur pukul 8 pagi, maka sudah dipastikan hampir semua sayur-sayuran, ikan, tempe tahu, cabai dan sebagainya sudah hampir habis. Setelah memasak ibu-ibu biasanya berkumpul dengan ibu-ibu lainnya di pos atau di teras rumah yang cukup luas, di bawah pohon  dengan mengambil tempat duduk-duduk yang portable seperti dingklik dan menghabiskan waktu untukk mengobrol, menyuapi anak, menonton televisi dan sebagainya. Ibu-ibu kan bergantian pulang ketika waktu shalat telah tiba atau ada pekerjaan lainnya misalnya menyetrika. Untuk ibu-ibu yang tinggal dikontrakkan, biasanya setelah mereka selesai memasak, mereka akan duduk-duduk didepan pintu mengobrol dengan tetangga kontrakkan lainnya yang juga duduk didepan pintu. Sehingga pada gang kecil kontrakkan, muncul ruang komunal dari kegiatan ibu-ibu tersebut. Selain itu, pos, teras , dan dibawah pohon juga merupakan ruang komunal bagi ibu-ibu. Selain itu pada hari senin  dan kamis, ibu-ibu  pergi kepengajian yang berada di Mushalla As Sholihin untuk mengikuti pengajian dan arisan pengajian.

Dapur ibu-ibu yang mempunyai rumah seperti dapur biasa yaitu di belakang rumah. Terkadang ibu-ibu yang lain ketika datang langsung ke dapur dan mengobrol disana. Namun untuk ibu –ibu yang tinggal di kontrakkan , dapur mereka berada didepan pintu rumah mereka. Mereka memasak di gang kontrakkan mereka. Dapur bertemu dengan dapur lainnya membuat suasana semakin panas namun akrab. Namun hanya sedikit kesenjangan social antara ibu-ibu kontrakan dan ibu-ibu rumah. Jenis kontrakkan disana kebanyakkan kontrakkan 1 kamar, jarang sekali 2 kamar.

Anak –anak pada saat setiap harinya pergi kesekolah yang biasanya tidak jauh dari rumah mereka seperti SD 10, 03 dan 05 pagi. Setelah pulang sekolah mereka bermain disekitar rumah. Namun pada saat weekend, anak-anak sering keliatan di sekitar pos. Mungkin dikarenakan di sekitar pos ramai sehingga mengundang perhatian mereka.ibu. Anak-anak bermain di banyak titik seperti  dekat pos, di jalan, di gang, dilapangan , didepan mushalla, bawah pohon, dan sebagainya . Mereka bisa bermain apa saja; petak umpet, bentengan, minta jongkok, galaksin, gambaran , bahkan terkadang main karet bagi anak perempuan.

Pada weekend, suasana ruang komunal saat weekdaysnya semakin ramai kala siang hari. Pada saat pagi hari, para warga kebanyakkan berjalan-jalan ke ara pasar kaget disebut Gudang untuk mencari hiburan dan berbelanja. Gudang menjadi ruang public untuk semua usia. Gudang sendiri terletak di pinggir perindustrian Pulo Gadung.   Selain ke Gudang, biasanya bagi bapak-bapak dan remaja disana menggunakan sekeliling Area Gudang sebagai jogging track.  Siang hari menjelang, bapak-bapak suka menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan bapak-bapak lain di Pos, menonton tinju, formula one, GP, dsb. Ibu-ibu juga di ruang komunalnya dan anak-anak bermain di banyak titik seperti weekdays.

Keberadaan Pos di kampung Pulo kambing ini mengalami perubahan  arti. Pos disini adalah sebuah tempat berkumpul  yang kebanyakkan bangkunya berupa bale-bale.  Dahulu Pos digunakan sebagai tempat bapak-bapak ronda pada malam hari dan pada siang harinya terlihat sepi dan terdapat pentungan. Namun seiring dengan waktu dan banyaknya warga pendatang di Pulo Kambing, pos tidakklah sekadar pos biasa, ruang komunal biasa. Perkembangan makna pos itu sendiri bagi warga telah berkembang sedemikian luasnya sehingga pos dijadikan inti kegiatan komunal para warga .Bahkan ada pos yaitu di Rt 2 yang lebih berkembang ruang arti komunalnya . Disamping pos tersebut , terdapat tukang bakso yang berdagang sehingga ketika ada bapak-bapak berkumpul maka saat makan siang saat weekend biasanya akan makan bakso bersama. Pos sebagai salah satu ruang komunal yang terwujud dalam gagasan arsitektural . Di pos terdapat kegiatan berkumpul yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik tua muda, pendatang-warga asli.  Di pos pula, dilakukan acara –acara tertentu pada  saat –saat tertentu. Misalnya  pada pemilu salah satu pos di Rt 15 berubah menjadi TPU dan saat 17 agustusan menjadi arena untuk berkumpul dan ikut perlombaan. Pos seakan tidak pernah sepi oleh warga , berkembang luas, memiliki arti tersendiri bagi masyarakat kampung Pulo kambing. Dan seiring berjalannya waktu, akan seperti apakah pos bagi warga kampung Pulo Kambing mendatang??

26
Oct
09

Everyday Architecture, Memunculkan Atau Menghilangkan “Affordance” ?

J. J. Gibson mengungkapkan teori tentang Affordance, yaitu sebuah kondisi dimana suatu hal dilihat sebagai sesuatu yang lain, atau memiliki potensi yang lain. Sebagai contoh, pedagang kaki lima yang berjualan di jembatan penyebrangan orang. Mereka bisa melihat potensi ramainya jembatan tersebut akan menguntungkan bagi mereka, walaupun secara sadar mereka tahu bahwa mereka melawan sistem (power). Para pedagang kaki lima ini mungkin secara tidak sadar telah melakukan invasi terhadap ruang para pejalan kaki. Yang mereka lakukan sebenarnya terlebih dahulu melihat pola para pejalan kaki tersebut secara menyeluruh, kapan saja waktu-waktu padat, kapan waktu pejalan kaki merasa lapar atau haus, sehingga pada saat itu, munculah mereka. Para pedagang kakilima ini meletakkan sesuatu di sebuah kondisi tertentu, sehingga tercipta pola baru yang memiliki nilai (value) yang lain lagi.

Di sisi lain, munculnya nilai lain ini terkadang berimbas pada sesuatu yang “negatif” dalam kacamata tertentu, baik secara visual, maupun secara sistem. Oleh karena itu, muncul wacana “tepat sasaran” agar sesuatu yang dirancang (terutama oleh arsitek, yang merancang ruang) tidak dimaknai berbeda oleh pengguna. Secara tidak langsung bisa disebut sebagai usaha menghilangkan atau meminimalisasi affordance, oleh karena itu, kajian secara menyeluruh dan lengkap harus dilakukan sebelum melakukan intervensi, salah satunya dengan metode partisipasi bagi sasaran intervensi.

Pada dua ilustrasi tersebut, pendekatan yang dilakukan adalah sama-sama dengan metode keseharian. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya yang ingin dicapai? Menambah nilai terhadap sesuatu, atau justru meminimalisasi nilai tambah yang mungkin terjadi?

26
Oct
09

Partisipasi?

Participatory design is an approach to design that attempts to actively involve the end users in the design process to help ensure that the product designed meets their needs and is usable. It is also used in urban design, architecture, landscape architecture and planning as a way of creating environments that are more responsive and appropriate to their inhabitants and users cultural, emotional, spiritual and practical needs. It is important to understand that this approach is focused on process and is not a design style. (http://en.wikipedia.org/wiki/Participatory_design)

Participation: involvement in an activity (Oxford Learner’s Pocket Dictionary Fourth edition)

Melihat kuotasi di atas, terlihat adanya dua kata kunci yakni involve-involvement yang secara harfiah dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai terlibat-keterlibatan. Dua kata kunci inilah yang akan membawa kita dalam memahami pengertian partisipatif dalam sebuah desain. Seberapa jauhkah kita melibatkan pihak-pihak terkait dalam merancang sebuah karya arsitektural? Lalu, siapakah pihak-pihak tersebut? Pengguna, pengusul gagasan, atau mungkin pemilik kebijakan?

Di sini saya akan coba menceritakan sedikit pengalaman saya dan beberapa teman dalam sebuah proyek perancangan desain partisipatif. Dalam proses perancangan ini, ada tiga pihak utama yang terlibat yakni perancang, pengguna desain, dan juga penggagas/pengusul perancangan. Pada tahap awal, kami berhubungan dengan penggagas perancangan yang memiliki kepentingan khusus dengan terwujudnya rancangan yang akan kami buat. Kami diberitahu mengenai visi yang diusung untuk proyek kali ini yang kebetulan adalah sebuah sekolah. Pada tahap berikutnya, kami pun terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data dari penduduk setempat mengenai kultur, keadaan alam, hingga pada pandangan warga ataupun siswa terhadap keberadaan sekolah.

Data-data yang dikumpulkan dan diolah, kembali kami presentasikan di depan warga dan para penggagas untuk mendapatkan masukan tambahan mengenai desain. Dalam tahap ini, kami dibuat bingung terutama oleh penggagas yang tampaknya tidak begitu sepaham dengan metode partisipatif yang dijalankan. Di sini terlihat bahwa semua pihak ingin berbicara. Namun, tidak semua pihak yang dapat dimenangkan. Kami pun pada akhirnya memutuskan untuk memenangkan pengguna desain karena sudah merupakan hakekat berarsitektur di mana pengguna lah yang akan merasakan dampak desain secara langsung.

Hal ini persis seperti yang dijelaskan pada kuliah everyday and architecture mengenai partisipasi. Pihak-pihak yang terkait dalam sebuah perancangan seringkali tidak hanya melibatkan arsitek dan pengguna, tetapi juga pemilik kebijakan atau mungkin pemilik dana. Semua pihak ingin menang, namun hal itu tak mungkin terlaksana. Benarkah demikian? Kalau anda, mana yang akan anda menangkan?

-mando-

26
Oct
09

toilet duduk atau toilet jongkok?

Sebenarnya saya sudah memperhatikan mengenai hal ini sejak beberapa waktu yang lalu ketika saya dan adik saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Ketika kami pergi ke toiletnya, adik pergi mencari toilet jongkok. Awalnya saya tidak begitu memperdulikan hal itu. Tetapi setiap kali pergi ke toilet umum, selalu toilet jongkok yang dicarinya, meskipun tidak menjadi suatu keharusan. Demikian juga dengan ibu saya, lebih menyukai toilet jongkok apabila berada di tempat umum. Akhirnya, saya jadi bertanya – tanya dan akhirnya menanyakan langsung kepada mereka karena toilet di rumah sejak dulu adalah toilet duduk, jadi tidak mungkin hal itu dikarenakan ketidakbisaan mereka menggunakan toilet duduk. Jawaban mereka adalah karena di tempat umum banyak orang yang memakai toilet sedangkan kita tidak tahu kebersihan mereka. Apabila menggunakan toilet duduk, rasanya lebih tidak nyaman karena bersentuhan langsung. Selain itu, di beberapa toilet umum yang menggunakan toilet duduk seringkali ditemukan jejak sepatu, yang berarti meskipun itu adalah toilet duduk, ada saja yang masih memperlakukannya sebagai toilet jongkok dengan motivasi yang berbeda – beda. Setelah ditelusuri, ternyata beberapa hal yang saya temukan bisa menjadi penyebab hal itu terjadi adalah karena tidak terbiasa menggunakan toilet duduk; tidak mau bersentuhan langsung dengan dudukan toilet sehingga terpaksa jongkok di atasnya; berpikiran bahwa orang – orang lain juga menggunakan toilet duduk dengan cara jongkok di atasnya, apalagi bila melihat ada jejak sepatu diatasnya. Kalau dihubungkan dengan everyday and architecture, saya melihat dari segi bagaimana setiap orang memberikan perlakuan berbeda – beda terhadap obyek yang ditemuinya itu, dalam hal ini adalah toilet. Namun seringkali di mall mall besar apalagi di hotel – hotel tidak ditemui lagi toilet jongkok. Selain itu, toiletnya terjaga bersih dan rapih serta hampir tidak pernah ditemui hal semacam itu di toilet duduknya. Apakah karena orang – orang yang datang ke sana dari kalangan tertentu? atau karena memang cleaning service nya yang selalu siap siaga untuk membersihkan toilet sehingga selalu dalam keadaan bersih?

12
Oct
09

Be Creative with CLAY !

Sesungguhnya saya berkeinginan untuk membuat maket, dengan material yang berbeda. Dimana mahasiswa lain belum pernah menggunakannya. Suatu hari, saya memiliki janji dengan kerabat di suatu toko buku dibilangan matraman. Sembari menunggu kedatangan kerabat saya, saya melihat-lihat “apa?” yang kira-kira dapat menjadi bahan maket saya.

Saya berkeinginan suatu bahan maket yang memiliki karakter yakni mudah dibentuk dan tahan lama. Saya pun melihat seorang SPG yang sedang membuat berbagai macam fancy ornaments dan accesoris. Dengan mudahnya SPG tersebut membentuk berbagai macam wujud dengan menggunakan bahan yang belakangan diketahui bernama CLAY.

Saya kira Clay tidak berbeda dengan lilin mainan anak atau sejenisnya. Dimana lilin anak tersebut mampu dibentuk menjadi berbagai macam bentuk. Namun, lilin anak sangatlah ringkih, mudah hancur/mudah berubah bentuk. Sedangkan saya membutuhkan sesuatu yang mudah dibentuk dan tahan lama.

Ternyata, CLAY berbeda dengan lilin mainan anak. Selain Clay jauh lebih mudah dibentuk, bentuk yang dihasilkan pun dapat bertahan lama. Selain itu Clay juga tidak licin dan panas pada kulit telapak tangan seperti lilin mainan anak pada umumnya. Tidak heran, ketika mengetahui Clay memiliki harga diatas rata-rata, tapi menurut saya ini masih cukup terjangkau oleh beberapa kalangan masyarakat.

CLAY biasa digunakan untuk membuat berbagai fancy ornaments, accessories, toys, bouncing a ball dan berbagai kegiatan kreatif  lainnya. Termasuk apa yang saya lakukan pada Clay, dimana Clay saya manfaatkan untuk membuat maket project arsitektur. Dengan Clay saya mampu mewujudkan suatu bentuk yang berada di dalam imajinasi saya.

12
Oct
09

Could it always be called ‘everyday’?

Setelah membaca tulisan ‘ The Uses of Decoration : Essays in the Architectural Everyday, Malcolm Miles, 2000: Architectural Everydays dan Architecture of the Everyday, Steven Harris and Deborah Berke, saya menyimpulkan bahwa everyday adalah semacam kritik sosial terhadap lingkungan sekitarnya. Ini terlihat dari kutipan berikutnya:

….Lefebvre regarded everyday life as a means of countering the ‘mystified consciousness’ that encoded alienation in all spheres of existence.” ( McLeod, 1997:11)

Biasanya everyday selalu menyimpang dari apa yang ada di sekitar kita seperti yang dikutip berikutnya:

Lefebvre stressed that contradiction is intrinsic to its (the everydays) very nature. While it is the object of philosophy, it is inherently nonphilosophical; while conveying an image of stability and immutability, it is transitory and uncertain;while governed by the repetitive march of linear time,it is redeemed by the renewal of nature’s cyclical time; while unbearable in its monotony, it is festive and playful; and while controlled by technocratic rationalism and capitalism, it stands outside of them.” ( McLeod, 1997:13-14)

Akan tetapi, apakah seluruh yang bersifat sumpek, kotor, merakyat, atau gerakan baru ,dapat dikatakan sebagai sesuatu yang ‘everyday’? Sedangkan sesuatu yang bersih, elit, atau mewabah dianggap bukan ‘everyday’? Saya merasa tidak. Menurut saya, ‘everyday’ atau tidak, itu tergantung pada proses pemunculan atau tujuannya. Misalnya, Jember Fashion Carnaval. Mengapa itu dijadikan sebagai studi kasus? Karena, menurut saya, everyday itu tidak selalu berbentuk arsitektur. Itu bisa saja berupa  fashion, musik, perilaku, dan lainnya.

Seperti yang diketahui, Jember Fashion Carnaval (JFC) adalah karnaval fashion yang termegah di Indonesia. Ini umumnya diadakan pada bulan Agustus di Jember. Banyak tanggapan positif terhadap karnaval ini. Ada yang mengatakan kalau ini membuktikan bahwa kreativitas orang Indonesia tak kalah dengan negara lainnya seperti Brasil atau Amerika. Ini pun dianggap merakyat karena orang miskin atau nonprofessional tetap dapat menjadi peserta karnaval ini.  Bahkan ini juga berhasil mengangkat ekonomi Jember. Material yang dipakai untuk pakaian karnaval juga berupa material yang mudah diperoleh dan ada di sekitar kita.

Namun, bagi saya, karnaval ini kurang ‘everyday’. Mengapa? Setelah diselidiki ,ternyata proses pencanangan ini tidak banyak melibatkan warga Jember. Ini lebih banyak diurus oleh staf organisasi nirlaba JFC. Apalagi ini muncul dari kesadaran seseorang yaitu perekayasanya. Bukan murni kesadaran rakyat Jember. Bahkan tema dan rutenya juga ditentukan organisasi tersebut. Memang ada workshop untuk peserta karnaval. Akan tetapi, dalam workshop, mereka umumnya diberi referensi-referensi sebagai sumber insipirasi. Kebanyakan referensi itu berkaitan dengan tema karnaval yang akan diusung. Saya jadi pesimis. Seandainya organisasi JFC ini tidak ada, apakah rakyat Jember tetap akan meneruskannya? Apakah mereka sanggup? Apalagi karnaval ini biasanya didanai oleh pemerintahan kota Jember dan para donatur.

Jika masyarakat Jember dilibatkan dalam proses pencanangan seperti menentukan rute atau memutuskan tema JFC,maka tidak perlu ada workshop. Sebab mereka sadar bahwa JFC sesungguhnya adalah ekspresi kebebasan mereka. Jika itu terjadi, maka JFC dapat disebut ‘everyday’. Tidak perlu ada dana sokongannya. Sebab itu dilakukan dengan sukarela.

Bandingkan dengan Harajuku. Harajuku adalah kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Harajuku menjadi terkenal karena ritual remaja-remaja yang berdandan aneh-aneh di sini. Ritual ini bermula ada kelompok gadis yang disebut Annon-zoku yang berdandan meniru busana yang ada di majalah Anan dan non-no pada tahun 1970-an. Lama-lama jumlah mereka bertambah banyak dan dandanannya menjadi aneh dan bebas aturan. Bahkan ini telah menjadi ritual tetap bagi remaja Tokyo. Tidak ada dana sokongan untuk memunculkan ritual ini. Ini hanyalah semcam bentuk kesadaran mereka untuk mengekspresikan diri. Tidak ada paksaan ( rekrutmen ) untuk mengikuti ini. Tidak mengherankan, ritual ini mampu bertahan sampai sekarang. Bukankah sesuatu yang ordinany umumnya bertahan lama?

Itu juga terjadi pada arsitektur di sekeliling kita. Misalnya, ada sebuah warung kecil yang seluruh material tergolong benda yang mudah diperoleh, seperti triplek dan seng bekas. Tetapi, saat dinding dicat dan diberi merek rokok yang terkenal, otomatis, warung itu bukanlah sesuatu yang ‘everyday’ karena ada unsur kapitalismenya. Atau bisa juga sebaliknya. Seperti warung yang menggunakan spanduk utuh yang bertuliskan merek minuman. Waktu ditanya, ternyata itu diambil dari tempat sampah! Atau bisa juga perumahan elit yang sering dianggap bukan ‘everyday’ ternyata memiliki ritual ‘everyday’. Contohnya perumahan Kemang Pratama di Bekasi. Para remaja di situ memiliki kebiasaan berkumpul di pinggiran sungai pada sore hari. Padahal semula itu tidak didesain untuk mewadahi kegiatan tersebut. Namun karena di situ banyak pepohonan dan teduh, akhirnya banyak remaja memilih tempat itu untuk nongkrong. Bahkan tempat itu juga sering dipakai untuk lomba-lomba atau bazaar. Di samping itu, tempat itu juga relatif bersih (sedikit sampah).

Jadi, tak semua yang kotor, sumpek, atau mengandung material yang recycle serta-merta dianggap ‘everyday’. Mestinya dianalisis dulu proses pembentukan atau tujuannya sebelum menentukan apakah itu ‘everyday’ atau bukan. Karena, menurut hemat saya, everyday adalah ungkapan atau ekspresi dari masyarakat baik secara sadar maupun tidak sadar terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak ada unsur paksaan di dalamnya. Ini murni kehendak mereka sendiri.

28
Jan
09

Ruang Publik Sebagai Ruang Berkreativitas, Order or Disorder?

Tidak sedikit kita temui dinding-dinding di pinggir jalan yang berhiaskan gambar-gambar yang sering disebut grafiti. Apa yang sebenarnya menjadikan mereka melukiskan gambra-gambar tersebut pada sebuah dinding yang notabennya adalah miliki publik?untuk siapa sebenarnya mereka melakukan itu, untuk kepuasan dirikah atau untuk kepuasan publik itu sendiri atau adanya kesempatan bagi mereka untuk menggunakan ruang publik tersebut sebagai media kreativitasnya?bisakah disini saya katakan bahwa secara tidak langsung ruang-ruang yang terbentuk beserta elemennya di lingkungan publik dapat menciptakan suatu peluang atau kesempatan bagi publik untuk menggunakan di luar dari yang seharusnya?dan dapatkah dikatakan bahwa disini bahwa keberadaan grafiti tersebut adalah bentuk partisipasi masyarakat terhadap ruang publik yang justru dengan adanya partisipasi tersebut malah menjadikan ruang publik difungsikan diluar dari fungsinya karena mereka melihat adanya kesempatan yang memungkinkan mereka untuk menuangkan kreativitasnya di situ.

Namun keberadaan grafiti tersebut bisa mengundang mata publik yang melintas di depannya dan membuat mereka menjadi tertarik dan mungkin menjadi tidak bosan jika sedang melewatinya. Sehingga disini bisa kita lihat mungkin sebelum keberadaan grafiti tersebut ruang publik tersebut tidak mengundang perhatian publik tetapi setelah keberadaan grafiti yang disini saya katakan sebagai bagian dari partisipasi masyarakat terhadap ruang publik, mereka menjadi terlihat lebih hidup dan bahkan tidak membosankan. Publik disini juga dapat dikatakan sebagai penghidup dari desain ruang publik yang ada, mereka membubuhi sesuatu didalamnya. Ketika saya melewati salah satu jalan di kota Bandung, saya justru melihat dinding di sepanjang jalan dipenuhi dengan gambar-gambar serupa dengan grafiti, kemudian saya berpikir mengapa justru mereka “sangat” dibolehkan untuk menggunakan milik publik sebagai ajang menuangkan kreativitas mereka, berarti disini bentuk grafiti itu adalah disorderkah atau bukan?

Memang jika kita lihat grafiti tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk disorder, tetapi salahkah jika ternyata hasil dari bentuk disorder tersebut malah menjadikan sesuatu lebih terlihat menarik? karena sesuatu yang disorder terkadang sering diidentikkan dengan sesuatu yang salah, karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Bagaimana jika sesuatu yang kita pikir sebagai bentuk disorder kita jadikan order?yang salah satu caranya adalah seperti pada contoh kasus yang saya temui di sepanjang jalan di daerah bandung dimana mereka justru membuat dinding-dinding yang ada disepanjang jalan menjadi lebih menarik dengan keberadaan grafiti. Menambahkan sesuatu pada bagian ruang publik yang justru memberikan sesuatu yang lebih terhadap ruang publik tersebut.

04
Jan
09

Arsitektur melalui Partisipasi

Karya arsitektur merupakan suatu ruang yang dirancang oleh arsitek dan dinikmati oleh pengguna (masyarakat) dalam kehidupan sehari-hari. Dalam merancang karya aristektur ini, terdapat dua dasar yang dapat diterapkan oleh seorang arsitek, yaitu merancang melalui standar yang ada dan merancang melaui partisipasi.

Merancang dengan standar yang telah ada, seringkali membuat arsitek tidak perlu beinteraksi dengan masyarakat yang menggunakan, karena sang arsitek berpikir bahwa standar yang telah dibuat sebenarnya berasal dari masyarakat itu sendiri dan melalui standar yang ada dapat tercipta karya arsitektur yang indah. Namun pada kenyataannya, masyarakat dalam kehidupan kesehariannya dengan beragam kebudayaan memiliki keunikan yang berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya. Sehingga, standar arsitektur yang telah ditetapkan suatu negara dapat tidak berguna jika digunakan di negara yang berbeda, dan karya arsitektur yang diciptakan akan diubah sesuai keinginan pengguna atau bahkan tak ada yang akan menggunakannya. Hal ini yang menjadi kelemahan dalam merancang melalui standar yang ada. Seperti yang dikatakan Prince of Wales’s model housing development in Dorest,architects had no monopoly of the taste,….’ (the uses of decoration, pg.160). Bagaimana dengan merancang melalui partisipasi pengguna dan arsitek? Apakah arsitektur yang tercipta akan tetap indah?

Merancang melalui partisipasi diterapkan oleh ECU (Education Care Unit) di SDN 13 Petang, Srengseng. Program ini diberikan untuk anak-anak kelas 4 SD yang merupakan golongan minoritas dalam lingkungan arsitektur. Tema yang dibuat yaitu mengenai rumah sehat. Dalam kegiatan ini, terdapat dua pihak yang berperan dalam merancang rumah yang sehat yaitu anak-anak SD (sebagai pengguna) dan fasilitator (sebagai arsitek). Kedua pihak ini saling bekerjasama dalam bentuk diskusi dan membuat model rumah sehat.

Diskusi merupakan suatu pendekatan dalam merancang melalui partisipasi. Dalam tahap diskusi awal ini, fasilitator mencoba mengenal anak-anak SDN 13 melalui tempat tinggal dan kondisi tempat tinggal mereka. Sebagian besar dari anak-anak ini tinggal dekat dengan sekolah mereka dan memiliki kondisi tempat tinggal yang berbeda. Tahap diskusi kedua ini, fasilitator mencoba mengetahui seberapa dalam pengertian anak-anak SD ini mengenai sebuah rumah yang sehat melalui ruang-ruang yang nyaman dan tidak nyaman dalam rumah mereka, dan mengapa mereka merasa nyaman dan tidak nyaman. Tahap ini merupakan tahap yang mudah bagi anak-anak SDN 13, namun memiliki kesulitan dalam menjelaskan mengapa nyaman ataupun mengapa tidak nyaman. Tahap diskusi selanjutnya mengenai main mapping masalah dalam rumah dan solusinya. Masalah yang muncul dalam rumah berupa pengap, bau, gelap, dan gersang. Anak-anak menguraikan penyebab terjadinya masalah dan mencoba mencari solusinya. Solusi yang diajukan merupakan solusi yang sederhana, seperti masalah pengap, penyebabnya karena tidak ada jendela, maka solusi yang dikemukakan anak-anak secara spontan yaitu membuat jendela. Solusi tersebut tampak sederhana, namun secara tidak langsung fasilitator (arsitek) memberikan pengertian pada anak-anak SD (pengguna) bahwa rumah yang sehat sebaiknya menggunakan jendela agar udara dapat masuk sehingga ruang menjadi tidak pengap. Bentuk partisipasi aristek terhadap pengguna pada tahap ini terjadi melalui diskusi yang menghasilkan pengertian mengenai rumah sehat dan masalah serta solusi dalam penyelesaian masalah.

Tahap berikutnya berupa membuat model lingkungan rumah yang sehat. Membuat model lingkungan rumah yang sehat bagi anak-anak SD Negeri 13 Srengseng ini merupakan tahap yang menyenangkan. Mereka dapat merancang rumah masing-masing dan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemahaman mengenai rumah sehat yang telah didiskusikan sebelumnya. Pada tahap ini, tiap anak merancang rumah mereka dengan memberikan pintu, jendela, dan kanopi berdasarkan kreatifitas mereka masing-masing. Mereka juga membuat banyak pohon, meletakkan tempat sampah, pagar, lampu jalan, kolam bersama dan lapangan bersama. Partisipasi yang diberikan fasilitator (arsitek) seperti, ketika ada anak yang meletakkan tempat sampah tepat di depan jendela, maka fasilitator memberikan arahan melalui pertanyaan, apakah bau sampahnya tidak masuk ke dalam rumah? Kemudian anak (pengguna) berfikir sambil tersenyum dan mencoba meletakkan tempat sampahnya jauh dari jendela namun tetap di lingkungan rumahnya. Hasilnya berupa model lingkungan perumahan yang jika dilihat hanya berupa potongan kardus dan kertas, namun bagi anak-anak SDN 13, model ini merupakan suatu karya lingkungan rumah yang sehat dan mereka bangga akan karya yang telah mereka buat bersama ini. Bentuk partisipasi yang diberikan pada tahap ini berupa arahan dalam merancang rumah yang sehat.

Kegiatan yang dilakukan Education Care Unit ini merupakan kegiatan partsipasi yang membiarkan pengguna merancang lingkungan tempat tinggal mereka sendiri berdasarkan pengertian yang telah diberikan arsitek terhadap lingkungan tempat tinggal yang sehat. Secara tidak langsung, anak-anak ini telah belajar bagaimana merancang lingkungan yang sehat dan nyaman bagi mereka.

Merancang melalui partisipasi pengguna dan arsitek merupakan suatu proses perancangan yang tidak mudah. Seorang arsitek harus menghilangkan egonya dan bertukar pikiran dengan masyarakat sebagai pengguna. Kebutuhan dan keinginan dalam suatu masyarakat pun berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Namun, melalui diskusi maka proses tersebut akan dilalui dengan baik. Arsitek tidak lagi merancang melalui standar yang ada tetapi merancang berdasarkan masyarakat yang akan menggunakan rancangan tersebut, sehingga arsitektur yang dihasilkan berdasarkan partisipasi akan lebih berguna bagi masyarakat. Arsitektur yang dihasilkan selain bermanfaat bagi masyarakat juga memiliki sisi keindahan karena adanya partisipasi arsitek di dalam proses perancangannya. Keindahan yang terbentuk tidak hanya keindahan yang tampak secara visual, namun keindahan yang berarti sesuai pada tempatnya dan berguna bagi penggunanya. Seperti pernyataan Wates dan Knevitt, ‘the architect must produce something which is visually beautiful as well as socially useful’ (Wates and Knevitt, 1987:38).

02
Jan
09

Awaken the Giant Spirit Within

Karya seorang arsitek sering kali diidentikan sebagai sebuah massa bangunan yang dirancang dengan indah oleh seorang arsitek. Di dalam pandangan ini, arsitektur dilihat sebagai sebuah hasil atau produk atau tujuan akhir dari perancangan itu sendiri. Namun, apa yang saya pelajari dan pahami dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Education Care Unit di sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN 03 Guntur di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Desember 2008, lalu, sungguh mengubah pandangan saya tentang karya arsitektur. Sebuah karya arsitektur yang berkelanjutan (sustainable architecture).

Apa yang dikerjakan oleh Education Care Unit (ECU) yang diprakarsai oleh dosen-dosen saya di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia yaitu Bpk.Yandi Andri Yatmo PhD, Ibu Paramita Atmodiwirjo PhD dan Bpk. Didi Pramujadi, bukanlah merancang sebuah massa bangunan yang mereka sebut ’sustainable’. Mereka membangkitkan kesadaran dan merancang pola pikir anak-anak tentang kepedulian terhadap lingkungan mereka sendiri. Disini arsitektur bukan menjadi sebuah produk akhir, namun menjadi sebuah instrumen.

Isu-isu lingkungan lingkungan seperti kerusakan hutan, laut,energi, sampah, polusi dan lainnya hingga isu pemanasan global menjadi hal yang sangat diperbincangkan di berbagai kalangan di dunia. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan pemerhati lingkungan saja, namun juga mereka yang bergelut di lingkup arsitektur bahkan hingga kepala negara di hampir seluruh dunia. Peran arsitek untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan, selama ini, melalui desain-desain bangunan ramah lingkungan, zero waste, green building atau apa pun namanya, memang patut kita puji, terlebih apabila arsitektur dipandang hanya sebagai sebuah tujuan. Namun yang menjadi permasalahan utama saat ini dan masa depan, jauh lebih besar dari itu, yaitu semangat (spirit) dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan serta implementasinya. Dari titik inilah kemudian arsitektur dan segala ilmu dengan teknik yang ada di dalamnya dapat masuk ke masyarakat dan akan sangat berperan dalam mengurangi degradasi lingkungan, bukan sebagai sebuah tujuan, namun sebagai sebuah proses dan instrumen.

Di Indonesia, buruknya mutu pendidikan menjadi faktor paling kuat yang menyebabkan minimnya semangat kepedulian dan respons terhadap lingkungannya. Kurangnya pengetahuan menjadi alasan klasik saat menilai perilaku masyarakat perkotaan di Indonesia yang masih dinilai primitif bagi negara-negara maju dunia. Membuang sampah ke sungai, menimbun sampah plastik di dalam tanah dan sebagainya, merupakan contoh nyata yang dekat dengan keseharian kita. Mereka yang mengetahui bahwa  perilaku diatas merupakan jalan keluar yang kurang tepat pun sering kali tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini agaknya membuktikan bahwa pendidikan yang diterima oleh masyarakat kita, sebagian besar belum menekankan semangat untuk menerapkan dan mengembangkan pengetahuan itu sendiri. Kurangnya kreasi, inovasi dan semangat berproduksi membuat pendidikan bahkan tidak mampu menciptakan sumber daya manusia yang mandiri.

Pendidikan yang berlangsung satu arah yaitu dari atas (otoritas guru) ke bawah (anak didik) bisa jadi merupakan penyebabnya. Sistem pendidikan seperti ini memang terlihat lazim di sekolah-sekolah di Indonesia, terutama pada tingkatan Sekolah Dasar. Padahal sistem pendidikan seperti ini hanya akan menjadikan siswa didik sebagai penerima ilmu yang diberikan oleh sang guru. Sering kali bahkan sang guru salah dalam menyampaikan ilmunya sehingga terjadi salah persepsi diantara siswa didik. Lebih parahnya lagi, ilmu yang yang disampaikan oleh guru acap kali dianggap sebagai harga mati yang kemudian mempengaruhi penilaian jawaban mereka saat ujian sekolah.

Sistem pendidikan semacam itu telah membuat anak-anak kehilangan kekritisan dan kreativitasnya, karena mereka takut salah. Mereka menjadi sangat bergantung pada ‘guru’, menunggu perintah, menunggu untuk diberitahu, disediakan, atau dengan kata lain, ‘disuapi’ sesuatu yang mereka tidak benar-benar mengerti. Padahal, kreativitas tidak datang dari sesuatu yang serba pasti, ia datang karena adanya kebebasan, keingintahuan, proses berbuat, dan tidak takut salah.

Pendidikan di tingkat sekolah dasar sering kali juga kurang tepat dalam menyampaikan konsep-konsep pemikiran dalam hubungannya dengan masalah sehari-hari. Sebagai contoh, ketika saya dulu duduk di bangku sekolah dasar, apa yang selalu dikatakan oleh guru adalah bahwa kita harus ‘membuang sampah pada tempatnya (tong sampah)’. Mengapa? Karena jika tidak akan menyebabkan kotor, banjir, penyakit, bau busuk dan sebagai macamnya. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana jika tong sampah (‘tempatnya’ sampah) tidak ada. Anak-anak biasanya akan terus mencari dan ketika mereka putus asa, tempat apa pun akan menjadi ‘tempatnya’. Penyampaian pola berpikir terhadap penyelesaian masalah pada anak-anak sekolah dasar yang sering kali kurang tuntas telah membuatnya mudah sekali tergantikan oleh pola berpikir praktis. Alasan membuang sampah sembarangan sebagai penyebab banjir, akan menjadi omong kosong bagi anak-anak ketika hal itu tidak juga terjadi padahal mereka melakukannya setiap hari.

Dengan latar belakang inilah saya melihat hadirnya ECU dengan konsep pendidikan yang membangkitkan dan mengembangkan semangat kreativitas, kekritisan dan proaktivitas yang berkelanjutan sebagai sebuah inovasi dalam paradigma pendidikan. Dengan berbekal pengetahuan arsitektur yang telah saya dapatkan selama kuliah dan dengan pengarahan dosen, saya ikut merasakan sendiri metode baru pendidikan yang berupaya untuk menggali lagi semangat belajar, berkreasi dan berpendapat pada anak-anak kelas 4 SDN 03 Guntur. Saat itu, tim ECU membuat semacam lokakarya dengan tema rumah dan lingkungan yang sehat, saya menjadi salah satu fasilitatornya.

Kegiatan diawali dengan perkenalan antara pembimbing dengan anak-anak yang dibagi ke dalam beberapa kelompok berisi delapan anak, dengan satu sampai dua pembimbing di dalamnya. Perkenalan ini hal kecil, namun sangat penting. Di tahap inilah pembimbing (fasilitator) dengan anak-anak mulai saling membangun kepercayaan dan semangat mereka dalam melaksanakan pembelajaran ini. Tanpa keyakinan dan saling percaya, pembelajaran ini hanya akan menjadi formalitas semata.

Perkenalan kemudian berlanjut dengan diskusi di dalam masing-masing kelompok yang sebenarnya lebih menyerupai sharing, menceritakan mengenai keadaan rumah mereka. Ada yang panas, pengap, ada yang gelap, ada yang selalu bersih karena rajin membersihkan rumah dan sebagainya. Mereka juga tak segan-segan bertanya kepada saya mengenai kondisi rumah saya saat ini dan hal ini membuat saya yakin bahwa mereka adalah anak-anak yang cukup proaktif, sehingga akan lebih mudah bagi saya untuk membimbing mereka.

Kegiatan saling bercerita itu kemudian dipandu dengan sebuah lembar isian yang di dalamnya terdapat pertanyaan-pertanyaan seputar keadaan rumah mereka terkait dengan rumah sehat. Dalam mengisinya, mereka tak perlu saling menyontek, mereka hanya perlu menceritakan sebanyak yang mereka mau, sebaik yang mereka tahu, dan dengan bahasa mereka sendiri. Bahkan jika mereka kehilangan inspirasi dalam menjawabnya, mereka bisa bertanya kepada kami pembimbingnya agar dapat menggali lagi pengetahuan dan cerita mereka. Disini, mereka lah yang berkepentingan, mereka lah yang ingin tahu dan ingin mencari sebanyak mungkin jawaban. Kita memberikan mereka ‘ruang’ seolah mereka lah yang paling mengerti tentang lingkungan mereka sendiri, dan dengan mempercayai mereka, kita juga akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan.

Hal kemudian berubah menjadi agak sulit pada saat diskusi ini mencapai tahap yang lebih lanjut yaitu pemetaan pikiran: menemukan alasan atau penyebab dari setiap masalah dan kemudian mencari solusinya. Misalnya, masalah ruang kamar yang panas / pengap, penyebabnya karena tidak ada atau kurangnya ventilasi, solusinya seperti yang disepakati para anggota kelompok ialah dengan membuat atau memperbanyak ventilasi, memakai kipas angin atau AC. Disini anak-anak mulai terlihat kesulitan dalam mencari keterkaitan sebuah masalah dengan penyebab dan penyelesaiannya. Mereka mulai banyak sekali bertanya karena kurang yakin dengan pemikirannya meskipun ternyata pemikiran mereka sangat masuk akal dan nyata. Mungkin ini adalah akibat dari sistem pendidikan yang serba satu sumber, satu pemikiran, satu kalimat dan satu gaya bahasa tadi.

Di akhir bagian yang disebut pemetaan pikiran tadi, anak-anak akhirnya dapat melihat hubungan yang ada, mengelilingi sebuah masalah yang sebelumnya mereka temukan sendiri di lingkungan dan rumah mereka. Mereka akhirnya tidak lagi melihat sebuah masalah yang hanya dapat diidentifikasi, namun kini mereka tahu apa yang dapat mereka lakukan dengan melihat pada penyebab dari permasalahan itu sendiri.

Setelah proses pemetaan pikiran selesai, anak-anak terlihat seolah-olah telah melakukan sebuah upaya yang baik, sebuah jawaban / pengetahuan yang sudah cukup untuk mengakhiri pertemuan pagi itu. Mereka pun bertanya, ” Habis ini kita ngapain, kak? Sudah selesai ya?”. Saya pun menjawab mereka,” Belum. Ada yang lebih seru!”. kegiatan selanjutnya ialah siswa diajak membuat sebuah maket kompleks perumahan yang sehat sesuai dengan hasil diskusi tadi.

Berbeda dengan proses diskusi dan pemetaan pemikiran yang agak sulit, proses pembuatan maket ini disambut antusias para siswa. Suasana gaduh yang muncul selama proses diskusi kini berubah menjadi keasyikan tersendiri, membuat sebuah rumah sehat impian. Mereka sibuk dalam aktivitas dan imajinasinya masing-masing, selain tentunya memasukan apa yang telah mereka pelajari dalam diskusi. Disini anak-anak diberikan kebebasan berimajinasi dan sekaligus menerapkan pengetahuannya sehingga mereka dapat memiliki sense of belonging terhadap apa yang mereka buat.

Dengan bahan yang sederhana mereka sibuk menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas yang dibagikan. Mereka meminta bahan terbaik pada kami sebagai bahan membuat rumah mereka. Mereka kemudian menggambarkan jendela-jendela dan ventilasi pada rumah yang berukuran 5×10 cm dan tinggi 5 cm tersebut. Pohon-pohon sebagai elemen penghijauan dibuat deangan kertas krep atau daun-daun dari halaman sekolah mereka.

Maket dibuat dengan sederhana, namun sesuai dengan pemahaman dan imajinasi anak-anak. Hal ini dimaksudkan agar maket tidak dibuat sebagai produk prakarya semata, namun lebih memiliki makna dan cerita. Di sini, sama seperti arsitektur, model bukan hadir sebagai tujuan atau produk akhir, namun hanya sebagai instrumen untuk mencapai tujuan yaitu merangsang semangat dan kreativitas anak-anak terhadap pengelolaan lingkungan di sekitarnya.

Proses berikutnya tak kalah penting yaitu membuat refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan pagi itu. Disini mereka diminta untuk menyampaikan kembali apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang mereka pelajari. Bagian ini sangat penting untuk melihat bagaimana anak-anak menyerap pembelajaran yang telah diberikan kepada mereka.

Pembelajaran seperti yang dilaksanakan oleh ECU ini dapat menjadi cara lain bagi mereka yang memiliki pengetahuan di bidang arsitektur khususnya untuk membantu mengurangi permasalahan degradasi lingkungan yang terjadi semakin parah beberapa dekade terakhir ini. Hal ini bukan terjadi karena buruknya kualitas lingkung bangun, karena hal itu hanya lah sebagian dari akibat. Permasalahan yang sesungguhnya adalah kurangnya kepedulian manusia terhadap alam yang selama ini mereka ‘eksploitasi’. Arsitek harus dapat berperan lebih, bukan hanya sebagai ‘pembantu’ (membantu klien yang peduli terhadap lingkungan), namun justru sebagai pembangun semangat (spirit) dan kepedulian terhadap lingkungan itu sendiri di tengah-tengah masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus dunia.

Hidup dan lingkungan yang lebih baik adalah dambaan bagi hampir 3 miliar penduduk dunia. Mereka semua mempunyai spirit untuk mewujudkan itu. Spirit menjadi begitu penting karena ia menjadi kekuatan raksasa bagi hadirnya sebuah perubahan. Namun ketika harapan semakin menjauh dari kenyataan, spirit pun dapat perlahan menghilang. Disaat kondisi seperti ini, besar harapan perubahan bertumpu pada generasi mendatang, sebagai pembawa perubahan. Pada esensinya proses pembelajaran altrnatif ini berusaha untuk membangkitkan spirit dan memberikan pemahaman sejak dini tentang pengelolaan lingkungan yang baik dengan cara yang menyenangkan. Spirit dan pemikiran yang sudah tertanam dengan kuat diharapkan akan terus terbawa dan dikembangkan, hingga kemudian pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dapat terealisasi. Yes, we can!!

02
Jan
09

Membangun Arsitektur dengan Perspektif Pengguna Melalui Partisipasi

Dalam kehidupan sehari-harinya, manusia hidup dan berkegiatan di dalam ruang. Manusia mengalami ruang tersebut, dan beradaptasi dengan ruang itu. Manusia tidak hanya secara pasif menerima suatu ruang sebagai wadah beraktivitasnya, tetapi kemudian merespon ruang itu, mengatur bagaimana agar ruang tersebut benar-benar sesuai dengan apa yang dia butuhkan. Dari sini, dia akan memutuskan, ruang yang bagaimana yang ideal untuk dia tempati. Perspektif ideal mengenai ruang ini tentu saja berbeda antara satu manusia dengan manusia yang lain, bergantung pada pengalaman mereka terhadap suatu ruang.

Arsitek sebagai perancang haruslah benar-benar memperhatikan hal ini. Setiap tempat atau bangunan yang dirancang tentu akan ada penggunanya, dan arsitek berkewajiban untuk mengetahui dan memahami calon penggunanya ini, untuk kemudian dapat memprediksi bagaimana ruang yang akan dirancangnya nantinya digunakan oleh mereka. Hal ini sangat penting dalam mendukung keberhasilan arsitektur yang dibangun oleh sang arsitek, sebab dengan dapat memprediksi bagaimana kemungkinan perilaku calon pengguna rancangannya dalam sebuah ruang, ruang yang dirancangnya akan benar-benar dapat merespon segala kebutuhan spasial manusia yang menggunakannya.

Walaupun demikian, seringkali terjadi bahkan ruang yang telah dirancang oleh seorang arsitek pun mengalami intervensi oleh orang-orang yang beraktivitas di dalamnya. Intervensi ini terjadi karena si pengguna melihat kemungkinan lain dari suatu ruang, yang kemudian diinterpretasikan melalui suatu perilaku spasial yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan sang arsitek mengenai bagaimana rancangannya akan digunakan. Lalu apakah dalam hal ini, arsitektur yang telah mengalami intervensi pengguna itu tidak lagi disebut ideal? Atau justru intervensi tersebutlah yang menjadikan arsitektur tersebut lebih ideal untuk ditempati bagi penggunanya? Jadi dalam hal ini, persepsi dan perspektif siapa yang harus diutamakan dalam terbangunnya sebuah arsitektur, sang arsitek atau penggunanya?

Dalam terwujudnya sebuah arsitektur melalui ruang tempat berkegiatan manusia ini, tentu saja persepsi dan perspektif pengguna menjadi hal yang sangat penting. Dengan demikian, agar program arsitektur yang telah dirancang oleh seorang arsitek dapat berhasil, keterlibatan calon penggunanya dalam proses desain adalah hal yang sangat penting. Pengguna tidak hanya menjadi sekedar pengguna setelah arsitektur tersebut terbangun, namun juga turut berpartisipasi dalam memberikan perspektif bagaimana ruang yang dia butuhkan, bagaimana ruang yang membuat dia nyaman, yang selanjutnya tugas arsiteklah untuk mengarahkan dan akhirnya merealisasikan perspektif tersebut. Dengan langkah ini, intervensi yang tidak diinginkan dari pengguna terhadap arsitektur tersebut kecil kemungkinannya akan terjadi, sebab dengan memberikan perspektifnya mengenai gambaran ruang yang dibutuhkan dan diinginkan, dengan berdasarkan pada pengalaman terhadap ruang yang pernah dialami, pengguna dapat membayangkan apa konsekuensinya nantinya jika mereka melakukan intervensi terhadap arsitektur tersebut.

Mewujudkan arsitektur melalui partisipasi pengguna ini sebenarnya bukanlah hal yang cukup mudah dilakukan. Hal ini terlihat dalam workshop ”Rumah Sehat” yang diadakan di SDN Guntur 03 Pagi. Workshop ini ditujukan buat anak-anak kelas 4 SD (usia 10 tahun), dengan program memahami apa itu rumah sehat untuk akhirnya dapat merancang sebuah rumah sehat.

Awalnya diadakan diskusi dalam kelompok (6-7 orang), di mana setiap anak mendeskripsikan bagaimana rumah yang mereka tinggali, nyamankah rumah mereka, ruang mana yang nyaman, ruang mana yang tidak nyaman, dan sebagainya. Hal yang menarik dalam diskusi ini adalah bahwa anak-anak tersebut menyampaikan mengapa mereka mengklasifikasikan suatu ruangan sebagai ruang yang nyaman maupun tidak nyaman dengan mengemukakan fitur-fitur yang memfasilitasi ruangan tersebut, misalnya seorang anak menyebutkan kamar tidurnya nyaman karena menggunakan AC. Tugas saya sebagai fasilitator pada saat itu (atau dalam pembahasan partisipasi ini, sebagai sang arsitek), adalah memberikan pengertian terhadap konsep nyaman karena adanya AC tersebut, apa yang dia dapatkan dengan keberadaan AC, apa yang bisa menggantikan AC, namun memberikan kenyamanan yang sama.

Selanjutnya mereka diminta mengisi worksheet dengan tabel-tabel yang harus diisi mengenai apa yang telah didiskusikan sebelumnya. Ternyata dalam sesi ini anak-anak mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan ’mengapa’. Dalam tabel ’ruangan yang nyaman’ misalnya, mereka dengan cukup mudah dapat mendaftar ruangan-ruangan yang ada di rumahnya, namun mengalami sedikit kesulitan pada tabel di mana mereka harus menulis alasan mengapa mereka menyebutnya nyaman atau tidak nyaman. Dari sinilah saya melihat bahwa tahap penanaman konsep arsitektur ini adalah bagian tersulit dari metode partisipasi, sebab dalam tahap ini, kita sebagai arsitek harus dapat mengarahkan calon pengguna yang terlibat dalam proses desain untuk benar-benar memahami sasaran dan tujuan arsitekturnya. Dengan pemahaman ini, perspektif yang diberikan oleh calon pengguna dapat mereka pertanggungjawabkan dalam arsitektur yang telah terbangun nantinya.

Tahap selanjutnya dalam workshop tersebut adalah membuat model rumah dan lingkungan sehat menurut mereka, sesuai dengan apa yang telah didiskusikan dan hasil pemahaman dari tahap sebelumnya. Ini merupakan tahap yang paling dinikmati oleh anak-anak tersebut, karena dalam tahap ini mereka benar-benar dapat merealisasikan apa yang mereka inginkan terkait dengan gambaran rumah ideal bagi mereka, namun tetap memenuhi kriteria nyaman dan sehat. Dalam tahap ini, mereka secara praktis dapat langsung mewujudkan pemahaman yang mereka dapat sebelumnya. Dengan turun langsung dalam praktek perancangannya mereka dapat memperkirakan apa baik buruknya jika suatu ruang dirancang sedemikian rupa, sehingga ruang yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh mereka (sebagai calon penggunanya).

Dengan keterlibatan (partisipasi) pengguna dalam perancangan, intervensi yang tidak diharapkan dari pengguna terhadap suatu arsitektur lebih kecil kemungkinannya untuk terjadi, sebab pengguna sudah paham mengapa ruang itu ada dan mengapa dibuat demikian, mereka tahu alasan kehadiran ruang tersebut sehingga tidak seenaknya mengalihkan penggunaan ruang tersebut untuk sesuatu yang lain yang tidak sesuai dengan program arsitekturnya. Dengan partisipasi pengguna dalam proses perancangan, mereka akan lebih merasakan keterikatan dan tanggung jawab untuk memelihara arsitektur tersebut, sehingga ruang yang ada benar-benar terfungsikan sebagaimana ia seharusnya.

02
Jan
09

Arsitektur dan Anak-Anak : “mereka juga bisa..”

Berdasarkan pengetahuan yang saya miliki, bahwa untuk merancang sesuatu, haruslah penuh perhitungan, pemikiran yang matang dan proses yang cukup panjang. Dan yang dapat melakukan hal tersebut adalah para orang dewasa yang sudah mengalami berbagai macam pahit-manisnya kehidupan, serta telah melewati proses pembelajaran dan berbagai pengalaman dalam merancang. Namun demikian, pendapat tersebut terpatahkan setelah saya mengikuti workshop yang diadakan oleh ECU (Education Care Unit), di Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 2008.

Pada hari itu, di SDN 03 Guntur sedang berlangsung class meeting, namun untuk anak-anak yang duduk di kelas IV, mendapat dispensasi untuk tidak turut serta berpartisipasi, dan mereka mendapatkan workshop mengenai rumah sehat dari tim ECU. Pada awalnya terlihat sedikit kekecewaan di wajah mereka, karena tidak dapat bermain dengan teman-teman sebayanya, dan timbul sedikit kekawatiran dalam diri saya, apakah mereka dapat diajak bekerja sama dalam workhop ini, dan apakah mereka bisa menangkap maksud serta tujuan dari workshop ini nantinya. Kembali lagi, kekawatiran saya terpatahkan setelah mengikuti workshop ini.
Workshop dimulai dengan membagi 5 kelompok dalam satu kelas. Setiap kelompok terdiri dari satu fasilitator (saya dan teman-teman dari arsitektur UI-red.) dan 6 siswa. Saya mendapatkan kelompok yang terdiri dari Dhesta, Vivi, Andhika, Arfi, Nina dan Aisyah. Dalam workshop ini, mereka nantinya harus meghasilkan sebuah rancangan rumah impian yang sehat. Namun, sebelum mewujudkan rumah impian tersebut, saya mengajak para siswa berdiskusi terlebih dahulu. Hal tersebut pada awalnya memang tidak mudah. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang aktif mendiskusikan setiap pertanyaan yang saya lontarkan, ada yang hanya mengiyakan atau mengangguk-angguk, namun, ada juga yang apatis dan diam saja.

Hal pertama yang saya lontarkan untuk memecahkan kekakuan diantara kami, saya mengajukan pertanyaan mengenai tempat tinggal mereka, apakah tempat tinggal mereka sudah nyaman atau belum, lalu bagaimana definisi nyaman menurut mereka. Dan akhirnya mereka mulai terlibat aktif dalam diskusi mengenai rumah nyaman.

Dari lontaran-lontaran jawaban mereka, saya cukup terkejut dengan pemahaman mereka mengenai rumah yang nyaman. 5 dari 6 orang menjawab rumah yang nyaman adalah rumah yang sejuk, dingin dan tidak sumpek. Tetapi yang mengkawatirkan adalah, ketika mereka menjawab, “soalnya pake AC, kak”. Saya heran, kenapa mereka bisa berpendapat bahwa dengan AC lah rumah mereka jadi tidak sumpek dan nyaman. Ketika mendengar jawaban mereka, saya membayangkan keadaan rumah mereka yang tertutup dan sumpek, karena kehadiran AC di rumah bukannya malah membuat ventilasi yang ada harus tertutup? Saya mencoba membalikkan pertanyaan mereka, “ada yang tahu enggak kalau pakai AC rumah malah jadi sumpek ?” ujar Nevine. Tidak ada yang bisa menjawab, lalu saya bertanya lagi. “Di rumah ada jendela enggak ?” Kenapa kalau ada jendela udara tidak pengap. Ada yang tahu ?” saya terus berusaha menggali. Dan tetap tidak ada yang tahu. Akhirnya, saya menjelaskan pada mereka mengenai pentingya ventilasi bagi rumah dan bukanlah AC, bagaimana udara segar bisa masuk dan bagaiman sebisa mungkin mengurangi penggunaan AC.

Pikiran mereka sudah terkontaminasi dengan kehadiran AC. Bahwa ventilasi tidak terlalu dibutuhkan dan AC lah yang penting. Sungguh ironis menurut saya. Apabila kita analogikan, di generasi mereka sudah berpikir bahwa AC itu penting, sedangkan kita tahu bahwa dengan hadirnya AC akan terus menambah efek buruk dari pemanasan global, lalu apa yang akan terjadi 20 tahun ke depan? Bukankah bumi akan semakin rusak?? Hampir setengah jam mereka berdiskusi. Mereka mendiskusikan sejumlah isu besar menyangkut rumah impian, yaitu udara segar, cahaya, kebersihan dalam rumah dan sanitasi, serta lingkungan luar. Dan saya terus berupaya agar masing-masing anggota kelompok secara aktif mengungkapkan pemikiran-pemikirannya secara kritis sehingga muncul pikiran-pikiran kreatif untuk mewujudkan rumah impian mereka yang sehat dan nyaman. Jawaban yang mereka lontarkan, khas anak-anak yang spontan dan menarik. Dan menurut saya, justru itulah yang penting dari sebuah edukasi untuk anak-anak. Spontanitas, sehingga mereka tidak merasa bosan dan tanpa disadari, mereka mendapatkan pengetahuan yang sangat berguna bagi mereka nantinya. Dan juga, ketika spontanitas yang terucap oleh mereka berisi penuh makna adalah ukuran bagi saya, apakah workshop yang saya berikan berhasil atau tidak.

Setelah semua anggota memahami masalah-masalah yang terkait dengan rumah impian dan solusi-solusinya, mereka saya ajak membuat maket sebuah kompleks perumahan sesuai bahan diskusi. Berbeda dengan proses diskusi dan penggalian pemikiran yang cukup sulit dilakukan, proses pembuatan maket ini disambut dengan antusias. Kegaduhan yang muncul dalam proses diskusi berubah menjadi keasyikan mewujudkan rumah impian. Mereka tenggelam dalam aktivitas menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas-kertas tersebut.

Dengan bahan-bahan sederhana, para siswa menyusun rumah impian masing-masing diatas karton tebal dengan ukuran 40 X 60 sentimeter. Rumah-rumah itu terbuat dari kotak-kotak karton seukuran 5 X 10 cm dengan tinggi 5 cm. Siswa menggambar jendela-jendela dengan pulpen. Pohon-pohon dibuat dari kertas krep warna hijau atau daun-daun yang diambil dari halaman sekolah.

Dan akhirnya, jadilah sebuah maket kompleks perumahan. Rumah-rumah yang terbangun lengkap dengan ventilasi, pepohonan yang banyak di sekitar rumah-rumah mereka, saluran air yang bersih, tempat sampah di setiap rumah dan sedikit pemanis dengan adanya kolam dan taman. Saya takjub dengan kreativitas mereka. Mereka dapat merancang sebuah kompleks perumahan yang sehat dan nyaman, dari bahan-bahan seadanya. Sebuah proses perancangan arsitektur sederhana, sudah mereka jalankan.

Namun yang paling penting dari workshop ini menurut saya adalah, bukan apa yang mereka hasilkan, tapi bagaimana proses yang mereka jalankan. Dimulai dari suatu paradigma mengenai pikiran anak-anak yang sudah terdoktrin dengan sebuah pengertian mengenai rumah sehat, yang sesungguhnya sangat jauh dari pengertian rumah sehat yang sebenarnya. Hingga akhirnya, mereka mengerti bahwa apa yang selama ini mereka anggap benar adalah salah, dengan menghasilkan sebuah maket penuh imajinasi khas anak-anak, namun penuh makna mengenai pemahaman terhadap rumah sehat.

Akhirnya workshop pun selesai, segala kekawatiran saya di awal benar-benar terpatahkan. Mereka telah membuktikan bahwa mereka dapat diajak bekerjasama dalam workshop ini, dan juga bisa berarsitektur. Dari workshop ini, ada hal penting yang dapat saya petik, bahwa mereka, adalah generasi penerus, mereka bisa dan mereka mampu membuat keadaan lingkugan menjadi lebih baik di masa mendatang. Tugas kita sebagai yang sudah lebih dulu hadir adalah menghargai apa yang sudah mereka capai, dan hasilkan dengan tidak membatasi jiwa kreatif mereka dalam proses kontribusi mereka terhadap perbaikkan lingkungan di masa mendatang.

31
Dec
08

Sebuah Usaha Membangun Pemikiran

Education Care Unit (ECU) bergerak di bidang edukasi tentang lingkungan dan kreatifitas. Berbagai workshop ditujukan pada anak-anak SD. Edukasi yang diberikan bukan dalam bentuk ‘menyuapi’ namun lebih memfasilitasi dan mengeluarkan sisi kreatif, kritis, dan kepekaan anak-anak terhadap lingkungan. Workshop ‘Rumah Sehat’ yang saya ikuti memberikan banyak hal kepada saya. Awalnya saya berpikir ini sebatas memberikan pelajaran bagi anak-anak dengan cara yang menarik. Namun saya justru mendapat hal lain dari sekedar ‘memberi’ pelajaran.

Sangat menyenangkan berkegiatan bersama anak-anak yang sangat spontan dan memiliki imajinasi yang bervariasi. Menurut saya kegiatan seperti ini sangat baik bagi arsitek sendiri. Selama ini arsitek hanya berperan membangun lalu membiarkan publik mengisinya, suka tidak suka. Namun dengan melibatkan masyarakat, atau paling tidak mengetahui apa yang dirasakan masyarakat, arsitektur itu sendiri akan bermakna lebih dalam. Contohnya dengan kegiatan workshop ini, walaupun sasarannya anak-anak SD, namun ternyata banyak hal yang bisa didapat. Saya sangat ingat percakapan saya dengan salah seorang anak saat workshop.

Saya : “Biasanya kalau buang sampah dimana?”
Anak : “Buang sampahnya di UI kak!!”

Dari perkataan anak tersebut, saya tidak hanya melihat ketidakpedulian masyarakat terhadap sampah. Namun mungkin ada sedikit celah dalam proses design UI itu sendiri. Dengan banyaknya ‘ruang sisa’ pada UI, dan ketika ruang itu bersinggungan dengan masyarakat, mereka dengan mudahnya menggunakan ruang itu sebagai ‘tempat sampah’. Apakah dalam proses design UI masyarakat dilibatkan? Sehingga mereka tahu betul dan mengenal mana ruang yang boleh ‘dibajak’, mana yang tidak. Dalam proses design, terutama sebuah institusi yang mau tidak mau bersinggungan erat dengan masyarakat, seharusnya keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan. Keterlibatan disini paling tidak dapat memberikan gambaran kepada arsitek tentang bagaimana cara hidup masyarakat disekitarnya. Sehingga nantinya tidak akan ada persinggungan yang merugikan beberapa pihak.

Hal lain yang saya pelajari dari workshop ini adalah masalah anak-anak sebagai generasi penerus. Merekalah yang akan membangun negara ini nantinya. Menurut saya dengan adanya workshop seperti ini, akan sangat baik untuk membuild pemikiran anak-anak untuk mengarah ke sesuatu yang lebih baik. Kalau dianalogikan dengan proses membangun sebuah bangunan, menurut saya kegiatan seperti ini seperti tahap pembuatan fondasi. Pada tahap inilah kita membangun dan mengarahkan pemikiran anak-anak. Karena tahap SD adalah tahap awal dimana anak-anak mulai menerima ilmu dasar yang penting. Pikiran mereka belum diracuni dan mereka juga sangat peka terhadap lingkungan sekitar mereka. Sangat penting bagi kita untuk memberikan banyak pengetahuan mendasar pada tahap ini. Disini peran arsitek tidak hanya sekedar membangun beton dan baja saja, namun juga membangun sebuah pemikiran yang nantinya akan sangat berguna bagi kemajuan arsitektur itu sendiri.

Satu hal lagi yang menurut saya sangat penting. Selama saya belajar di bidang arsitektur, hal paling mendasar yang saya dapat adalah bahwa sesuatu itu harus dilihat dari prosesnya, bukan hanya sekedar hasil. Dan hal tersebut ternyata tidak diajarkan sejak dini kepada anak-anak SD. Bahkan seorang guru menanyakan masalah ‘nilai’ setelah workshop. Saya langsung bepikir, kenapa semua hal dikaitkan dengan nilai akhir. Toh yang penting adalah apa yang dipelajari anak-anak itu, bukan nilainya. Maka menurut saya dengan cara workshop seperti ini dapat memberikan pengertian yang mendasar kepada anak-anak tentang pentingnya sebuah proses. Karena saya rasa hal tersebut tidak mereka dapat dari sekolah mereka.

31
Dec
08

Architect is not a ‘GOD’ !!

Sebuah karya arsitektur yang dianggap baik saat ini, sering kali berpatokan terhadap sesuatu yang ideal, seperti contoh kecil ; sering kali orang beranggapan ruang tamu yang baik adalah ruang tamu yang kurang lebih menyerupai seperti gambar ruang tamu yang terpajang pada sebuah majalah interior, yang padahal pada kenyataannya bila gambar pada majalah itu direalisasikan di rumah kita belum tentu kita sebagai pemilik akan merasa nyaman dengan adanya ruang tersebut. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, Apakah kemudian sesuatu yang dianggap ideal itu ( terutama oleh kita sebagai perancang ) sudah pasti juga merupakan sesuatu yang benar – benar ideal dan cocok bagi orang lain ( orang yang menggunakan rancangan kita )?

Kita sebagai seorang perancang dengan segudang ‘ide-ide gila’, terkadang melupakan apakah ide-ide itu pada nantinya akan cocok bila dimasukkan ke dalam konteks yang ada? dan akhirnya tanpa disadari kita sudah merancang sebuah ‘utopia’ yang hampir keseluruhan hanyalah didasari oleh keegoisan kita sebagai perancang. Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya apakah kemudian hal ini memang begitu adanya atau ada sebuah sudut pandang lain yang dapat kita gunakan, sebagai perancang, dalam menuangkan ide-ide kita?

Sebuah cara lain saya temukan dalam workshop bersama Education Care Unit (workshop tentang rumah sehat dengan peserta adalah anak sekolah dasar), sebuah cara yang bisa dikatakan dapat mengubah presepsi yang ada selama ini mengenai perancang dan bagaimana cara kita merancang. Di dalam Workshop ini saya menemukan bagaimana keikutsertaan dari orang yang menempati rancangan kita menjadi sangat penting. Dalam workshop ini kita sebagai perancang tidak lagi berperan menjadi seorang dewa yang dapat memasukkan ide-ide apa saja yang kita inginkan, tetapi kita lebih berperan sebagai seorang fasilitator, yang lebih mendengarkan apa yang diinginkan dan dirasa cocok oleh klien dan juga membimbing, yang dalam hal ini adalah anak-anak sekolah dasar kelas 4 SD Guntur, Manggarai , sehingga kita tidak lagi dengan sesukanya memasukkan apa yang kita anggap ideal ke dalam rancangan tersebut.

Dalam workshop ini, kita sebagai fasilitator pertama-tama melakukan brain storming bersama dengan anak-anak sekolah dasar tentang seberapa banyak yang mereka ketahui tentang tempat tinggalnya masing-masing. Dari brain storming ini, kita juga membimbing mereka untuk mengeluarkan ide-ide tentang apa saja yang mereka ketahui tentang tempat tinggal yang sehat, yang ternyata hal ini sangat sulit dilakukan oleh anak-anak tersebut, yang mungkin disebabkan oleh kebiasaan pola belajar yang kebanyakan hanya ‘banyak menerima’ apa yang diberikan oleh guru. Setelah itu para siswa diminta untuk mengidentifikasikan ruang apa saja yang pada tempat tinggalnya yang dianggap sehat dan yang tidak serta mencari solusi dari permasalahan tentang sesuatu yang dianggap bermasalah dan bagaimana mencapai ruamah yang dikatakan sehat itu. Selanjutnya dilanjutkan dengan pembuatan model dari hasil diskusi dan brain storming yang telah dilakukan sebelumnya tentang rumah sehat. Dan pada akhir sesi dilakukan refleksi kembali tentang apa yang telah dilakukan selama kegiatan pada hari itu.

Beberapa hal menarik kemudian saya temukan dalam setiap tahapan pada kegiatan tersebut, seperti pada tahap awal, brain storming, dimana anak-anak sangat sulit untuk melakukan hal ini, dan bagaimana cara kita menarik atensi (perhatian) dari anak-anak tersebut pada tahap ini kemudian menjadi sangat penting dan sulit, karena tahap ini merupakan proses dimana kita berusaha untuk menyelami pikiran anak-anak tersebut dan mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang mereka, untuk dapat mengetahui apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentang hal yang dibicarakan. Pada proses selanjutnya, dalam perumusan solusi, saya menemukan bahwa setiap anak mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalah yang ada pada tempat tinggalnya masing-masing, yang kmudian hal ini menjadi bersifat sangat pribadi karena ujung-ujungnya menyangkut keadaan ekonomi dan sosial dari masing anak-anak, seperti contoh ada seorang anak yang ingin mepunyai sebuah ruang tamu yang cukup besar agar merasa nyaman dan mengatasi masalah pengudaraan, tetapi kemudian ada anak lain yang menyambar berkata sambil tertawa “ rumah dia soalnya ada warungnya ka jadi sempit !” dari hal ini apat diketahui bahwa keadaan tempat tinggal yang sekarang mempengaruhi pola pembuatan solusi dari masing-masing anak. Lalu pada tahap pembuatan model saya dapat melihat seberapa kreatif masing-masing anak tersebut dan sebegitu bangganya mereka terhadap karya yang mereka buat sendiri, yang jika dilihat oleh orang awam hanyalah setumpukan kotak-kotak kardus bekas dan kertas kertas krep yang tidak beraturan. Pada tahap ini tergambar juga seberapa besar rasa memiliki mereka terhadap karyanya itu. Dari hal ini dapat diketahui bahwa kemudian seberapa bagus sebuah karya menjadi tidak penting lagi, tetapi yang kemudian menjadi penting adalah seberapa besar rasa memiliki mereka terhadap karya meraka itu. Lalu pada tahap akhir, tahap refleksi, ditemukan bahwa anak-anak tersebut sangat sulit merefleksikan apa yang telah mereka kerjakan.

Akhirnya, dari workshop bersama Education Care Unit ini, saya menemukan sebuah presepsi lain tentang bagaimana cara kita, sebagai perancang, merancang untuk orang lain. Tidak lagi berpikir dengan cara ‘dewa’ tetapi berpikir dengan mengikutsertakan orang yang nantinya akan menggunakan rancangan kita, dalam proses design, sehingga karya kita tidaklah menjadi ‘alien’ bagi mereka tetapi menjadi ‘bagian’ yang berguna, cocok, dan sesuai bagi kehidupan mereka, karena apa yang kita anggap baik selama ini belum tentu benar-benar merupakan hal yang baik juga bagi orang lain. Kendati demikian, kita sebagai perancang juga tetap harus memasukkan ide kita ke dalam rancangan dan tetap memasukan partisipasi dari masyarakat, yang berarti kita harus berpikir secara terbuka.

31
Dec
08

Aceh, suatu perjalanan, suatu pembelajaran

26 Desember 2008, 4 tahun peringatan tsunami Aceh. Sebuah berita yang belum lama ini saya lihat pada layar kaca. Melihat hal ini saya menjadi teringat akan perjalanan saya ke Aceh Februari silam. Melihat langsung lokasi bencana, melihat budaya masyarakat, melihat perkembangan rekonstruksi Aceh, bahkan merasakan langsung gempa pada lokasi kejadian tsunami [cukup menyeramkan, namun hal ini masih cukup sering terjadi].

4 tahun lalu, terjadi bencana dahsyat yang meluluh-lantakan Aceh. Bencana yang membuat seluruh warga Aceh tak mungkin bisa melupakan kejadian ini. Suatu masa sulit yang harus mereka jalani, bahkan mungkin suatu trauma yang mendalam. Bencana yang merusak fisik dan mental. Memakan korban jiwa dan materil. Mungkin saya tak perlu panjang lebar untuk menyatakan kejadian yang terjadi, saya berkeyakinan bahwa pembaca telah mengetahui bencana yang terjadi.

Ketika itu saya mendapat kesempatan untuk melihat langsung rumah-rumah yang rusak karena tsunami. Hadir pada suatu kawasan yang sangat sepi, kawasan berisikan rumah-rumah yang rusak hingga pondasinya hilang karena tsunami. Kawasan yang tadinya kata warga sekitar adalah kawasan yang ramai. Dan melihat pembangunan rumah-rumah bantuan bagi warga Aceh.

Hal menarik disini saya temukan, banyak rumah telah selesai dibangun namun tak ada warga yang menempati, padahal diberita masih ada warga yang belum mendapat rumah bantuan. Kenyataan yang terjadi adalah warga Aceh menolak rumah bantuan ini karena rumah bantuan dinilai menodai kebudayaan warga Aceh. Kenyataan ini saya dapat dari kepala RT setempat, ia mengatakan bahwa warga Aceh memiliki budaya, dan pada rumah Aceh kamar mandi harus diletakan di luar, namun pada rumah bantuan kamar mandi terletak di dalam. Masalah yang mungkin terkadang kita anggap sepele, namun berakibat besar. Sebuah penolakan, penolakan yang tak biasa, menolak bantuan disaat membutuhkan. Namun hal ini lah yang terjadi.

Disini saya melihat, warga Aceh ketika itu memang mendesak untuk dibantu. Namun apakah keterburu-buruan itu sampai pada menghilangkan everydayness warga Aceh. Partisipasi, mungkin kata ini yang bisa menjadi jawaban, namun tidak semudah itu. Telah ada suatu usaha untuk mengajak warga Aceh berpartisipasi dalam pembangunan yaitu dengan mempekerjakan mereka dalam pembangunan rumah. Namun hal ini juga tidak berhasil. Warga Aceh adalah warga yang berharga diri tinggi dan gemar menghabiskan waktu di warung kopi, mereka merasa terhina hanya dijadikan pekerja, mereka ingin sesuatu yang lebih. Karena itu jangan heran ketika anda kesana maka para pekerjanya adalah orang sunda dan orang jawa.

Disini saya mempelajari bahwa everyday itu bukan saja pada suatu pola yang nampak, bukan hanya pada suatu susunan ruang. Namuna ada sesuatu yang lebih dari itu, suatu yang tak nampak, suatu yang mendasari pikiran kita yang tersembunyi dan dapat kita telusuri dengan melibatkan mereka pada partisipasi yang lebih jauh dan mendalam lagi.

31
Dec
08

Learning by doing or learning by theory?

Dimulai ketika saya ikut dalam kegiatan workshop di SDN 03 guntur yang terletak di sekitar jalan halimun, Jakarta 5.12.2008.

Kebanyakan dari kita lebih cepat menangkap makna atau pemahaman dari apa yang kita alami,rasakan,sentuh, lihat, dengar kesemua pengalaman itu baik dalam suatu ruang ataupun dalam perjalanan.

Ketika kita merasa bosan saat membaca dan memilih alternative lain untuk mengalihkan pikiran kita yang penat jenis kegiatan yang ringan akan kembali menyegarkan pikiran kita dengan melakukan kegiatan yang simple atau ordinary dimana kegiatan ini memang sudah menjadi keseharian kita.

Didalam workshop ini dimana anak-anak sekolah dasar yang berumur antara 9-10th. Dalam masa pertumbuhan mereka dimana memang lebih mementingkan bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya mereka learn by doing akan lebih mengasikkan dan menyerap untuk mereka.

Begitu juga peran kita arsitek[mahasiswa arsitektur] kita memahami ruang, bagaimana merasakan kenyamanan, memenuhi kebutuhan semua ini didapat dari realita yang kita hadapi ketika akan berpraktisi bagaimana alam dan masyarakat mempengaruhi semuannya. Kebutuhan mereka dan penyesuaian terhadap alam.

Profesi ini [arsitek] memiliki kemiripan dalam beberapa hal dengan anak-anak yang memang mengerti ketika mereka melakukan.

Tidak berarti dengan membaca kita tidak mengerti pemahaman yang dimaksud. Teori timbul buah dari pemikiran manusia. Tetapi tidakkan timbul begitu saja ketika kita tidak berusaha untu memahami dan merasakan pengalaman tersebut.

Contohnnya ketika gigi kita bolong pada semasa anak-anak tentunya anak-anak ini tidak akan menyadari sampai mereka merasakan sakit. Setelah itu anak-anak akan mulai mengerti akan kebersihan gigi dan menjadikan kebiasaan setelah mereka beranjak usia.

Jika kita kembalikan ke workshop tentang rumah sehat yang diadakan di sdn03 guntur inilah yang dicoba ditanamkan pada pemahaman yang ada pada anak-anak tersebut.

Ketika mereka dihadapkan pada teori yang memaksa untuk menuangkan pemahaman mereka kedalam tulisan beberapa dari mereka sulit menterjemah dalam suatu paragraph ataupun cerita singkat. Mungkin dikarenakan mereka sulit untuk memfisualisasikan hanya dalam pikiran mereka.

Tanpa pengalaman ruang anak-anak ini akan sulit untuk mengetahui apa yang membuat mereka nyaman seperti katak dalam tempurung mereka hanya menjelaskan apa yang mereka lihat dan kebiasaan yang ada dilingkungan mereka contoh terdekat adalah kamar didalam rumah mereka.

Ketika ditanyakan apa yang membuat mereka nyaman jawabannya adalah ac, udara yang dikeluarkan dari ac lah yang membuat mereka nyaman tetapi mereka tidak mengerti bahwa secara teori menggunakan teknologi yang merusak lingkungan maka akan membahayakan mereka dikehidupan mendatang.

Disini teori berperan memberikan peringkatan secara verbal. Tetapi teori ini tidak akan timbul jika tidak ada sebab akibat oleh karena itulah pehaman dilakukan tidak hanya diberikan lewat kata-kata tetapi lewat tindakkan yang berbuah pemahaman.

Konsep dan pemahan pemikiran yang berusaha di kembangkan dikegiatan ini. Ketika mereka mulai menerapkan teori yang telah didapat dalam sebuah bentuk ketertarikan dan semangat mereka mulai bermunculan.

Warna, tekstur, efek yang ditimbulkan membawa efek psikologis terhadap kita sebagai pengguna ruang juga lingkungan.

Sehingga dari teori yang sudah kita dapatkan sebagai dasar tentunnya akan membawa perubahan pola masyarakat.sehingga jika suatu pemahaman dilakukan sendiri maka akan menambah dan bukan hal yang tidak mungkin berkembang kearah yang lain.

Sehingga teori dan praktek berkembang sesuai dengan kebutuhan dan perubahan zaman. Tergantung dari respon masyrakat tentang kepedulian mereka pada habitat mereka.

Pemahaman memang penting ditanamkan sedari kecil tetapi kesadaran akan sebabakibat yang ditimbulkan akan berpengaruh atas kelangsungan hidup.

31
Dec
08

Partisipasi Masyarakat dalam Kehidupan Majemuk

Indonesia sebagai masyarakat yang majemuk, masyarakat yang memiliki berbagai macam latar belakang dan kebudayaan. Dengan berbagai kebudayaan ini mampukah tiap masyarakat untuk berpartisipasi, bagaimana ketika kemajemukan ini dipertemukan dengan suatu kepentingan pengembangan tertentu? Kemajemukan adalah identitas bangsa kita, dan itu adalah sesuatu yang harus dibanggakan selain sekedar dipertahankan saja. Karena itu partisipasi menjadi penting untuk hadir dalam masyarakat yang majemuk agar setiap masyarakat mendapat porsi yang sama, tanpa suatu generalisasi yang akhirnya mengikis kemajemukan dan identitas kita sendiri.

Saya teringat akan adanya tingkatan dalam partisipasi, yang terendah adalah masyarakat hanya diberitahu tanpa adanya suatu kerjasama. Dan inilah gambaran masyarakat kita, pemberitahuan tanpa suatu penjelasan, tanpa adanya kesempatan untuk suatu timbal balik. Dan bahaya dari hanya memberi-tahu ini adalah suatu tindakan mengambil keputusan yang diperoleh hanya dari suatu pihak tanpa menyadari bahwa keputusannya itu punya akibat bagi masyarakat yang lain, sebagai akibat dari kehidupan masyarakat yang mejemuk. Suatu keputusan yang diambil sendiri hanya mampu memenuhi keperluan suatu pihak saja, menyederhanakan masalah, mengenerlisasi kemajemukan kita sendiri. Bahayanya adalah lama-kelamaan kemajemukan kita akan hilang karena suatu tindakan penyederhanan masalah.

Namun pertanyaan selanjutnya adalah seberapa siapkah masyarakat kita untuk berpartisipasi? Ketika partisipasi itu hadir dalam kemajemukan, maka berbagai kepentingan dan pengetahuan akan saling beradu. Partisipasi membutuhkan suatu modal, perlu ada value yang mereka punya dan mereka bisa bawa ke dalam masyarakat. Salah satu modal ini adalah pendidikan. Namun membicarakan fakta pendidikan Indonesia mungkin saya tidak bisa berkata banyak selain perlu banyak peningkatan disana-sini. Hal inilah yang dilihat oleh ECU (education care unit).

Pengetahuan adalah value yang bisa kita bawa dalam partisipasi. Sehingga partisipasi itu dapat berkembang dengan banyaknya pengetahuan atau value yang masyarakat miliki. Semakin banyak pengetahuan yang terlibat maka akan semakin banyak pertimbangan dan pihak pengambil keputusan dapat sadar bahwa kepentingannya itu berdampak pada banyak pihak. Sehingga dengan adanya modal yang masyarakat punya maka masyarakat menjadi lebih tanggap akan permaslahan yang ada, masyarakat sudah mengerti akan issue-isue yang terjadi diseputar permasalahan itu. Bukan seperti tingkat partisipasi pemberitahuan dimana karena masyarakat tidak mengerti maka pembuat keputusan juga tidak mendapatkan timbal-balik dari masyarakat karena masyarakat tidak tahu ada suatu maslah yang terjadi.

Namun ada hal yang lebih penting dari pada sekedar ilmu pengetahuan, itu adalah sikap kritis yang ditanamkan. Sikap kritis adalah modal dasar yang paling penting dalam partisipasi masyarakat yang majemuk, dan saya melihat ECU juga bergerak dari hal ini. ECU bergerak dengan membawa anak-anak untuk berdiskusi dan memikirkan penyebab-penyebab dari suatu masalah dengan sikap kritis. Adanya sikap kritis membuat semua pihak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, adanya sikap untuk selalu mempertanyakan sesuatu dan ketika adanya suatu keputusan maka masyarakat siap memberi timbal-balik. Dengan adanya sikap kritis maka masyarakat akan sadar ketika keputusan itu adalah keputusan yang mengeneralisasi dan menghilangkan kemajemukan mereka, sikap kritis itu yang akan bertindak. Sikap kritis yang membuat partisipasi itu lebih berkembang, karena ketika semua orang bersikap kritis maka tidak ada pihak yang lebih berdiri sendiri dan menghilangkan kepentingan yang lain.

Maka dalam masyarakat yang majemuk, dengan adanya sikap kritis dan value yang dibawa partisipasi dapat terjadi dan akan ada suatu keputusan yang bisa diambil dengan melihat masalah itu lebih luas dan merata pada semua pihak. Sehingga identitas bangsa ini tidak hilang karena masyarakatnya sendiri yang tidak siap untuk berpartisipasi.