60 menit yang lalu, Saya masih berdiri di dalam kerumunan yang sudah seperti lautan orang dalam sebuah pertunjukan band yang di impor dari Amerika yang diadakan di Tenis Indoor Senayan yang rutin disulap menjadi tempat pentas musisi.
3 hari yang lalu, Tiba-tiba blackberry saya bergetar dan terlihat ada pesan dari teman lewat, yang isinya mengajak nonton konser band tersebut, dengan memilih penonton area festival
2 tahun yang lalu, Terakhir kalinya saya datang ke sebuah pertunjukan live musik yang besar sebelum konser tadi malam, perasaaan yang sama kembali terjadi, tapi masih buyar dalam bayangan dalam otak
Ternyata ada sebuah detil yang masih saya ingat dan sama seperti konser sebelumnya.

Pertama yang terfikir adalah mengapa memilih area festival? Karena konser sebelumnya pun saya berada di area penonton itu
Mungkin kalau di Tribune penglihatannya tidak terlalu baik karena berada di samping kiri dan kanan dari panggung sehingga saat menonton bisa terkena keram karna melihat ke satu arah dalam waktu yang lama, dan kalau VIP walau berhadapan langsung dengan muka musisinya namun dia berada terlalu jauh sehingga tidak telihat fokus dan tidak bisa dekat dengan panggung, walau sebenarnya dia bsa melihat keseluruhan panggung karena letaknya diatas, namun harga tiketnya tidak terlalu pas.
Sehingga dengan alasan tiket murah, dekat dengan panggung, arah pandangnya tidak terlalu statis, dan bisa berdiri dengan berdekatan dengan penonton yang lain agar lebih terasa suasana konsernya.
Terjawab Mengapa kami memilih penonton area Festival, masih sama seperti 2 tahun yang lalu.
Urutan lagu? Ya ternyata saya masih ingat bagaimana seorang musisi menempatkan urutan lagunya saat konser, urutannya dari awal adalah lagu hits pembuka– 3 lagu pengisi – 1 lagu hits – 1 lagu pengisi – 2 lagu hits penutup, ya kurang lebih seperti lagu andalan banyak yang ditaruh dibelakang sehingga apa yang ditunggu para penontonnya menjadi klimaks diakhir acara dan bisa jadi penutupan yang berkesan
Hal klimaks itulah yang saya tunggu kalau datang ke sebuah pertunjukan, karena umumnya saya hanya mengingat beberapa lagu andalan jadi hanya itu yang bisa saya nikmati, diawal sampai 3 lagu pengisi, penontonnya masih santai mendengarkan dan tidak terlalu histeris, penglihatan kepanggung masih jelas, tidak mengikuti lirik terlalu jelas karena ketidakfamiliaran dengan lagu pengisinya. Kedua layar besar yang diletakkan di kiri-kanan masih kurang dibutuhkan karena tidak ada yang melihat kearah situ kecuali kamera sedang merekam profil saat mereka memainkan instrumen.
Masuk ke lagu hits pertengahan acara sudah mulai terlihat kehisterisan dan kenorakan seorang pengemar, sedikit menggangu karena banyak yang melambai-lambai tangan keatas, mulai mengeluarkan gadget untuk merekam yang merusak pandangan karna tertutupi di area festival yang harus saling berbagi dan akur dengan sesama penonton. Ekspresi yang mulai sober terlihat diraut penontonnya.
Dimenit terakhir barulah hal yang familiar terdengar, dimenit yang hanya saya hapal lirik lagunya, dimenit yang harusnya menjadi momen musikal, dimenit klimaks ini, terdengar suara cempreng wanita histeris dari sebelah kiri yang jogged tidak karuan sambil asik sesekali menginjak kaki saya, terlihat kamera digital dan iphone saling berlomba menutupi pandangan, terlihat hanya tangan melambai-lambai mengisi suasana, yang terlihat hanyalah suasana panggung yang terlihat dari kedua layar lebar yang berada di samping kiri dan kanan panggung yang warnanya tidak tersaturasi dengan baik namun akhirnya ada kegunaannya, walau terlihat seperti pertunjukan live yang disaksikan di layar kaca rumah. Ternyata ini yang sama dirasakan, seperti 2 tahun lalu menonton pertunjukan musik, hal detil ini, dimana pemilihan area menonton itu ternyata sangatlah penting dan menentukan kesan dan pengalaman apa yang didapat dari sebuah pengalaman musikalitas.
comments